Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-79


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry tersadar, ia mencium aroma obat-obatan yang menusuk hidungnya. Melihat sekeliling. Mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Hanya ada Mommy disana. "Mom." ucapnya lirih.


Mommy tak merespon. Mommy berderai air mata. Mengapa menangis? Bukankah seharusnya bahagia? "Mom, dimana istri dan anak ku?"


Mommy tak menjawab Henry. Masih berderai air mata. Berjalan mendekat. Mommy mengusap bahu putra nya. "Adel, Dia..."


Jantungya berdetak lebih cepat. Ada yang tidak beres. Bergegas bangun. Henry mendobrak pitu kamar sebelahnya. Adel tak ada. Begitupun bayi mereka. Semuanya menunduk. "Dimana mereka?"


Hening. Tak ada yang menjawab. Semuanya mundur teratur. "Adel tak ada disini." Tuan Abimanyu mengagetkan Henry.


"Lalu, dimana putri kecilku?"


"Bersama Adel."


"Kemana?"


"Pergi."


Terhuyung, Henry berpegangan tembok di belakangnya. Pikirannya travelling. Berkelana. Menjelajah kepingan puzle dalam imgatannya. Tak menemukan apapun. Henry berbalik. Namun ia melihat sekelebat bayangan tak asing.


"Dad, Aku bawa putri Kita ya." Adel melambaikan tangannya dilorong rumah sakit.


"Bye Daddy." Bayi dalam gendongan Adel bisa berbicara? Takut. Juga heran. Henry mencoba meraih istrinya yang semakin menjauh.


"Kalian mau kemana?"


"Ke surga."


"Aku ikut."


"Daddy, El juga ikut." Tiba-tiba El bergelayut di kakinya.


Henry meraih kedua tangan El. Mendekapnya erat. Berusaha menggapai Adel yang semakin menjauh membawa putri mereka. "Sayang, tunggu. Jangan pergi."


"Jangan pergi, Aku gak mau sendiri lagi. Kau masih ada El. Kau harus kembali, Sayang." Tangan Henry terus berusaha meraih Adel yang semakin menghilang.


"Sayang... Jangan pergi." Henry terduduk. Melihat sekeliling. Tangannya terdapat jarum. Dan cairan elektrolit. Memijat pelipisnya, berusaha mengingat kembali kejadian sebelumnya.


Tuan Abimanyu masuk ruang perawatan Henry. Ia menatap heran putranya. Peluh membasahi wajahnya. Wajah pucat yang terlihat kebingungan. "Kau sudah bagun, Son?" Tuan Abimanyu meletakkan tentengan yang dibawanya.


"Dad, dimana Adel? Dimana bayi ku?"

__ADS_1


"Mereka sudah di bawa pergi."


"Apa katamu, Dad?" Henry melepas paksa jarum infus. Darah merembas keluar dari tangannya. Berjalan dengan sedikit berlari. Henry mencari ruangan istrinya di rawat sebelumnya.


Kosong, tak ada siapapun. Hanya ada petugas yang membersihkan ruangan. "Dimana wanita yang dirawat di sini sebelumnya?" Henry meraih kerah sang petugas.


"Am-ampun, Tuan. Saya tak tahu. Saya hanya bertugas membersihkan tempat ini." ucapnya tergagap.


Henry melepasnya secara kasar. Mengacak rambutnya hingga tak beraturan. Tuan Abimanyu melenggang dengan santainya. Berkacak pinggang di hadapan putranya. "Sudah cukup dramanya?"


"Dad, jangan bercanda dengan ku. Dimana istri dan anak ku?" Henry terduduk lemas di kursi tunggu. Jangan-jangan mimpinya benar terjadi.


"Son, Kau baru bangun. Sebaiknya kembali ke kamar mu. Baru menemui istri mu. Lagi pula Adel maaih belum bangun d......"


Panik. Henry semakin panik. Ia mengguncang bahu Daddy nya. Matanya memerah menahan amarah. "Bawa Aku kesana, Dad. Aku harus melihatnya sendiri." Henry menarik tangan Tuan Abimanyu. Agar menunjukkan dimana Adel berada.


"Hei, Kau ini kenapa? Jangan bilang Kau benaran bodoh karena sering dikatai Mommy." Tuan Abimanyu menepis tangan Henry kasar.


"Aku mohon, bawa Aku melihatnya, Dad." Henry memohon dihapan Tuan Abimanyu.


"Tapi Kau perlu istirahat."


"Aku mohon, Dad."


Membuang nafas kasar. Tuan Abimanyu menuruti keinginan Henry. Diruangan sebelah, di samping ruangan Henry di rawat. Henry mendengus kesal. Ternyata hanya pindah ruangan. Dan hanya bersebelahan. Apa segitu takutnya Kau manusia kutub?


"Ssttt.. Jangan bangunkan. Dia masih tertidur. Sejak semalam, ia perlu memulihkan tenaganya. Dokter memberinya vitamin tambahan. Dan juga sudah menghabiskan satu kantong darah."


"Hah? Darah? Apa yang terjadi padanya, Mom?"


"Hei, Kau ini dengarkan Mom dulu." Nyonya Amel menarik tangan Henry. Membawanya duduk di sofa.


"Aku mau temani istri ku."


"Diam. Atau Kau sebaiknya gak usah bertemu denganya lagi." Ancam Nyonya Amel. Ia geram karena Henry tak mendengarkannya.


"Adel kehilangan banyak darah, beruntungnya ada yang bersedia mendornorkan darahnya. Karena hanya ada stok satu kantong darah (A)- di rumah sakit ini. Dan ia masih harus istirahat. Sejak kemarin hingga tadi malam, ia pasti lelah."


"Nah, dengerin tuh Mom bicara." Tuan Abimanyu menyilangkan kakinya di bawah meja.


"Syukurlah, Aku kira Adel di bawa pergi kemana." Henry menggaruk tangkuknya yang tak gatal. Ketakutannya membawanya ke alam mimpi.


"Memangnya Kau pikir apa?" Nyonya Amel menatapnya nyalang.


"Aku kira Adel pergi, meninggalkan ku." Henry menundukkan kepalanya. Malu dengan praduga tanpa bukti.

__ADS_1


"Dasar anak bodoh. Kamu pasti bermimpi yang tidak-tidak. Kebanyakan halu. Persis author."


Heiiiii... Thor dengar yah.


"Memangnya kenapa kalau dengar?"


Kalau gak ada kehaluan thor, kalian semua gak akan ada disini sekarangggg... 😡😡🤣🤣🤣


"Serah thor wae." Tuan Abimanyu menyeringai.


"Lalu, dimana Baby Girl?"


"Di ruang bayi."


Henry bisa bernafas lega sekarang. Ia bisa melihat istrinya. Meski masih tertidur pulas. "Kau, balik ke kamar mu." Tuan Abimanyu mengusir Henry.


"Gak, Aku mau disini. Temani istri ku." Cetakkk. sentilan Tuan Abimanyu mendarat mulus di kening Henry.


"Kau yakin?" Nyonya Amel melirik penampilan Henry dari ujung kaki sampai ujung rambut. Bahkan wajahnya terlihat pucat.


"Hmmm..." Mengusap keningnya yang memerah.


"Yang ada malah Kau yang di jaga nantinya." ucap Tuan Abimanyu ketus.


"Oh, iya, Dad, Mom. Aku kenapa bisa tidur di ruangan itu?"


"Dad, Aku lelah. Kau saja yang jelaskan."


"Kekurangan cairan. Bahkan entah kapan terakhir kali Kau mengisi perut mu. Asam lambung naik, tekanan darah rendah, demam...." Dokter Alvin membantu menjelaskan. Ia hendak memeriksa keadaan Henry, tetapi malah tak ada di tempatnya. Ceceran darah di lantai. Bahkan mengotori pakaian yang Henry kenakan.


Alvin sudah mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tak kunjung di jawab. Ibu Sari yang mengetahuinya mempersilahkan Alvin untuk masuk.


Henry begitu panik saat mendengar kabar tentang Adel. Ia melupakan makan siangnya. Makan malam pun tidak. Jangankan makan, setetes air pun tak membasahi tenggorokanya. Pagi tadi hanya melahap selembar roti dan segelas kopi.


Melihat keadaan Adel, rasa laparnya hilang seketika. Meski ia memenuhi permintaan Adel, tetapi ia melupakan dirinya sendiri. Hingga larut malam, dan tubuhnya tak dapat lagi menahan keadaan dirinya yang begitu memprihatin kan. Terutama rasa takut yang berlebihan.


"Jadi, Tuan Henry. Silahkan kembali ke kamar Anda." Dokter Alvin menekankan setiap kalimat yang di ucapkan.


"Aku mau dirawat, tapi berdua istriku. Disini."


Mereka hanya bisa mengiyakan, Henry kembali di pasang cairan infus. Demam yang Henry alami sudah sedikit menurun. Penyebabnya karena dehidrasi, kekurangan cairan di tubuhnya.


Henry juga menurut saat Nyonya Amel menyuapinya makan. Meski hanya beberapa suap. Mulutnya pahit. Perutnya mual saat diisi makanan. Henry terbaring di sebelah istrinya. Ibu Sari sudah pulang. Ia akan menjemput Tuan Wira. Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu memilih beristirahat di kamar sebelah. Membiarkan sepasang suami istri itu menikmati waktu berdua.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2