Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Extra part 2


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Mamii... Al berdarahh..." El berteriak, memanggil Mami Adel di dapur. Adel datang tergopoh-gopoh. Ia bahkan masih membawa tempat kosong ditangannya. Baru sebentar ia meninggalkan Al dan Arlan bersama Wulan. Disana juga ada pelayan yang membantu menjaganya. Bagaimana Al bisa berdarah?


"Apa katamu? Dimana? Apanya yang berdarah?" Adel meletakkan tempat itu di sembarang tempat. Awalnya Adel ingin memgambil buah di kulkas untuk dihaluskan untuk Al. Yah, saat ini Baby Al sudah berusia 8 bulan. Ia juga sudah bisa duduk sendiri dengan tegak.


"Itu, mulut dan tangan Al berdarah semua." El menunjuk wajah dan tangan Al yang belepotan.


"El, Kau membuat Mami takut. Itu bukan darah, Sayang. Baby Al habis makan buah naga merah." jelas Adel. Ia melirik tajam pada Wulan yang pura-pura sibuk bermain dengan Arlan.


"Oowww... Begitu, Mam?" El baru melihat Al, ia baru saja pulang dari sekolah bersama Sisi.


Adel memang membiarkan Al belajar makan sendiri. Dengan empat giginya yang baru tumbuh, ia mulai senang mengigit. Termasuk saat haus, ia akan menggigit Mami Adel hingga meringis menshan sakit. Mami Adel akan memencet hidung Al hingga terlepas. Bukannya menangis, Al akan tertawa riang. Memamerkan dua gigi atas dan dua di bawah.


"Ahaaahaaa... Mammmm mammmm..." Al kembali bersemangat memasukkan potongan kecil buah naga. Tetapi tak hanya mulutnya, hidung serta pipi chubby nya belepotan.


"Hahaha... Mami, Al. Masa iya yang disuapi hidungnya." El tertawa renyah karena tingak lucu Al. Begitupun Arlan, ia ikut tertawa meski tak tahu apa yang di tertawakan.


"Hey, Arlan. Kau tertawa kenapa?" El mengapit pipi Arlan dengan kedua tangannya. Sehingga bibirnya keliahat mengerucut. "Hahaha... Mama, Arlan lucu banget. Lihat deh."


Saat Arlan akan membalasnya, El segera berlari, bersembunyi di belakang Mami Adel. "Tata... Tata..." Arlan mengejar El dengan tangan berusaha meraih El yang jauh dari jangkauannya.


"Kau ini, suka menjahili adik-adik mu." Adel dan Wulan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keisengan El pada kedua adiknya.


"Biarin, habisnya lucu, Mam. Apalagi kalau nambah banyak adik bayi. Pasti rame seperti di sekolah." El menopang dagunya dengan tangannya. Membayangkan ia mempunyai adik lebih dari dua, pasti akan sangat menyenangkan untuk menjahili mereka. Hahaha...

__ADS_1


"Kau ini, Mami yang pusing. Anak dua juga kalau jahil ampun. Eh, tapi, Arlan boleh juga punya adik lagi."


"Nah, Mama... Bikinin adik bayi buat Arlan ya." El menyeringai tanpa dosa.


"El, El, Kau kira buat adik bayi seperti bikin kue." Wulan mencibir, namun masih mengulaskan senyum di bibirnya. Ia dan Arga memang ingin memiliki lebih dari satu. Karena tak enak jika hanya menjadi anak tunggal. Pasti rasanya kesepian, walaupun berlimpan kasih sayang. Namun disaat tertentu, pasti membutuhkan saudara.


Seberapapun sering bertengkar, saling berebut. Tetapi tetap merindukan satu sama lain. Terutama jika mereka saling berjauhan.


"Wah, rame banget nih. Daddy boleh ikut gabung gak?" Henry sengaja pulang lebih awal. Setelah meeting di luar kantor, ia segera meluncur ke rumah. Ia sudah sangat merindukan putra putrinya. Dua hari belakangan ia selalu berangkat lebih awal dan pulang larut. Sehingga mereka masih terlelap.


"Daddyyy..." El berteriak kegirangan, begitupun Arlan. Namun Arlan terus menatap ke arah pintu, seolah mencari Papa Arga.


"Kemari, Sayang. Papa masih ada pekerjaan, main sama Daddy dulu ya." Henry merentangkan tangannya menyambut Arlan. Namun El menatap tajam Arlan. Sehingga Arlan berhenti dan menatap Wulan dengan wajah sendu. "Mam-mama..." matanya berkaca-kaca.


"Kakak El, gak boleh begitu." Henry memperingati. El menjemput Arlan, ia menggendongnya dengan susah payah.


"Dad, Arlan berat nih." El memberikan Arlan pada Daddy Henry, kemudian berbalik menjahili Al sampai menangis. Sebelum akhirnya ia menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Karena El masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Ya ampun, incess Daddy." Henry berjongkok dengan Arlan di tangan kirinya. Namun Al masih menangis.


"Hahaha... Ada yang cemburu nih." Ledek Adel, ia mengambil alih Arlan, namun Arlan malah semakin mengeratkan pelukannya di leher Henry.


"Unnchh.. Sayangnya Daddy..." Henry meraih Aline yang baru saja dibersihkan Adel dengan tisu. Seketika bayi perempuan itu tertawa girang. Henry membawa keduanya ke ruang bermain. Rasa lelahnya menghilang begitu saja. Terlebih saat melihat senyum di wajah putra putrinya.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Nah-nah, semakin seru aja nih tingah El dan kedua saudaranya. Oh, iya, thor mau kasih info. Kalau gak ada halangan, Insya Alloh kisah Kak Rey bakal di rilis awal bulan depan. Untuk info lebih lanjut, boleh di akun ig thor @keynan7127.


Rencana pengin juga buat GC sendiri, tapi sayang sekali followersnya belum mencukupi. Mari ramaikan lapak thor dan ikuti akun thor ya reader. Terima kasih.


...****************...


Rara menemui kedua sahabatnya, dengan ponsel masih menempel ditelinga. "Kemana sih Bunda ini?" Rara menggigit ujung jari telunjuknya. Bunda tak kunjung menjawab telepon darinya.


"Kenapa sih Ra?" tanya Mila.


"Tau nih, tadi Bunda telepon aku banyak banget panggilan. Tapi giliran dihubungi balik gak diangkat." Rara mendaratkan tubuhnya pada kursi panjang disebelah Shena. Sedangkan Mila duduk disebelahnya.


"Coba ke nomor rumah." ucap Shena.


"Gak diangkat juga. Ayah jam segini masih sibuk bekerja. Gak mungkin aku ganggu juga." Rara mendesah frustasi, meletakkan benda pipih ditangannya.


"Ya udah sabar aja, mending makan dulu, aku udah pesenin makanan kesukaan kamu loh." Shena menyodorkan makanan dan minuman yang menjadi favorit Rara.


Baru seteguk jus yang dia minum, saat gawainya bergetar diatas meja. "Pak Wawan?"


"Angkat aja, siapa tahu penting." Rara menurut saja, padahal tadi pagi dia sudah berpesan tidak ingin dijemput.


Rara hanya mengangguk saat Pak Wawan berbicara ditelepon, namun bulir air mata terus membasahi wajah cantiknya. Ponsel yang dia genggam jatuh begitu saja, bersama tubuhnya yang sepeti tak ada aliran darah.


"Ra, kamu kenapa Ra?" Shena menyandarkan kepala Rara dibahunya. Mila segera mendekati Rara dan mengusap air mata diwajahnya.


"Ra, bilang sama kita. Apa yang sebenarnya terjadi?" Mila meraih ponsel Rara yang terjatuh dipangkuannya. Panggilan telah berakhir, namun Mila menghubungi nomor panggilan terakhir.

__ADS_1


Mila memeluk sahabatnya erat, Rara tak bersuara, hanya air mata yang mewakili semua yang dia rasakan saat ini. "Ra, sabar ya, semuanya pasti baik-baik saja."


"Ada apa La? cepat katakan." Hanya Shena yang tak mengerti apa yang terjadi, kedua sahabatnya menangis saling berpelukan.


__ADS_2