Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-76


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry menepati janjinya, sebelum mengantar El ke sekolah. Ia mengajak El untuk melihat pusara sang mommy yang telah melahirkannya. Menggenggam tangan mungil El, ia terus melangkah sampai pada gundukan tanah yang bertuliskan nama Metta di atas batu nisan.


El hanya menatap datar Daddy dan nisan bergantian, ia masih terlalu kecil untuk mengerti. El hanya mengikuti apa yang Daddynya lakukan, tanpa banyak bertanya. Yang ia tahu bahwa yang terbaring di dalamnya adalah mommy kandungnya. Begitu yang Adel ajarkan padanya.


Apa Kau merindukan El? Aku sudah membawanya untuk menjenguk mu. Kuharap Kau merestui Aku dan El untuk tetap bersama Mami Adel dan Baby yang masih dalam kandungannya. Aku juga berharap Kau sudah bahagia disana melihat putra kita tumbuh dengan sangat baik.


Itu semua karena kerja keras Adel, ia selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang. Izinkan Kami untuk selalu bersama melewati setiap detik, setiap menit, setiap saat di kehidupan Kami.


Henry hanya bisa membatin, menatap nanar pada El disampingnya. Mengusap pucuk kepala El dan mengecupnya. "El, sayang. Sapa Mommy."


Menatap Daddy sekilas, entah apa yang harus diucapkan. El mengangkat tangannya. "Hai Mom, ini El. Kata Mami, El harus banyak berdoa untuk kebahagiaan Mom di surga sana."


"Aku pergi dulu, lain kali Aku pasti akan memjengukmu disini." Henry menopang tubuh El dengan sebelah tangannya. Melangkah dengan hati-hati. Melirik El, bocah itu tak henti menatap tempat peristirahatan terakhir. Wanita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kehidupan baru. Hidup putra tercinta.


Melambaikan tangannya, Henry hanya menatap punggung El yang mulai menjauh. Dari balik kaca mobil yang mulai tertutup sebagian. Henry menatap nanar pada sang putra yang mulai tumbuh dan aktif dalam berbagai hal. Rasa takutnya kembali menyeruak, ia takut. Takut jika ia akan kembali merasakan kehilangan.


Apakah Aku terlalu serakah? Tetapi semua kekayaan dan kemewahan yang Ku dapatkan, tak akan berarti jika hidupku hampa dan kesepian seperti sebelumnya.


Panggilan sang sopir menyadarkan Henry akan lamunannya. Rasanya dunia berputar begitu cepat, baru kemarin ia mengecap manisnya kebahagiaan. Dan semuanya seakan terasa begitu singkat. "Tuan, kita sudah sampai."


"Ah ya, jangan lupa jemput El."


"Baik, Tuan."


Henry memasuki bangunan pencakar langit hasil jerih payahnya. Arga sudah menantinya. Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan yang tiada habisnya.


...----------------...


Pulang dari sekolah, El langsung berlari ke kamarnya, tanpa menyapa Mami dan Oma. Sisi berusaha mengejar El. Adel mencegahnya. "Biar Aku saja Ncus istirahat aja."


"Mom ikut." Nyonya Amel menyusul menantunya ke kamar El. Bocah itu sedang menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Tubuhnya bergetar seiring isakan yang berirama dengan getaran tubuhnya.


Adel duduk disamping ranjang. Mengusap bahu El yang masih bergetar, namun isakan semakin tak terdengar. "El, jagoan Mami kenapa?" Hening. El tak juga menjawab atau merespon Adel.


Nyonya Amel melirik Sisi yang mengikuti mereka. Menunjuk dengan dagunya. Apa yang terjadi? Begitulah kiranya maksud lirikannya.

__ADS_1


"Ada masalah di sekolah. Tadi Tuan Kecil berantam dengan teman sekelasnya." Guru di kelasnya mengatakan anak itu mengolok El.


Adel mendekati Sisi, dia perlu tahu permasalahan apa yang membuat El sampai seperti ini.


Flash Back On


"Hei anak Mami, kemana Mami yang selalu Kamu banggakan itu?" ejek anak itu.


"Iya, sekarang hanya di antar Ncuss. Uh kasihan." ucap anak bertubuh bulat.


"Pasti dia sekarang sedang sedih. Apalagi kan dia mau punya adik bayi. Pasti Maminya gak akan pedulikan dia lagi. Hahaha..." Diikuti gelak tawa dua teman lainnya.


"Dasar anak Mami, dikit-dikit Mami. Huh, lembek." El sedari tadi hanya diam. Dia sudah biasa jika teman-temannya mengoloknya. Tetapi ia sangat marah ketika Mami nya ikut dibawa-bawa. El menarik baju si gendut. Menyiramnya dengan susu kotak bekalnya.


"Haish, anak Mami bisa marah juga ya." si gendut membalas El. Perkelahian tak terhindarkan.


"Kalian ini beraninya menindas orang lain? Aku laporkan Bu Guru." seorang gadis kecil membantu El yang terjatuh. Basah kuyup tubuhnya. El menatap nyalang si gendut dan antek-anteknya.


"Hahaha... Anak Mami, gak tau malu. Beraninya berlindung di belakang seorang cewe." Si Gendut tersenyum mengejek.


"Heh, anak baru. Jangan sok jadi pahlawan. Dia ini hanya anak Mami yang lembek. Hahaha..."


El maju, hendak membalas perbuatan mereka. Tetapi ditahan. "Gak perlu, jangan dengarkan mereka." Gadis kecil itu menarik El pergi dari sana. Semua terlambat, seorang guru melintas. Wali kelas mereka.


"Trio bulat itu yang mengganggu Kami." tunjuk gadis kecil.


"Hei, kalian yang duluan."


"Sudah, cukup. Kalian ikut keruangan Ibu. Sebelumnya kalian ganti baju kalian terlebih dulu." Wali kelas El memberikan baju ganti El dan si gendut. Mengunggu di ruangannya, Sisi dan Ibu dari Si Gendut sudah ada diruangan Wali Kelas mereka.


Wali kelas menjelaskan perihal kejadian El dan Si Gendut. Sisi meminta menghubungi Daddy El, tetapi Wali Kelas El mencegahnya. Jika hal ini tersebar, mungkin donatur tetap di sekolah ini akan menghilang selamanya.


Sebisa mungkin mereka menutupi identitas El sebagai putra dari pemilik yayasan. Henry sendiri yang memintanya. Tetapi pihak sekolah juga tak tinggal diam, mereka menerapkan sanksi tegas untuk trio bulat.


"Hei, tunggu." El menghentikan langkah si gadis penyelamatnya.


"Apa lagi?"


"Terima kasih. Tadi sudah bantu Aku."

__ADS_1


"Hmm, Kau ini sebagai anak laki-laki. Seharusnya bersikap tegas, jangan lembek seperti jeli." tunjuknya didada El. El sedikit terhuyung. Meski anak perempuan, tenaganya cukup kuat. Dan tak mudah diintimidasi.


"Ya, Aku akan belajar. El." Mengulurkan tangannya. Gadis itu menepis tangan El, berlari keluar meninggalkan El yang masih mematung di tempatnya.


"Temui Aku lagi, kalau Kau punya nyali." Gadis itu berbalik badan, mengedipkan sebelah matanya dan kembali melanjutkan langkahnya.


Aku akan segera menemui mu gadis kecil.


Flash Back Off


"Jadi, anak Mami kenapa menangis?" El menepis tangan Adel, mengerucutkan bibirnya. Selama ini dia selalu dimanjakan dikeluarga ini.


"Bukan anak Mami."


Deggg...


Bagaikan sayatan, Adel tak dapat menahan sakit atas ucapan El. Hormon kehamilan membuatnya lebih sensitif. Adel berusaha menepisnya, El masih sangat kecil. Hanya emosi sesaat.


"El, cucu Oma." Nyonya Amel hendak menyentuhnya, lagi-lagi El menepisnya.


"El bukan anak kecil. El gak mau jadi anak Mami."


Adel tak kuasa menahan air matanya, apakah El membencinya?


"Terus mau jadi anak siapa?" Nyonya Amel duduk disamping El.


"El sudah jadi Kakak, mereka menertawakan El. Mereka bilang El gak akan di sayang lagi. Nanti ada adik bayi." Adel segera menepis buliran bening di sudut matanya. Ia sudah salah sangka. El hanya tak ingin terlihat manja di depan teman-teman sekolahnya.


"Itu gak benar sayang. Mami akan tetap sayang El, Mami masih jadi Mami untuk El. Dan juga untuk adik bayi. Kalau El malu, Mami gak akan cium El di depan umum lagi." Adel menarik sudut bibirnya keatas.


"Kita semua sayang El. Meski sudah ada adik bayi." tambah Nyonya Amel. "Nah, Kakak El kan jagoan. Jadi gak boleh nangis lagi. Nanti ditertawakan adik bayi." Ia mengusap jejak air mata diwajah El.


"Emmmppp.. El mau jadi jagoan. Gak mau nagis lagi. El mau jadi Kakak. Sayang adik bayi." El memeluk Mami Adel dari samping, tak lupa mengecup perut buncit sang Mami. Adik bayimerespon ucapan El. Pergerakan seperti gelombang air. El tertawa senang mendapat respon dari adik bayinya.


"Nah, jangan sedih. Anak laki-laki harus tangguh. Jangan memangis." Nyonya Amel mengacak rambut El.


"Oma, El jagoan. Jangan ucap lagi. Hmmm.." El menatap galak Oma.


Nyonya Amel dan Adel tertawa melihat wajah garang yang El tunjukan. Sisi menyiapkan makan siang untuk El di dapur. Ia merasa lega karena Tuan Kecilnya bisa tertawa lagi.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2