Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-13


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Adel bangun pagi-pagi, hari pertama sebagai menantu di rumah ini, tetapi tak membuat Adel bermalas-malasan. Dia pergi ke dapur tanpa membangunkan Henry, suaminya. Maupun El yang masih memeluk guling.


"Nyonya Muda sedang apa disini? Biar Bibi yang kerjakan, lagi pula ada koki yang mengurus makanan disini." Bibi Mey merasa tak enak jika Nyonya Muda mereka malah berada di dapur sepagi ini.


"Bibi, jangan panggil saya seperti itu, panggil seperti biasa aja. Lagi pula saya ingin menyiapkan sarapan untuk suami saya." Adel melanjutkan memotong sayuran, dia ingin membuatkan sarapan spesial untuk suaminya. Sudah lama sekali Adel tak melakukannya.


"Tapi, nanti saya yang dimarahi." Bibi Mey masih tak membiarkan Adel, padahal sebelumnya Adel juga sering menyiapkan makanan El. Tetapi statusnya berbeda dengan yang sekarang ini.


"Sudahlah! Bibi tenang aja, gak akan ada yang marahin Bibi." Akhirnya Bibi Mey mengalah, dia hanya membantu seperlunya saja.


Adel kembali ke kamar membawa nampan ditanganny. Berisi sarapan pagi dan juga air minum, tak lupa secangkir kopi dengan sedikit gula. Dilihatnya Henry masih bergelut dengan mimpinya. Ayah dan anak ini tidur saling memeluk.


"Kalian lucu sekali jika tidur seperti ini." gumam Adel dalam hati.


Wangi masakan Adel membuat Henry terusik, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Benar saja aroma makanan dari atas meja. Adel sengaja membawa sarapan ke kamar, karena tak ingin membuat yang lain menunggu Henry bangun.


"Hmmm, sayang, apa kau yang masak?" Henry duduk, berbicara dengan sedikit kantuk yang tersisa.


"Yah, aku tak tau seleramu, jadi aku bawakan semua. Hehehe..." Adel nyengir kuda.


"Apapun itu, asalkan kau yang buatkan pasti aku suka." Adel yang sedang menata makanan tersentak, Henry yang tiba-tiba memeluknya dari samping.


"Huh gombal."


"Biarin, gombalin istri sendiri."


"Tunggu, jam berapa sekarang?" Henry melupakan sesuatu.


"Jam 07.00 Daddy." Adel berbalik badan, melihat wajah cemas Henry.


"Ada apa?" tanya Adel heran.


"Aaaaaa... Aku kesiangan, aku harus ke kantor." Henry berlari ke kamar mandi.


"Ke kantor? Dia bilang cutinya masih lama." Adel mengernyitkan keningnya. Dia beranjak ke lemari, menyiapkan pakaian kerja Henry.

__ADS_1


Henry mandi kilat, dia segera mengenakan pakaiannya dihadapan Adel. "Dasar mesum, tak tahu malu," Adel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tetapi dia sedikit mengintip dari selah jarinya. Roti sobek yang begitu menggoda, sayang sekali jika dilewatkan. Hasil gym Henry selama bertahun-tahun.


"Bukankah seharusnya masih libur? kenapa sekarang sudah harus kembali?"


"Ada apa? hmm, kau tak rela melepaskan suami tampan mu ini pergi? Kalau begitu aku batalkan saja." Henry meraih gawainya di atas nakas, tetapi Adel menahan tangannya.


"Ya, tidak, bukan maksud ku kau punya tanggung jawab pada perusahaan mu."


"Jadi, apa aku harus membawa mu ke kantor? suapaya aku bisa terus bersama mu." Henry menaik turunkan alisnya.


"Katanya terlambat, tapi masih sempat menggodaku. Adel berbalik badan sambil menggerutu. Dia merapikan handuk yang dipakai Henry, dan mengembalikannya di walk in closet.


"Sayang, bantu aku memasang dasi." Henry berucap dengan manja


"Kau bukan anak kecil lagi, lagi pula El sudah bangun."


"Sebentar saja, atau aku benar-benar terlambat ke kantor." Henry meraih dasi di atas kasur. El hanya menggeliat dan tidur lagi. Membuat Henry leluasa mengerjai Adel.


Adel naik diatas kasur, supaya bisa memasangkan simpul di leher Henry. "Kau mau menjadi janda lagi?" Henry sedikit kesal, Adel sengaja ingin mencekiknya dengan dasi yang sangat ketat.


"Ups, maaf Daddy, aku tak sengaja." Adel terkikik, dia sangat senang mengerjai suaminya.


"Dad, nanti kau ter.. emmmm..." Henry membnungkamnya dengan bibirnya, sehingga Adel tak bisa lagi berkata-kata.


Adel tak dapat lagi memberontak, dia hanya bisa pasrah, menikmati permainan suaminya.


"Daddy, Nooo... Mamiii El." El menangis, membuat aksi keduanya harus berhenti.


Selamat, kau bangun disaat yang tepat El.


"Huaahaaa.... Maamiiii...." El mengira Henry melakukan sesuatu pada Mami nya.


"Sayang, Daddy nakal," Adel berpura-pura menangis.


"Hmmmm... Daddy akal ya, nih akal." El mengambil bantal kecil miliknya, memukul Henry dengan bertubi-tubi.


"Ampuunnnn... Daddy gak nakal, tuhh Daddy cium Mami." Henry mencium Adel yang sudah duduk disampingnya.


"Nooo... Husssshhh... canah, ni Mami El, janan kecini." El mengibaskan tangannya. Henry menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Heeiii... Kamu kira Daddy ini ayam?" Henry mendengus


"Ahaaaahaaa..." Adel tertawa puas, dia mendapat pembelaan El.


Sejak kapan bocah ini bangun? bukankah dia tadi masih tertidur. Mengganggu kesenagan ku saja.


Henry berdecih, meninggalkan Adel yang menyeringai bersama El. Mereka berdua beradu tangan. Karena berhasil mengusir Daddy.


"Dad, sarapan dulu, aku yang masak lohhh..." Henry hanya memakan beberapa suap, menyeruput kopi dan meraih tas kerjanya yang diantarkan Nathan semalam.


"Hahaha, dia ngambek El." Henry hanya mengacuhkan keduanya, dan berlalu begitu saja.


"Kau sudah rapi? pengantin baru mau kemana?" tanya Nyonya Amel dari arah dapur.


"Kerja," jawabnya singkat. Henry melajukan mobilnya dengan sedikit dongkol juga malu pada putranya yang masih balita.


"Gak rela Mel, harus ninggalin istrinya." sahut Ama di belakangnya.


"Iya Mam. Wulan dan Arga menginap Mam, jadi dia harus ke kantor, Daddy nya masih diluar kota." Nyonya Amel menjelaskan.


"Pantas saja wajahnya lesu, tak bersemangat." ucap Ama.


"Arga kau harus cepat kembali," Henry memukul setir ketika lalu lintas padat di jam sibuk pagi ini.


Henry harus bernagkat ke kantor karena ada beberapa meeting penting, sedangkan Tuan Abimanyu harus keluar kota sejak kemarin sore. Henry sebenarnya masih mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan. Tetapi kejadian Arga tak terduga sama sekali.


Nathan yang menyusun beberapa file dari Arga, dan mengirimkan ke kediaman Syahreza. Beruntunglah Arga membawa flash disk penting tentang rapat hari ini. Sedangkan Nathan harus bertanggung jawab membantu Tuan Wiranata selama Adel belum masuk.


Di kantor, Henry harus dihadapkan pada tumpukan kertas yang menggunung dimejanya. "Hah, apa-apaan ini?" Henry memijat pelipisnya yang terasa pening melihat mejanya penuh dengan dokumen. Padahal sebelum mengambil cuti, dia sudah menuntaskan semua pekerjaanya.


"Baru tiga hari aku tak ada, sebanyak inikah?" wajah Henry lesu.


Sekertarisnya masuk, memberi tahukan rapat akan segera dimulai. Henry mengangguk dan melangkah dengan malas menuju ruang rapat.


"Apa saja kerja kalian selama ini?" Henry menggebrak meja, mendengar laporan yang begitu kacau. Income bulan ini menurun drastis dari bulan sebelumnya. Para pegawai hanya bisa menundukkan kepalanya.


Meskipun Henry baru dua minggu pulang ke Jakarta, tetapi laporan yang dia terima masih baik-baik saja.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2