
Jangan lupa like komen dan vote
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Pak Agus benar-benar sudah gila, dengan iming-iming yang tak seberapa, berani menyalah gunakan ke kuasaanya.
Aku harus menemui orang itu, dia sudah berjanji padaku akan membantuku jika aku berhasil.
Pak Agus menaruh harapan besar pada orang yang telah menyuapnya. Namun Arga dan Henry belum puas sampai disitu. Dia masih akan menyelidiki kasus ini diam-diam. Tanpa sepengetahuan pegawai kantor cabang.
Flash Back On
"Tuan, jika saya mengaku, apakah saya masih boleh bekerja disini? Saya mohon Tuan, anak saya butuh biaya untuk operasi. Anak saya yang baru lahir, menderita Atresia Ani. Saya terpaksa melakukan ini Tuan. Tolong jangan penjarakan saya Tuan." Deni, perwakilan dari bagian keuangan bersimpuh dihadapan Henry.
"Tergantung, saya puas atau tidak dengan pernyataan mu." Henry mengibaskan tangannya, Arga segera membantu Pak Deni kembali duduk.
"Saya dipaksa merubah laporan keuangan, saya harus menambah harga bahan baku produksi, dan uang itu masuk ke rekening Pak Agus, dia berjanji akan membiayai operasi anak saya jika saya melakukan itu." Pak Deni tak kuasa menahan air matanya, dia sangat menyesal, karena telah menggunakan uang haram untuk membiayai putrinya.
"Sudah berapa lama kamu melakukannya?" tanya Henry, kali ini dia menurunkan nada bicaranya.
"Sudah 6 bulan Tuan, dan saya harus bekerja sama dengan divisi produksi. Agar hasilnya sesuai." Pak Deni benar-benar merasa bersalah, tetapi bagaimanapun, dia harus mempertangung jawabkan perbuatannya.
Henry menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia jadi teringat El, sedang apa bocah gembil itu sekarang?
"Karena kamu sudah membantu saya, saya akan memaafkan kamu. Tetapi kamu tetap harus membayarnya." Henry menghela nafas sebentar.
"Bagaimana dengan saya Tuan?" tanya Kepala Divisi Produksi.
"Karena kamu sudah bekerja sama untuk memanipulasi data, kamu harus ikut Agus." ucap Henry dengan santainya.
"Tapi saya juga sudah mengakui perbuatan saya Tuan, saya juga punya anak dan istri yang harus saya penuhi kebutuhannya." ucapnya memelas.
"Seharusnya kamu memikirkan hal itu, sebelum kamu memutuskan sendiri ladang pangan mu. Disini kamu tak memiliki alasan yang jelas, kamu serakah, hanya tergiur uang yang tak seberapa. Tetapi kamu lupa bersyukur."
"Kalau kamu juga mau seperti dia, kamu punya anak seperti dia dulu, baru aku berikan pengampunan."
Cih, siapa yang sudi punya naka cacat seperti anaknya.
Dan saat itu juga Pak Agus datang, suasana tambah mencekam, karena raut wajah Henry yang kembali dingin.
Flash Back Off
__ADS_1
Dua orang tersangka sudah diamankan oihak berwajib, di ruangan itu tersisa 4 orang yang masih bungkam.
"Saya akan memaafkan mu kali ini, tapi jika terulang sekali lagi, maka kamu tahu sendiri akibatnya." Henry sedikit mengancam Fauzi, Henry tahu bahwa Fauzi orang yang cerdas dan bijaksana, dia memiliki pengetahuan dan kemampuan, itulah mengapa dia memilihnya menjadi kepala cabang tahun lalu.
"Ga, bawa dia keruangan ku." Henry menunjuk Pak Deni dengan dagunya.
"Silahkan duduk Pak Deni." Arga mempersilahkan Pak Deni duduk di sofa panjang diruangan Henry.
"Ga, tolong ambilkan amplop di laci ku." Arga segera menurutinya. Dan kembali membawa amplop coklat yang sedikit tebal.
"Ini biaya pengobatan anak mu, dan kamu bisa membuka usaha sendiri, mulai besok kamu tak perlu bekerja disini lagi." Henry mendorong amplop coklat ke hadapan Pak Deni.
"Terima kasih Tuan, terima kasih Ya Alloh." Pak Deni sujud syukur, meskipun dia dikeluarkan dari perusahaan, setidaknya dia masih bisa membiayai pengobatan anaknya sampai sembuh.Dan dia juga tak masuk bui bersama Agus dan yang lainnya.
"Terima kasih pada anakmu, aku tak mengasihani mu, tapi aku kasihan pada anak mu." ucap Henry datar.
Pak Deni pamit, dengan rasa terima kasih dan ucapan maaf yang tak henti dia rapalkan sepanjang jalan.
Dia benar-benar belajar dari kisahnya sendiri. El kau telah membawa perubahan besar dalam hidup Daddy dan kami semua.
"Apa kamu benar-benar Henry? Daddy El, atau orang lain yang menyamar?" Arga berputar mengelilingi Henry yang berdiri didekat dinding kaca.
"Heiii, kau sudah bosan bekerja padaku?" Henry mendengus, menonyor kepala Arga. dia tahu maksud Arga hanya ingin meledeknya.
"Kau ini sekarang cerewet sekali, kamu pasti ketularan virusnya Wulan."
"Hah mana ada Tuan, kalau aku bosan bekerja, bagaimana kalau aku yang jadi bos nya?"
Henry kembali menonyor kepala Arga. "Mimpi."
Aku cabut kata-kataku, aku cabut semua pujian ku.
"Kita pulang." Henry meninggalkan Arga seorang diri.
"Whattttt???? Benar-benar tak berperasaan." Arga menggerutu, membereskan beberapa dokumen yang dia perlukan, dan menyusul Henry.
"Tuan tunggu." Fauzi yang baru saja keluar dari ruangannya menghentikan langkah Arga.
"Hmmm..."
"Tuan yang kemarin bersama Wulan kan? Berarti Tuan tahu dimana Wulan bekerja." wajah Fauzi berbinar, ada sedikit harapan untuk menemui Wulan.
"Siapa Wulan?" Arga pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Wanita yang tempo hari bersama Anda, kita bertemu di warung pinggir jurang." ucap Fauzi penuh harap.
"Pinggir jurang katamu? kau pikir aku mau bunuh diri?" Arga meninggalkan Fauzi dengan wajah kesal.
"Tuan, tunggu sebentar, saya mohon, beritahu saya dimana Wulan sekarang?"
"Sudah ku bilang aku tak tau, dia hanya menumpang padaku waktu itu." Fauzi merasa kecewa, ternyata Arga juga tak tahu keberadaan Wulan. Padahal dia sangat berharap bisa bertemu Wulan.
Henry sudah menunggu Henry di dalam mobil. "Kau ini lelet, seperti kaki seribu."
"Enak aja, kamu kira siapa yang akan membawa dokumen ini? atau aku tinggal saja di sana." Arga terlihat sangat kesal, bukan karena Henry. Bukan karena dikatai kaki seribu, tetapi kesal dengan orang yang bernama Fauzi.
"Baiklah Tuan Arga, berhubung aku sedang baik, jadi kamu duduklah dengan baik disana. Hari ini aku yang akan menjadi supir Anda." Henry melepas jas yang dia kenakan, menaruhnya disandaran kursi. Dan melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban Arga.
"Aaaaaa, kau mau membunuhku? aku belum duduk dengan benar." Henry tertawa bahagia, berhasil mengerjai Arga.
"Siapa suruh kamu lelet? katamu ingin jadi bos, jadi aku supir mu." ucap Henry tanpa rasa bersalah.
"Dasar Kakak gak ada akhlak." Arga benar-benar kesal ingin menelan Henry sekali hap.
"Nah, kau baru sadar? Kapan aku terlihat ada akhlak padamu?" Arga ingin sekali mencekik orang disebelahnya, jika membunuh tak berdosa dan masuk penjara. Dia mencengkeram Henry dengan kedua tangannya.
"Hei, kau benar-benar sudah gila ya." teriak Henry yang masih mengemudi.
"Kau yang gila."
"Yah kau benar, aku memang gila, sangat tergila-gila dengan Adel, istriku, kesayanganku."
Lebih baik aku diam, percuma meladeni orang gila sepertinya. Nona Adel, apa yang kamu berikan padanya? Dia bisa menjadi bar-bara begini.e
Henry menambah kecepatan mobilnya, Arga hanya bisa memejamkan matanya, dia menyesal karena membiarkan Henry yang mengemudi.
"Berhenti, cepat berhenti, kalau kau tak ingin Adel menjanda." Teriakan Arga membuat Henry menghentikan laju mobil secara mendadak. Beruntungnya lalu lintas lengang, karena masih siang bolong.
"Cepat turun." Arga membuka pintu kemudi. Dia mengusap keningnya yang mencium dashboard mobil. Keningnya memerah karena ulah Henry.
"Baik-baik Tuan Bos Arga." Henry tekekeh melihat kemarahan Arga. Dia bergeser duduk disebelah kursi kemudi.
Sekarang Arga yang mengemudi, tanpa memperdulikan Henry yang terus mengomel layaknya emak-emak kehilangan uang belanjanya.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1