Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Keceriaan El


__ADS_3

Yang rindu Baby El, Author balikin lagi El nya, sudah capek ngumpet terus. Hehehe...


Budayakan like komen dan vote setelah membaca ya kakak.


Happy reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Pulang, biarkan El nanti juga ada yang jemput, aku ingin istirahat" Nyonya Amel pun mengiyakan, mereka kembali ke mansion, karena kondisi Henry masih memerlukan banyak istirahat, terlebih tangan kanan yang di gips membuatnya tak leluasa bergerak.


Setelah mengantar Henry dan Nyonya Amel, Bejo berniat menjemput Adel dan Baby El, ternyata mereka sudah sampai dihalaman mansion mewah keluarga Syahreza. "Nona, baru saya akan menjemput Anda" Bejo membantu menurunkan barang bawaan Adel.


"Tak perlu, aku sudah sampai, apa Nyonya Amel sudah sampai dirumah?" Adel bertanya sambil menggendong El yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Iya, mereka ada di dalam, silahkan masuk"


"Saya ke dalam dulu Jo"


"Silahkan Nona"


Adel masuk dengan ragu-ragu, sudah lama dia tak tinggal disini, merasa sedikit canggung untuk kembali tinggal disini. "Umm cucu Oma sudah datang" Nyonya Amel menuruni tangga dengan tergesa, dia sudah merindukan El.


Adel tersenyum, dia menurunkan El yang meronta ingin berjalan sendiri. El berlari menyambut Oma, dia sudah terlihat lebih baik, bahkan sekarang dia bisa tersenyum ceria seperti sedia kala. Nyonya Amel merentangkan tangannya. "Cucu ku yang menggemaskan, Oma rindu"


"Maaa, Eyy ndu" ( El juga rindu)

__ADS_1


Nyonya Amel menitikkan air mata, dia menangkup pipi gembul El dengan kedua telapak tangannya. "El sayang, anak pintar, ayo kita main, El rindu kamar tidak?" Namun El menggelengkan kepalanya.


"No, Eyy ndu Omaaaa" El mengerucutkan bibirnya. Ia merajuk, kembali pada Adel, memeluk kakinya dengan erat. "Mammmiiii" dengan wajah berkaca-kaca, membuat hati siapapun meleleh. Melihat tingkah El yang semakin menggemaskan.


"Ya, El mau apa?" Adel berjongkok mensejajarkan dengan tubuh kecil El. Dia mengacak rambut El. "Mammiii, ucak nihh" El merapihkan rambutnya dengan kedua tangannya, tapi malah semakin berantakan. Membuat Nyonya Amel dan Wulan yang baru saja datang tertawa gemas.


"Huaaaaa, Mami atal, oma atal" (nakal) El mengadu pada Wulan. Lagi-lagi El harus kecewa melihat Wulan yang mentertawakan dirinya. Tangisnya tambah kencang, membuat heboh seisi rumah. Ama keluar dari kamarnya mendengar suara tangis El.


Ama masih di Indonesia, belum kembali ke London, saat mendengar kabar Henry kecelakaan, dia pulang kembali. Melainkan diantar Tuan Edric, anak angkat Ama ini sedang ada acara di Indonesia, dan meminta Ama menemuinnya. kebetulan pekerjaan disana bisa ditinggal, meskipun tidak untuk waktu yang lama. "El sayang, kenapa menangis? Sini peluk Ama"


Tanpa menunggu lama, El melakukan apa yang diucapkan Ama. "Uwww Cicit Ama yang tampan, siapa yang membuatmu menangis hmm?" El masih menangis, dia hanya menunjuk dengan jari telunjuknya. "Tuhhh"


"Biarkan mereka, ayo kita main ditaman, kita tangkap kelinci" Bisik Ama, El langsung terdiam. Melihat kearah Ama. "Inci, Eyy mauuu" meskipun wajahnya masih penuh air mata, namun dia sudah bisa tersenyum, dia turun dari pangkuan Ama, menarik tangannya ke arah luar.


"Lohh, Ama, kalian mau kemana?" Ama hanya mengedipkan sebelah matanya, Adel tak tega membiarkan El berdua dengan Ama. Dia takut Ama kelelahan, El sudah mulai aktif lagi sekarang dia tak bisa diam. Jika melihat hal baru yang menurutnya menarik, El pasti menghampirinya, tanpa tahu berbahaya atau tidak.


"El jangan lari-lari, nanti jatuh" teriak Adel, namun bayi itu tak mendengarkan sama sekali, dia merasa kasihan melihat Ama yang sedikit kuwalahan mengejar El.


Ama berhenti sejenak, usianya tak lagi muda, membuatnya cepat merasa lelah. "Adel, kau saja yang kejar dia, Ama tak sanggup lagi" Ama duduk dikursi panjag didekat air mancur.


"Maafkan Adel Ama, karena membiarkan El, dan membuat Ama kelelahan" Adel merasa tak enak hati, namun dia juga harus secepatnya menangkap El. Atau dia akan kehilangan jejaknya, tubuh mungil itu pandai sekali bersembunyi. Membuat Adel geleng-geleng kepala, dengan tingkahnya yang tak sesuai dengan usianya.


"Cepat kejar dia, jangan pedulikan wanita tua ini" Ama sedikit berteriak, karena Adel sudah menjauh darinya. Benar saja, El bersembunyi dibalik pilar lampu. Adel pura-pura tak melihat, dia melewati El sambil berteriak.


"Ellll, sayaangggg, dimana El ya?" Adel berhenti, mebetukkan telunjukknnya pada keningnya, seperti orang yang sedang berfikir.

__ADS_1


"Bhaaaaa, Mamiii Eyy ciniii"(El disini) El keluar dari tempat sembunyi dengan sendirinya, anak itu memang tak bisa marah lama dengan Adel. Dengan sendirinya dia akan ceria dan membuat Adel terharu.


"Ahaaaa, El kenaaaa, Mami tangkap El" Adel segera mendekap El, dia beeputar-putar mengangkat El. Membuat keduanya tertawa bersama, Ama tentu saja sangat bahagia. El bisa ceria lagi.


"Sayang, kita masuk dulu ya, sekarang masih panas, main disini besok aja ya, El belum mam, nanti perutnya lapar" Adel membujuk El untuk masuk, terlebih sekarang sedang terik, dia takut El sakit, karena El sendiri baru sembuh dari sakitnya.


"Yahhh, Eyy mau ain" ( mau main) El cemberut, wajahnya berkaca-kaca, karena merasa Adel melarang nya bermain.


"El sayang, kita main didalam yah, disini panas, Mami janji besok pagi kita main disini lagi, okeyyy"


Akhirnya El menurut, dengan berbagai cara Adel meyakinkan El, dan membuat bayi itu luluh. "Anak pintar, kita kan belum lihat kamar El, banyak mainan baru lohh"


"Ainan ayuu?" wajah El berbinar, mendengar ada mainan baru, dia kembali bersemnagat.


"Yeeee, acih Mami" El mengecup pipi Adel. Membuat Adel melakukan hal yang sama, bahkan lebih, dia mengecupi El berkali-kali. "Macama sayang"


Henry duduk di kursi, dari balkon kamarnya, dia merasa dejavu dengan pemandangan ini. Dimana Adel bermain bersama El ditaman. "Ssshhhhh, sakit sekali" Henry mendesis memegangi kepalanya yang masih dibalut perban.


Luka di keningnya belum boleh terkena air. Takut jahitan akan lebih lama sembuh, hanya boleh dikompres air hangat dan diganti perban setiap harinya. Hal itu tugas Dokter Alvin, setiap pagi dia akan datang untuk merawat dan memeriksa keadaan Henry.


Nyonya Amel menepuk pelan bahu putranya, dia sedih sekaligus bahagia, melihat Henry yang terluka, namun bahagia karena El sudah kembali ceria. Henry terlalu fokus dengan dirinya, sehingga tak menyadari kehadiran Mommy disana.


"Heii anak bodoh, apa yang kau lakukan disana? Kau harus istirahat, lagipula disini cuacanya sangat panas, hareudang" Henry tak menyahut, tatapannya tak lepas dari kedua orang yang sibuk bercanda dibawah sana.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2