Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-14


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry pulang terlambat, dengan penampilan yang tak lagi rapi, wajahnya kusut terlebih lagi penampilannya. Arga sudah mengetahui hal itu dari sekertaris Henry di kantor. Hal ini juga membuat Arga harus lebih teliti dan berhati-hati.


Adel sudah menunggunya, saat mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman mansion mewah yang dia tempati.


"Sayang, kau belum tidur?" Henry berusaha tersenyum, dia tak ingin Adel khawatir dengannya.


"Bagaimana aku tidur? kau saja baru sampai dirumah." ucap Adel meraih tas kerja Henry.


"Istriku sayang, baru satu hari tak berjumpa, rupanya kau sudah sangat merindukanku." Henry memeluk pinggang Adel posesif.


"Hah, terserah kau saja." Adel tak ingin berdebat dengan Henry, terlebih dia pasti lelah setelah bekerja seharian.


Mereka berjalan beriringan menuju kamar Henry. El sudah tertidur dikamarnya bersama Wulan. Tetapi Adel tetap menemaninya hingga terlelap.


"Dimana El?" tanya Henry saat melihat ranjang kosong.


"Sudah tidur, lebih baik mandi dulu, apa kau sudah makan?" Adel sudah menyiapkan air hangat, untuk merileks kan tubuh Henry yang lelah.


Henry menggeleng pelan, dia menuruti Adel, karena badannya terasa lengket dan kaku dengan rutinitas seharian ini. "Baiklah, aku akan membuatkan mu makanan spesial." Adel berlalu ke dapur.


Henry masih menyukai masakan Western ala rumahan, seperti yang sering Ama buatkan dulu. Hari ini Adel belajar banyak dari Ama, tentang makanan yang di sukai Henry, dia juga belajar membuatnya sendiri dengan resep yang di berikan Ama.


"Akhirnya selesai juga." Adel menata makanan dalam nampan, sebuah tangan melingkar dari belakangnya, membuatnya menoleh. Saat itu juga Henry mendekatkan wajahnya, sehingga bibir Adel mendarat di pipi kanannya.


Wajah Adel merona, bagaimanapun, Adel masih belum terbiasa berduaan dengan suaminya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Adel setelah mereka saling berhadapan.


Henry menjawab pertanyaan Adel dengan pertanyaan. "Apa yang kau masak? hmm... Aku tak sabar untuk mencicipinya."


Aroma sup yang dibuat Adel menggugah selera makan Henry, terlebih cuaca diluar hujan. Adel memasak sup, Caldo verde ialah sup terbuat dari kentang, kale, dan sosis yang dimasak dengan bawang, garam, lada, dan minyak zaitun. Cukup mudah membuatnya, dan tak membutuhkan waktu yang lama.

__ADS_1


Adel menemani Henry makan, dia menopang dagunya memperhatikan Henry yang makan dengan lahap dihadapannya. Adel menyunggingkan senyumnya, Henry bukanlah orang yang memilih makanan. Meskipun bukan makanan kesukaanya, selama itu enak dan layak dimakan pasti dilahapnya.


"Aku kenyang." Henry mengelus perutnya yang penuh berisi makanan. Setelahnya mereka berdua kembali ke kamar.


"Terima kasih Mami." Henry mengecup pipi Adel. Henry sangat bahagia dengan semua perlakuan Adel, dia mengurus semua keperluan dan kebutuhannya dengan baik. Meskipun ada El yang juga harus diperhatikan.


"Untuk?" Adel merasa tak suka dengan henry yang sering berterima kasih padanya.


"Untuk semuanya." Henry membawa Adel dalam dekapannya. Adel bisa mendengar detak jantung Henry, membuat jantungnya ikut berpacu.


"Aku tak mau kau terus berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku." Adel tersenyum, mendongakkan kepalanya, sehingga mata mereka saling beradu.


"Aku sangat bersyukur bisa bertemu wanita seperti mu, bahkan ini pertama kalinya aku benar-benar merasakan kehangatan sebuah keluarga. Memiliki istri yang begitu perhatian, dan ibu yang sangat menyayangi putraku." Henry berkaca-kaca, kala dia harus mengingat kenangan pahit yang telah dia kubur selama ini.


Adel meletakkan telunjuknya dibibirHenry. "Sstttt, kau tak perlu mengatakan apapun, itulah mengapa aku tak pernah bercerita ataupun bertanya tentang masalalu. Semuanya sudah berlalu, yang terpenting sekarang adalah kita. Aku, kamu dan El."


Henry kehabisan kata-kata, dia tak salah menikahi Adel. Wanita yang begitu bijaksana, dia bisa berfikir lebih jauh darinya. Henry mengecup jemari Adel. "Love you Sayang."


Adel kembali tersipu, Henry secara terang-terangan mengungkapkan rasa cintanya. "Aku sangat berharap tak pernah melewatkan waktu ku bersama mu, tanpa kebahagiaan." Henry mengecup seluruh wajah Adel. Tak cukup sampai disana. Dia melahap bibir Adel dengan rakus.


Melihat Adel, membuat Henry terasa nyaman, dan sedikit mengurangi beban yang dia tanggung. Karena demi Adel dan El, dia harus berjuang, bekerja keras agar usahanya tetap kokoh berdiri.


Adel membelai rahang kokoh Henry. "Aku terserah padamu, lagi pula kau yang menginginkan bulan madu."


"Sayang, kita perlu quality time, hanya berdua, aku dan kamu, tanpa si bocah gembul." Henry sedikit kesal setiap kali El mengganggu kesenangannya. Adel hanya terkekeh, Henry cemburu dengan putranya sendiri, anak balita yang selalu menempel padanya.


Henry kembali melancarkan aksinya, namun Adel menahannya. "Dad, kau jangan lupa tamu ku."


Henry membanting tubuhnya disebelah Adel. "Berapa lama lagi aku harus menunggu?"


"Mungkin 4 atau 5 hari lagi." Henry menjambak rambutnya sendiri.


"Ya sudah tidurlah!" Henry merapatkan tubuhnya pada Adel.


"Dad."

__ADS_1


"Hmmm. Jangan banyak bergerak." Adel hanya menurut, tak lama Adel terlelap dalam hangatnya pelukan suami.


Henry melepaskan Adel perlahan, dia harus menemui Arga sekarang juga, untuk membahas langkah selanjutnya. Dia mengendap-endap seperti maling.


"Aaaaaaa ada malinggggg..." Wulan berteriak, dia baru saja keluar dari dapur, saat mendapati Henry yang menyelinap masuk ke kamar Arga. Dia memang menginap di kamar yang biasa ditempati. Henry sudah memberitahunya untuk menunggu di rumah, dia tahu Arga pasti lelah setelah perjalanan jauh.


Penerangan sedikit buram, karena lampu sudah dimatikan, hanya tersisa beberapa lampu dinding yang menyala.


"Dimana?" tanya Henry berbalik badan.


Wulan meraih kemonceng yang menggantung didekat tangga, tak menunggu lagi, Wulan memukul Henry bertubi-tubi. "Aaaaaaa, ampun, aku bukan maling." Henry mengaduh, mendaoat serangan dari Wulan.


Suara bising membuat Arga keluar dari kamarnya. "Ada apa sih ribut-ribut?" Arga belum tertidur karena sedang mempelajari dokumen yang dikirim Henry padanya.


"Ada maling tuh." Wulan menunjuk Henry yang berjongkok, melindungi tubuhnya sendiri.


"Mana ada maling disini?" Arga menyalakan lampu, sehingga terlihat dengan jelas maling baru saja dia pukuli.


"Ada tuh." Wulan kembali menunjuk Henry, namun tatapannya mengarah pada Arga. Arga menepuk keningnya sendiri, tangannya terulur, membantu Wulan menengok pada Henry yang sudah berdiri disampingnya.


"Loh, kenapa jadi Tuan Henry?" tanya Wulan tanpa dosa.


"Sudah puas pukulnya? Mau pukul lagi?" Henry berkacak pinggang, sial sekali dia hari ini. Masalah dikantor, harus puasa dengan Adel, sekarang dikira maling. Hahaha... sabar ya Daddy.


"Hehehe... Maaf Tuan, habisnya tadi Anda mengendap-endap dalam kegelapan." Wulan mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Bergidik dengan tatapan Henry yang begitu menusuk.


"Sudah-sudah, kamu balik ke kamar, nanti El mencari mu." Arga menengahi mereka berdua.


"Awas saja kamu Wulan." Henry mengepalkan tangannya. Karena Wulan sudah pergi, Arga yang jadi mangsanya.


Henry menonyor Arga, "kamu membelanya, atau kamu benar-benar jatuh hati padanya?" Henry menghimpit Arga dengan sebelah tangannya. Menyeretnya masuk ke kamar yang ditempati Arga.


"Ng-nggak, mana ada?" Arga sedikit tergagap. Membuat Henry semakin bersemangat untuk meledeknya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2