Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-18


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote, supaya authornya lebiha semangat ngetik.


Happy Reading


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hari ini Adel dan Wulan sibuk di dapur, tak lupa si bocah gembul turut serta membantu, membantu tambah berantakan maksudnya. Wulan belajar membuat cake bersama kepala koki di mansion.


"Mam, antuuuuu..." El berpura-pura menjadi hantu, dengan wajah dan tangan penuh tepung.


"Astaga Adel, anak mu luluran tepung." Wulan membalikkan Adel yang sibuk dengan cup cake.


"Hahaha... Kamu ini, bahagia punya mainan baru yah." Adel mencubit pelan pipi gembul El.


"Huh, ini semua ulah mu Del, sudah ku bilang kau jaga dia, malah membawa kemari." Wulan ikut terkekeh melihat penampilan El.


"Ini juga bermain Lan, sekaligus melatih ketrampilan." ucap Adel.


"Ketrampilan mengerjai orang maksudmu?" Nyonya Amel sangat terkejut melihat dapur yang begitu berantakan, karena ulah ketiga nya.


"Hehehe.. Nanti kita beresin kok." Adel mengusap tengkuknya sendiri.


"Terserah kalian aja, terus apa yang bisa Mom bantu?" tanyanya menggulung sedikit lengan bajunya.


"Mom cukup duduk disana." Adel menunjuk kursi dibar mini yang ada di dapur.


"Oma, ain ama El." rengek El.


"Main apa sayang?" Nyonya Amel mendekati El, dia berjongkok untuk mensejajarkan dengan El.


"Ini, bitin ueh."


"Okey, Let's go."


"Et go, Oma."


Adel sengaja mendudukkan El agak jauh dari tempatnya membuat kue, namun masih tetap dalam pengawasannya. Ditemani seorang pelayan, El bereksplorasi dengan kreasinya sendiri.


"Mom, aku titip El sebentar ya." Adel menuju ke kamarnya, mengambil benda pipih miliknya. Dia harus mengabadikan moment langka ini.


Nyonya Amel hanya menganggukkan kepalanya, dia kembali fokus bermaim dengan cucunya. Ama tak mau berkotor-kotor dengan tepung, dia hanya duduk sambil menikmati pemandangan indah dihadapannya.


πŸ“€ Dad, bagaimana? apa semuanya berjalan lancar?


πŸ“₯ Beres sayang.


πŸ“€ Okey, segera pulang.


πŸ“₯ Pastinya sayang, aku sudah tak sabar ingin bertemu istriku sayang πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


πŸ“€ Hmmm


πŸ“₯ Udah gitu aja? πŸ˜”


πŸ“€ Ya


πŸ“₯ Miss U sayang 😘😘


πŸ“€ too

__ADS_1


Henry kesal karena Adel hanya menjawabnya dengan singkat. "Tunggu aja aku pulang, aku tak akan mengampuni mu." Henry tersenyum sendiri, membayangkan Adel yang dibelainya.


"Heiiii, kau ini benar-benar tidak waras ya." Arga menjauhkan diri, merasa risih dengan sikap Henry yang tiba-tiba menempel padanya.


"Ups, aku kira kau istriku, sayang." Henry menyeringai tanpa dosa.


"Hah, pulang sana, dari pada disini, tapi otak mu entah kemana." Arga mengusir Henry, lagi pula pekerjaan di kantor hari ini tidak terlalu banyak.


"Siap Pak Bos." Henry mengangkat sebelah tangannya, memberi hormat pada Arga. Tanpa menunggu lagi dia sudah meninggalkan Arga.


"Tunggu, dokumen ini perlu tanda tangan mu." Arga berbalik badan, namun dia tak menemukan Henry disana.


" Ada disini aku pusing, dia pergi juga sama aku yang selalu pusing." Arga memijat pelipisnya yang terasa pening.


...__________________...


Henry sengaja meninggalkan Arga, dia juga berpesan pada sekertarisnya agar mengantarkan dokumen setelah kepergiannya. Hal itu membuat Arga benar-benar sibuk dan kewalahan.


"El, sayang, Daddy pulang."


"Dadddddyyy..." El berlari sambil merentangkan tangannya.


Henry segera berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, menyambut El yang datang kearahnya.


"Daddy, micu."


"El, jangan lari." teriak Adel dari arah dapur, dia baru saja mengambil cup cake dari dalam oven. Aromanya menguar hingga ke hidung Henry.


"Miss you too, sayang. Wangiii..."


"Yeay, Daddy puyan, oyeeee..." El sangat senang karena seharian kemarin dia tak bermain dengan Daddy. Saat Henry berangkat, El masih tidur. Bahkan saat malam pun Henry pulang, El sudah tertidur di kamarnya.


"Emmm, El lindu Daddy, muuuaahhh." El balas mencuim Daddy.


"Dimana Mami?"


"Tuh, bitin ueh." El menunjuk Mami nya yang sedang menata cup cake diatas meja.


Henry menggendong El menuju meja makan, dimana cup cake yang masih mengepulkan asapnya, berjajar rapi diatas piring.


"Hai sayang, wah sepertinya enak nih." Henry mengecup pipi Adel. Begitu pula El tak mau kalah.


"Kalian ini, Mami sibuk." Adel kembali ke dapur, untuk mengambil satu loyang yang lain.


"Hmmmm, Daddy sangat lapar, ayo kita habiskan kue ini." Henry segera mengambil dengan tangannya. Namun ia segera menaruhnya kembali.


"Awsss, panas." Henry mengibaskan tangannya.


"Siapa suruh kamu mengambilnya Dad?" Adel melototkan matanya.


"Ini dibuat untuk dimakan kan? iya kan El? Dan sayang, kasihan mata mu nanti bisa lompat keluar." ucap Henry menunjuk Adel yang kesal.


"Yes Dad, matan ueh, nyaammiii."


"Kalian berdua sama aja. Baru pulang itu cuci tangan dulu, ganti baju dulu. Ini malah main comot aja. Kau tau sekarang banyak virus diluar sana?" cecar Adel, segera duduk disebelah El.


"El mau kue ini?" bayi gembul itu mengangguk antusias. Adel segera mengambilnya dengan penjepit kue. Dan menaruhnya diatas piring kecil, membelahnya dengan garpu, agar cepat dingin.


"Daddy juga mau." Henry menampilkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Mau ini?" ucap Adel sinis, dia mengacungkan garpu didepan Henry. Membuatnya segera pergi, dia menuruti perkataan Adel.


"Iya-iya, sisain buat Daddy, jangan dihabiskan."


Wulan baru menyelesaikan cake yang dia buat. Dibantu kepala koki, dia menghiasnya dengan telaten. Setelah kue dingin tentunya. Setiap detail yang diarahkan, Wulan jalani dengan baik.


"Waow, tantik Mam." puji El sambil tetap mengunyah. Dia mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Ini tak seperti buatan mu Lan." ledek Adel.


"Kau kira siapa lagi kalau bukan aku? Ku habiskan hampir seharian untuk membuat ini." Wulan mendengus, ini adalah percobaan kelima yang berhasil dia buat. Bagaimana nasib keempat percobaannya? cukup satu kata, 'mengenaskan'. Jangan ditanya bagaimana nasib dapur, sungguh sangat mengenaskan sekali.


"Cie, yang sedang berjuang. Berjuang, berjuang sekuat tenaga."


"Husst, bisa diam gak?"


"Gak bisa tuh, iya kan El?"


"Huum." El hanya menganggukkan kepalanya, karena mulutnya penuh dengan cake.


"Gak anak, gak emak sama."


"Iya sama-sama imut." Adel memasang wajah seimut mungkin.


"Iuh, sama-sama menyebalkan." Wulan mengibaskan tangannya. Dia membawa kue hasil karyanya untuk disimpan dilemari pendingin.


Tak lama, Henry datang dengan pakaian santai, membuatnya lebih fresh setelah mandi. "Loh, buat Daddy mana?" Henry pura-pura sedih.


"Dah abis." ucap El dengan mengedikkan bahunya.


Ya ampun, anak ku belajar dari mana ini? kenapa kau semakin menyebalkan saja.


"Yah, kok abis, Daddy gak disisain?"


"Itu, macih ada." tunjuk El pada potongan terakhir diatas piringnya.


"Mau yang banyak." rengek Henry.


"Dak ada Dad, tuh cama Mami."


"Mam, jadi dimana jatah Daddy?" Henry mendekati Adel yang sedang menyimpan kue di lemari penyimpanan.


"Hah, habisnya kau lama Dad, jadi kita habiskan."


"Hah? aku bahkan belum mencicipi kue buatan istriku yang penuh cinta ini."


Adel mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan, dia sebal menghadapi bayi besar yang lebih manja dari pada El. "Bagaimana kau tau penuh cinta? mungkin akan aku taruh sianida di dalamnya."


"Kau tak akan berani sayang, kecuali kau siap menjanda lagi." ucap Henry penuh seringai. Heney memeluk Adel dari samping.


"Mamiiii... Daddddyyyy..." teriak El dari atas kursi, dia tak bisa turun sendiri karena safety yang dipasang padanya.


Bocah, kau selalu mengganggu kesenagan ku.


Adel hanya terkekeh, melihat wajah kesal henry. "Duduklah, akan ku bawakan cake spesial sianida ala Mami El." Adel mengedipkan sebelah matanya, dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan cup cake untuk suaminya.


"Coba aja kalau berani."


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2