
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Mami... Huuu huu..." Al berlari ke arah dapur. Memeluk erat kaki Mami Adel yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Adel hanya bisa mendesahkan napasnya ke udara. Beginilah jika El sedang libur sekolah. Selalu ada saja cara untuk menjahili Al, adiknya.
"Ada apa lagi, hmm?" Adel mensejajarkan dirinya dengan Al. Menggendong gadis kecil itu duduk di kursi bar mini yang ada di dapur.
"Kakak El nakal, rusakin mainan Al sama Ara." adunya pada sang Mami. Adel hanya terkekeh mendengar penuturan putri kecilnya.
"Mungkin Kakak El mau bantuin Al. Buat mainan yang lebih bagus." bujuk Adel.
"No, Mam. Al sebel, sebel, sebel." Al merajuk, merosot dari pangkuan Adel. Ia menghambur pada Daddy Henry yang baru saja pulang dari kantor.
"Daddy, Kakak El nakal." Al mengerucutkan bibirnya lima centi. Begitulah sikap manjanya, ia akan mengadu jika dijahili El. Ia sangat suka menjahili Al yang cengeng dan mudah mengadu.
Tidak dengan Ara, bocah yang hampir berusia 4 tahun itu malah lebih suka bermain bersama El. Ara adalah adik Arlan, usianya paling muda diantara mereka berempat. Namun ia tak cengeng seperti Al.
"Emang Al diapain?" Tanya Henry, ia menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Al.
"Rusakin mainan Al. Al nggak mau main sama Kakak El. El mau sama Kakak Alan aja." Arlan lebih banyak mengalah, bisa momong kedua adik perempuannya dibanding El. Untuk itulah Al lebih nyaman bermain dengan Arlan. Namun sikapnya yang tak banyak bicara terkadang membuatnya juga merasa bosan.
"Bohong, Al bohong, Dad." Sanggah El. "Iya kan, Ra?" El menengok Ara yang masih sibuk menyusun lego membentuk rumah-rumahan. Bocah itu hanya mengangguk tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya. Ia terlalu fokus pada mainan yang ada dihadapannya.
"Tuh, Dad. Ara juga malah El bantuin. Dasar tukang ngadu." Geram El, ia menatap Al sebal. Masalah sedikit aja mengadu. Padahal ia hanya menjadi penengah antara Al dan Ara yang berebut eksesoris boneka.
"Biarin, Wekk..." Al menjulurkan lidahnya, merasa menang telah membuat Kakaknya kesal.
"Ihhh awas Kamu, Al." El membuang muka ke arah lain. Memilih kembali ke kamarnya dengan menghentakkan kaki.
"El, nggak boleh gitu. Al juga, kalian ini kakak beradik harus akur. Jangan saling bermusuhan seperti ini." tegur Henry.
Dasar anak kecil, bisanya cuma berlindung sama Mami and Daddy. Awas aja kalau perlu bantuanku. Nggak akan Aku bantu.
"Kak El, Arlan ada yang mau disampein nih." panggilan Arlan menghentikan langkah kaki El. Ia berbalik dan menemukan Arlan bersama Oma dan juga Eyang.
__ADS_1
"Mau apa? El capek, mau tidur." ketusnya. El melanjutkan niatnya untuk ke kamarnya. Lebih baik ia gunakan waktu untuk bermain video game. Mumpung libur, Mami pasti nggak akan melarang.
"Kak, tunggu." Arlan mengekor di belakangnya. Mereka berdua berdiam diri di dalam kamar. Sedangkan Ara ditemani Papa Arga dan Daddy Henry setelah mengganti pakaian.
Mama Wulan dan Mami Adel sibuk di dapur, sesekali di selingi sendau gurau. Mereka sudah merencanakan akan makan malam bersama. Untuk merayakan hari jadi pernikahan Oma Amel dan Apa Abi. Sengaja tak memberitahu mereka lebih dulu. Karena ingin memberikan kejutan.
Tuan Abimanyu lebih memilih menetap bersama anak dan cucu di Jakarta. Ia melimpahkan usaha peninggalan Ama pada Tuan Edric. Lelaki yang memiliki 4 cucu itu tak ingin jauh dari keluarganya. Hanya sesekali berkunjung untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Melewati hari tuanya dengan kebahagiaan bersama anak dan cucu. Melihat tumbuh kembang mereka adalah hal yang paling membahagiakan baginya.
.............
"Sepi banget, Dad? Katanya mau makan malam. Kemana semua orang?" ucap Nyonya Amel. Mereka berdua berjalan beriringan dengan tatapan tak menentu.
"Entah, Mom. Mungkin mereka sedang mengerjai kita." Tuan Abimanyu mengeratkan tangannya di pinggang sang istri.
"Dad, kesempatan deh." Nyonya Amel menepis tangan sang suami dari pinggangnya. Tetapi Tuan Abimanyu malah semakin mengeratkan tangannya.
"Kita jarang-jarang begini, Mom."
"Tadaa... Oma... Apaa..." teriak Al dengan suara cemprengnya.
"Dah tua, jadi pelupa." celetuh Henry, sontak mendapat cubitan diperutnya dari Adel. Wanita itu melototkan matanya sehingga disambut tawa oleh semua orang.
"Mom yakin, nggak inget?" ucap Wulan.
"Sepertinya memang faktor U. Jadi mereka melupakan hari jadi mereka sendiri." ujar Arga santai.
"Argaaaaa..." teriak Wulan dan Adel bersamaan.
"Hari jadi ya? Kita malah nggak inget." Nyonya Amel mengusap tengkuknya yang tak gatal.
"Itu sih Mommy aja. Daddy inget kok. Nih buktinya." Tuan Abimanyu mengeluarkan hadiah yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Dad, ini kan cincin pernikahan kita." Nyonya Amel menyipitkan matanya saat melihat kotak yang dibawa Tuan Abimanyu.
__ADS_1
"Iya, supaya Mom ingat. Mom nggak pernah pakai lagi sekarang ini. Jadi pelupa."
"Hehehe... Maaf, Dad. Habisnya jariku sekarang jempol semua. Mana muat itu cincin." Nyonya Amel menunjukkan jari tangannya. Bahkan garis halus mulai muncul di wajahnya di usianya yang lebih dari setengah abad ini.
"Hahaha... Makanya diet, Mom." celetuk Henry. Ia sangat senang menggoda Mommy Amel hingga membuatnya kesal.
"Dasar Anak...."
"Ssttt... Jangan diteruskan. Aku sudah tau kelanjutannya." Henry menempelkan jari telunjuknya di bibinya sendiri. Memberi isyarat agar Mommy Amel tak melanjutkan ucapannya dihadapan anak-anaknya.
"Mom, Dad. Silahkan." Adel memberikan pemotong kue untuk mertuanya.
"Ala mau, Al mau." Al tak ingin melewatkan moment tiup lilin dan potong kue. Gadis kecil itu segera berlari menuju Oma dan Apa.
"Ala itut... Ala itut..." Ara turut menghambur bersama Al menyela diantara Oma Amel dan Apa Abi.
"Iya, iya. Semua ikut. Jangan berebut." Nyonya Amel menempatkan Al dipangkuan kirinya. Begitupula Tuan Abimanyu yang mendudukan Ara di sebelah kanannya. "El, Arlan. Kalian nggak ikutan?"
"Nggak. Kita bukan anak kecil, benarkan, Arlan?" Keduanya beradu telapak tangan, saling bertos ria.
"Emm, itu mah buat anak kecil." sahut Arlan.
"Arlan, Oma sama Apa sudah tua. Dan masih melakukannya."
"Upss... Arlan... Kaburrr..." Kedua bocah itu menghambur menjauh dari meja makan. Dengan tawa yang mengiring.
"Awas kalian ya." Semua tertawa melihat tingkah El dan Arlan yang menyebalkan. Jika melihat mereka, Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel teringat Henry dan Arga kecil. Mereka selalu bertingkah menyebalkan untuk mencari perhatian Mom dan Daddynya.
...****************...
...----------------...
...****************...
Jangan lupa intip karya thor yang lain.
__ADS_1
•> Terjerat cinta Semu
Terima Kasih