
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Semua keluarga telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya dua orang pengantin baru yang paling terakhir meninggalkan hotel. Bejo sebagai sopir, hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah masam Tuannya.
Malam pertamanya gagal, kasihan sekali Tuan ku ini. Jangan nyumpahin orang Jo, nanti kualat.
Bejo sesekali melirik kedua majikannya itu, namun ia sangat ketakutan saat Arga mendapatinya sedang melirik ke belakang melalui kaca tengah mobil. Arga menatapnya nyalang, membuat Bejo tak berkutik, ia segera mengalihkan perhatiannnya. Fokus pada jalanan yang mulai lengang karena semuanya sudah beraktifitas pada kegiatan masing-masing.
Awas Kamu Jo, urusan kita belum selesai.
Begitulah arti tatapan Arga padanya. Bulu kuduknya berdiri, seolah-olqh Arga ingin menerkamnya dari belakang.
Sesampainya di mansion, Henry dan Adel masih ada disana. Henry berusaha menahan tawanya melihat raut wajah Arga yang ditekuk. Sama seperti Bejo, ia juga begitu senang melihat wajah Arga sekarang. Dan saat hanya ada mereka bedua, ia tak perlu lagi menahan tawanya.
"Wahahaaa.... Sabar Ga, Sabar... Maaf Aku gak bermaksud mengerjaimu. Sungguh." Henry mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya keatas.
"Menurut mu ini lelucon?" Arga bersedekap, bersandar pada dinding dibelakangnya.
"Ehm, bukan. Aku benaran tak bermaksud untuk itu, tapi kita senasib sepenanggungan." Arga mengernyit heran, berusaha mencerna perkataan Henry tadi.
"Maksudmu?"
"Kita sama."
Arga terdiam sejenak, lalu tawanya pecah seketika, menggema diruangan itu. Keduanya saling mentertawakan nasib mereka yang sama saat malam pertama. "Sepertinya mereka janjian mengerjai kita Ga."
"Ya kau benar. Hahahaaaa...." Keduanya saling merangkul, mentertawakan diri mereka masing-masing.
"Ada apa sih? senang banget tertawanya." Adel datang membawa minuman dan kue yang masih mengepulkan asapnya.
"Urusan laki-laki sayang." Henry melepas tangannya di bahu Arga. Ia mendekati sang istri yang sibuk menata minuman diatas meja.
"Hmmm..."
"Terima kasih sayang." Henry mengecup Adel sekilas, membuat Adel merasa malu. Terlebih ada Arga dihadapannya.
"Gak usah pamer." sindir Arga.
"Masalah buat Anda? Kalau kau mau kan ada yang halal. Iya kan sayang?" Henry meraih pinggang Adel sengaja pamer kemesraan.
"Lan sini." Wulan kebetulan melintas dari arah dapur, ia segera mendekati mereka bertiga.
"Ada apa?" tanyanya acuh.
"Arga mau begini, juga begini." Henry mempraktekan di depan Wulan. Seketika wajah Wulan memerah.
"Tapi Aku gak mau." Wulan meninggalkan mereka.
"Yah kok gitu sih?" Arga pura-pura merajuk. Membuat sepasang suami istri yang menggodanya terkekeh.
"Mamiiii...." El berlari dari ujung tangga.
"El, jangan lari, nanti jatuh." teriak Adel segera membalikkan badan menyambut El yang berlari kearahnya.
"Dak jatuh, El udah pintal."
"Dad, mau itu." tunjuknya pada kue yang ada didepan Daddy nya.
"Sini sayang, kitw makan bareng." Henry menepuk kakinya, El segera duduk dipangkuan Daddy untuk menikmati kue bersama.
"Mamiii... cuapin, Aaaaa..." Adel hanya menggelengkan kepalanya, jarang sekali El manja dengan Mami dan Daddy.
"Bener nih mau disuapin? Katanya udah gede." sindir Henry.
"Mau mau..." Adel segera menyuapkan potongan kecil untuk El. Henry tak ingin kalah. Ia juga membuka mulutnya lebar. "Aaaaa..."
"Kalian ini, kan bisa makan sendiri." ucap Adel kesal.
"Tapi makanan dari tangan Mami rasanya lebih enak, iya kan El?" Henry menundukkan kepalanya, memberi kode pada El.
__ADS_1
"Hmmm Nyummmiiii... Mau lagi Mam..." Adel menyuapkan kue untuk dua bayi besarnya. Begitupun sebaliknya, Henry dan El bergantian menyuapi Adel.
Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu begitu bahagia melihat kedua putranya sudah menemukan pilihan mereka masing-masing. Sehingga di hari tuanya, mereka bisa bernafas lega dan menikmati hari senjanya dengan melihat putra putri dan cucu-cucu mereka bertumbuh bersama.
"Mami, kenapa Mami menangis?" Nyonya Amel baru menyadari kehadiran Ama karena mendengar isakan dibelakangnya.
"Mami bahagia Mel, bisa melihat keluarga kalian bahagia." Nyonya Amel memapah Ama untuk duduk dan merangkul Ama dalam pelukannya.
"Ini kan impiam Mami selama ini, Kami hanya bisa melakukan ini untuk Mami." Tuan Abimanyu bersimpuh, menyandarkan kepalanya dipangkuan Ama.
"Iya Bi, tetapi Mami juga mau mengatakan sesuatu. Minggu depan Mami mau balik ke London." Pernyataan Ama mengejutkan Tuan Abimanyu juga istrinya.
"Ada apa Mam? Bukankah Mami nyaman tinggal disini?" Tuan Abimanyu mendongakkan kepalanya menatap wanita yang telah melahirkannya.
Ama tersenyum, ia mengusap kepala putranya. Sebenarnya ia juga ingin lebih lama lagi tinggal di Jakarta. Tetapi ia telah berjanji pada mendiang suaminya bahwa ia akan menemaninya hingga tutup usia. "Mami sudah terlalu lama disini Bi, Mami rindu London. Mami mau temani Daddy mu disana." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa gak bisa tinggal lebih lama lagi Mam?" Nyonya Amel tak melepas pelukannya pada Ibu mertuanya.
"Mel, kalau kalian kangen kan bisa mengunjungi Mami. Sekarang kalian sudah memiliki banyak waktu luang. Atau Kalian bisa menemani Mami disana." Ama menghapus jejak air mata diwajah menantunya.
"Iya Mam, kami pasti akan lebih sering mengunjungi Mami. Lalu Mami balik sama siapa?"
"Edric akan menemani Mami. Kalau perlu pengantin baru Mami bawa, sekalian mereka bukan madu." Ama begitu bersemangat membicarakan pasangan yang baru menikah itu.
"Nanti Abi tanyakan pada Wulan dan Arga. Yang penting Mami jaga kesehatan ya." Ama merangkul putra dan menantunya, berat meninggalkan tanah kelahirannya. Tetapi selama hampir 30 tahun terakhir, ia telah menghabiskan waktunya di negeri suaminya menetap selama ini.
...----------------...
Ama telah bersiap, Wulan dan Arga sudah setuju untuk ikut mengantar Ama ke London. Pekerjaan Arga yang sibuk membuatnya menunda untuk bulan madu. Padahal Henry dan Tuan Abimanyu sudah mendesaknya beberapa kali. Tetapi tanggung jawabnya terhadap proyek yang sedang ia tangani tak bisa ia tinggalkan begitu saja. Bahkan cuti menikah hanya di ambil tiga hari.
Wulan mengerti tentang kesibukan Arga, ia tak menjadikan itu sebagai masalah. Justru ia bangga jika suaminya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Arga mengajak Wulan menempati apartementnya, tak ada yang melarang mereka. Lagi pula pasangan baru seperti mereka pasti butuh waktu untuk berdua. Awalnya Wulan keberatan meninggalkan Lintang, tetapi Lintang malah mendukung keputusan Arga.
"Kak, pergilah. Buatkan Aku keponakan yang lucu. Supaya Aku punya banyak teman." ucap Lintang kala itu.
Sekarang Lintang lebih sering menginap di rumah Henry, selain lebih dekat dari sekolahnya. Ia juga punya teman bermain, bahkan terkadamg ia mengajarkan El untuk belajar mengenal huruf dan angka disela bermainnya.
Nyonya Amel tak merasa keberatan, justru merasa senang dengan Lintang yang lebih terbuka dan mulai aktif. Tak seperti sebelumnya yang lebih banyak murung.
"Gak usah lebay, Lintang baik-baik sama Aku." Adel merangkul bahu Lintang.
"Cama El juga Mama..."
"Kakak pergi dulu ya." Wulan memeluk adiknya erat, jika saja Lintang tidak sekolah. Ia pasti akan membawanya.
"Mom pergi ya sayang." pamit Nyonya Amel.
Tuan Edric ada urusan mendadak sehingga ia harus segera kembali ke London terlebih dahulu. Sehingga Nyonya Amel beserta Wulan dan Arga yang mengantar Ama kembali. Tuan Abimanyu akan menyusul nanti, ia harus membantu Henry terlebih dahulu.
"Bye Oma, Bye Ama..." El mencium tangan nenek dan nenek buyutnya. Tak lupa juga Papa Arga dan Mama Wulan.
"Ku tunggu kabar baik dari kalian." bisik Henry saat Arga berpamitan. Arga hanya mengacungkan jempolnya sebagai tanda persetujuan.
Henry dan yang lain hanya bisa mengantar sampai ke pintu masuk, setelahnya ia mengajak El dan Lintang untuk refreshing sejenak. Kebetulan sekarang hari libur. Ia bisa meluangkan waktunya lebih banyak untuk menemani El bermain.
"Lin, Kamu mau kemana lagi?" tanya Adel saat mereka dalam perjalanan.
"Lintang nurut aja." ucapnya, ia sibuk bermain dengan El dikursi penumpang. Sekarang mereka berdua semakin akrab, dan jarang bertengkar seperti sebelumnya.
"Bagaimana kalau ke taman hiburan?" ucap Henry.
"Boleh juga Dad." Adel setuju dengan ide suaminya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke taman hiburan, disana ada banyak wahana permainan. Dari anak-anak sampai dewasa, juga tempat kuliner jika mereka ingin mengisi perut nanti.
Lintang tampak antusias bermain bom bom car bersama El. Terkadang Henry dan Adel bergantian menemani El. Namun tak jarang Lintang yang selalu bersamanya.
"Lucu ya mereka Dad, seperti Kakak beradik sungguhan." ucap Adel saat sedang mengawasi El bermain di kolam bola bersama Lintang.
"Iya sayang, apalagi kalau kita tambah lagi pasti lebih seru." Seketika wajah Adel menjadi muram, hal yang sangat sensitif baginya saat membicarakan hal itu.
__ADS_1
Henry segera menyadari kesalahannya, ia memapah istrinya untuk duduk. "Sayang, maaf. Aku tak berniat membuat mu sedih." Henry memeluk Adel erat, jangan sampai Adel sedih dan mengacuhkannya.
"Dad, Aku gak apa, tapi Aku gak bisa nafas." Henry segera menarik tubuhnya, memberi ruang Adel untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Terima kasih sayang." Henry menangkup wajah Adel dengan kedua tangannya. Saat itu juga Lintang dan El selesai bermain.
"Daddyyyy.... janan.. Mami El." El segera berlari, ia mengira Daddynya akan berbuat sesuatu pada Mami Adel.
"El, sayang. Kalian sudah selesai?" Lintang menganggukkan kepalanya, duduk disebelah El.
"El minta minum tadi." ucap Lintang.
"El haus?" bocah gembul itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Kita beli minum, sekalian istrirahat. Kalian pasti lapar." Henry menggendong El dengan tanganan kanannya. Tangan kirinya menuntun Adel menuju food court. Begitupun Adel, ia memautkan jemarinya ditangan Lintang.
"Bagaimana? sudah puas bermain?" tanya Adel saat mereka sedang menunggu makanan yang mereka pesan.
"Seru banget, tapi Lintang udah lelah."
Mereka berempat terlihat seperti keluarga cemara, harmonis dan bahagia. Bahkan saat makan, sesekali saling melempar candaan.
...----------------...
"Lan, Kamu baik-baik saja?" Arga melirik Wulan yang pucat pasi. Tangannya dingin, dan wajahnya berkeringat.
Wulan langsung tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. "Aku takut." ia memejamkan matanya saat pesawat mulai mengudara.
"Jangan bilang Kamu takut ketinggian." Arga hanya menebak saja, tetapi Wulan langsung mengiyakan. Sejak kecil, ia sangat takut ketinggian. Ia pernah jatuh saat naik di atas pohon.
Arga segera menggenggam erat tangan istrinya, dan menyandarkan kepala Wulan padanya. "Gak apa-apa. Aku disini, sekarang buka matamu."
Wulan enggan membuka matanya, ia sangat ketakutan bahkan semakin mengeratkan genggamanannya pada Arga. "Aku takut, bagaimana kalau kita jatuh?" ucapnya dengan mata masih tertutup.
"Hei, dengarkan Aku, kalau Kamu takut, bayangkan saja kita naik bus. Dan sekarang lihatlah pemandangan yang ada di sekitarmu."
Wulan perlahan membuka matanya, hal yang pertama ia lihat adalah Arga. Ama dan Mommy duduk di depan mereka, sehingga tak begitu memperhatikan Wulan dan Arga. Terlebih ada sekat yang membatasi mereka.
"Nah, sekarang gak takut lagi kan?" Wulan berusaha menormalkan detak jantungnya, rasa takutnya mulai berkurang. "Aku ambilkan minum untuk mu."
Arga menengok kesamping sebentar, dan melepaskan tautan tangannya pada Wulan. Tetapi saat Wulan melihat ke jendela, ia merasa kepalanya seakan berputar. Bahkan perutnya seperti di aduk-aduk.
"Lan, Kamu kenapa lagi?" Arga mulai panik melihat keadaan Wulan.
"Sepertinya Aku mau mun**h Ga." Wulan segera berdiri, menuju ke toilet. Arga menyusul istrinya dengan mengoleskan minyak angin. Dan sebotol air mineral.
"Sudah lebih baik?" Wulan mengangguk, Arga membawa Wulan ke ruang istirahat. Disana ada tempat tidur juga satu set perlengkapan tidur lainnya. Pesawat ini telah di desain senyaman mungkin, bahkan kamar khusus ini hampir seperti kamar di rumah nya. Hanya ukurannya lebih mini, dengan pemandangan yang menampilkan kumpulan awan putih dan langit biru di atasnya.
"Istirahat sebentar, Aku segera kembali." Arga ingin memanggil dokter yang merawat Ama untuk memeriksa istrinya. Tetapi Wulan enggan di tinggalkan, ia tak melepaskan Arga dan memintanya untuk tetap disisinya.
"Temani Aku Ga." Akhirnya Arga hanya menemani Wulan berbaring di sisinya. Setelah Wulan terlelap, ia melanjutkan niatnya untuk memanggil dokter. Arga menceritakan kondisi Wulan padanya, termasuk memberitahu bahwa Wulan takut ketinggian.
"Apa yang terjadi dengannya dok?" tanya setelah dokter selesai memeriksanya. Saat itu juga Wulan terusik dengan kehadiran mereka.
"Mungkin istri Anda mabuk perjalanan, atau mungkin kabar baik...."
"Ada apa sih?" tanya Wulan, ia memijit pelipisnya yang terasa pening.
Karena Wulan sudah sadar, dokter mengajukan beberapa pertanyaan termasuk terakhir Wulan haid. "Dok, sekarang saya sedang haid." jawab Wulan dengan tegas.
"Berarti Anda hanya mabuk perjalanan, dan pusing Anda karena takut ketinggian." ucap dokter itu.
"Ini ada obat untuk memgurangi mabuk, tetapi efeknya Anda akan mengantuk selama beberapa jam. Atau bahkan selama perjalanan ini." Dokter itu memberikan dua butir obat berwarna pink. Untuk dikonsumsi.
"Terima kasih dok." ucap Arga sedikit kecewa. Ia mengira akan ada kabar baik untuk mereka.
Setelah dokter itu pergi, Arga kembali menemani Wulan. "Sejak kapan bulan mu datang?" tanya Arga.
"Sudah tiga hari ini. Hehee..." Wulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Beberapa hari terakhir Arga selalu pulang larut, untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia tinggalkan. Dan sudah dua hari Wulan menginap di mansion.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH