Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-67


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry pulang lebih awal dari biasanya, karena ia dan Arga tak kembali lagi ke kantor setelah meeting terakhirnya diluar kantor. Ia sengaja menjemput Adel tanpa mengabari terlebih dahulu.


"Selamat sore, Tuan." Nia memberi salam pada Henry, ia sedang membereskan lembaran kertas yang berserak di mejanya.


"Sore, istri saya ada di dalam?" tanya Henry.


"Ada, mari saya antar." Nia ingin mengantar Henry, tetapi Henry segera mengangkat tangannya. Membuat Nia mengurungkan niatnya.


"Biar saya sendiri." ucap Henry, ia mengetuk pintu beberapa kali. Seperti sedang bertamu.


"Silahkan masuk." terdengar suara Adel dari dalam, ia masih fokus pada layar komputer di hadapannya. Suara ketukan kembali terdengar, padahal Adel sudah mempersilahkan masuk.


"Nia, masuk aja."


Suara pintu diketuk untuk ketiga kalinya, membuat Adel geram. Ia segera bangun dari kursi kebesarannya, siap memaki Nia yang ia pikir sedang mengerjainya. "Nia, gak us...."


"Hai sayang..." Henry menyeringai dihadapan Adel, sehingga Adel harus menyimpan makian yyang akan dia tujukan untuk sekertarisnya itu.


"Loh Dad, tumben kesini." Adel tak menutup pintu, juga tak mengajak Henry masuk. Ia kembali ke meja kerjanya, dan mengabaikan Henry yang diam mematung di depan pintu. Nia hanya berani menahan tawanya melihat tingkah bosnya.


"Udah gitu aja? kan Aku mau kasih surprise buat istriku ini." Henry duduk dihadapan Adel dengan meja sebagai penghalang. Adel tak menjawab, ia masih fokus dengan layar komputer.


"Hmmm... ngapain kesini?" tanya Adel, tanpa mengalihkan pandangannya pada dokumen dan layar komputer secara bergantian.


"Emangnya gak boleh jemput istri sendiri?" Henry memutari kursi, memeluk Adel dari samping.


"Ya boleh, tapi Aku masih kerja."


"Hah, kalau gitu kerja aja terus."


"Ini juga lagi kerja, Kamu yang gangguin Aku."


"Sayang, seberapa penting kerjaan sama suami?" Henry melipat tangannya di dada. Ia menopang tubuhnya pada ujung meja kerja Adel.


"Penting semua."


"Harus pilih satu dong." Henry menarik tangan Adel, sehingga mereka saling berhadapan.


"Kamu mau jemput Aku kan?" Henry menganggukkan kepalanya. "Jadi Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Baru kita pulang bareng." Adel kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi ini sudah hampir jam pulang kerja sayang." Henry mengecup pipi Adel, ia mulai nakal mengganggu Adel.


"Dad, kalau diganggu terus kapan selesainya? ini tinggal dikit." Adel menepis tangan Henry dari wajahnya.


"Baiklah! 5 menit Aku tunggu." Henry menjauh, ia mendudukkan dirinya disofa yang ada di ruangan itu. Mengamati Adel yang sedang fokus berkerja.


"Ternyata istriku sangat cantik kalau lagi serius begitu." gumamnya dalam hati, ia terus mengawasi Adel. Tak sampai 5 menit, Adel sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga sudah membereskan meja kerjanya.


"Dad, sudah selesai. Ayo pulang." Adel meraih tas jinjingnya. Tetapi Henry tak merespon sedikit pun. Ia sibuk senyum-senyum sendiri. Membuat Adel menggelengkan kepalanya.


"Dad..." Adel mengibaskan tangannya dihadapan Henry. Masih tak ada respon.


"Daddy, suamiku sayang. Jadi gak kita...?" bisik Adel di telinga Henry.


"Jadi, ayo kita...." Henry menarik tangan Adel, sehingga Adel tersentak dan terduduk dipangkuan Henry.

__ADS_1


"Dad, kita masih di kantor." Adel mendorong Henry sedikit menjauh.


"Hah, terus tadi... " Adel menunjuk hidung Henry, dan mencubitnya pelan.


"Dad, Kau pasti sedang berkhayal ya kan. Jangan bilang Kau menghayal hal mesum."


Henry meraih tangan Adel dan mengecupnya. Ia memang sedang membayangkan tentang Adel yang tidak-tidak. Hahaha.. Tapi apa salahnya? Ad3l kan istrinya sendiri. "Kau selalu mengerti Aku." Henry mengecup bibir chery Adel sekilas. "Jadi pulang? atau kita menginap saja disini?" Henry menggoda Adel dengan menaik turunkan alisnya.


Adel segera berdiri, ia meraih tas yang di taruhnya diatas meja kaca. Meninggalkan Henry yang menertawainya. "Kau saja yang menginap. Aku mau pulang." Adel terus berjalan, tanpa menunggu suaminya yang terus memanggilnya.


"Ayolah sayang, Aku hanya bercanda. Senyum dong." Henry menarik kedua sudut bibir Adel dengan kedua telunjuknya, sehingga Adel nampak tersenyum. Ia memang tak kehabisan akal untuk membuat Adel tersenyum.


"Nah gini kan tambah cantik." Henry meraih pinggang Adel dan memeluknya erat, seolah takut jika istrinya diambil orang.


"Apa sih, malu tau dilihatin banyak orang." Adel merasa malu saat puluhan pasang mata menatap mereka. Tetapi Henry malah acuh, ia sengaja pamee kemesraan dihadapan para pegawai Wiranata Coporation.


"Biar semua orang tahu, bahwa Kau, Adellia Jasmine, adalah istriku. Istri Henry Arjun Syahreza."


"Terserah kau saja." Adel mengabaikan lirikan para pegawainya. Ada yang menatap takjub, ada yang iri dan banyak pula yang mendoakan.


Henry menuntun istrinya menuju mobil mewahnya. Kedatangannya tentu membuat heboh kantor tempat Adel berkerja. Tetapi Henry tak pernah memedulikan hal itu, yang terpenting ia dan kehidupannya sendiri.


"Sayang, Kau tahu tidak...?"


"Gak tau... kan belum dikasih tau." jawab Adel enteng.


"Sayang, Aku belum selesai bicara. Kamu ini bikin Aku gak sabar."


"Sabar lah Dad."


"Gak sabar buat memakan mu." Adel langsung terdiam, ia tak mungkin melanjutkan lagi jika ancamannya seperti itu. Henry tak akan main-main jika urusan makan memakan.


"Jadi, tadi mau cerita apa?"


"Kasihan gimana?"


"Kasihan, ia selali disalahkan sama Wulan. Terus tingkah Wulan jadi aneh katanya, diluar kebiasaannya."


Kenapa suamiku sekarang jadi hobi gosip gini sih?


Adel hanya membatin, ia masih mendengarkan cerita tentang Wulan. Henry menceritakan tentang Wulan sesuai yang diceritakan Arga tadi siang. "Wulan sekarang suka banget cium Arga pas pulang kerja, tapi kalau dia mandi malah dimarahin. Hahaaaa..." Henry tak dapat menahan tawanya saat menceritakan kembali kisah Arga.


"Iuhhh... bukankah biasanya Wulan paling suka kebersihan?" Adel membayangkan saja geli apalagi sampai melakukannya.


"Makanya Arga selalu dibuat pusing, kerja sampai gak fokus."


Pasangan suami istri itu membahas masalah Arga dan Wulan sepanjang jalan, sampai tak terasa mereka sudah sampai di depan pagar rumah. Sepertinya kisah Arga menjadi hiburan tersendiri bagi keduanya.


...----------------...


Arga sampai dirumah dengan menenteng kotak makanan. Ia sengaja membeli makanan untuk makan mereka berdua. Sebelum-sebelumnya Wulan tak memasak untuknya.


"Bawa apa itu?" tanya Wulan dari arah dapur.


"Aku belikan makanan kesukaan mu." Senyum menghiasi bibir Arga. Dalam perjalanan Arga sudah membayangkan Wulan akan senang karena ia membawakan makanan kesukaannya. Tetapi kenyataannya malah sebaliknya, Wulan tiba-tiba menangis dengan menelungkupkan tangannya diatas meja.


"Huuuhuuu... Kamu jahat, Aku sudah susah payah masak tapi malah Kamu beli makan di luar." ucap Wulan sesegukan.


Arga menghela nafas sejenak, ia menaruh makanan di atas meja, kemudian meraih bahu Wulan dan memeluknya dengan sayang. "Maaf ya sayangku, nanti Aku makan masakan mu yang paling enak, tapi Aku takut Kamu bosan dan ingin makan yang lain. Jadi Aku sengaja belikan untuk mu."

__ADS_1


"Benaran? Gak bohong?" Wulan mendongakkan kepalanya, melihat kesungguhan di wajah suaminya. Arga segera menganggukkan kepalanya dengan binar di matanya. Akhirnya Wulan dapat uia luluhkan.


"Jadi, sekarang Aku mandi dulu, baru kita makan bareng." Arga mendudukkan Wulan di kursi sebelumnya. Tetapi Wulan mencegahnya, ia meminta Arga segera makan masakan yang ia buat. Meski Arga sudah merasa gerah dan tak nyaman dengan dirinya yang berkeringat, tetapi ia menurut saja. Daripada ia disalahkan lagi.


Katanya tadi gak mau dibeiin makanan dari luar, nyatanya tinggal tempatnya aja yang tersisa.


"Pelan-pelan aja makan, gak akan ada yang minta juga." Wulan mengabaikan ucapan Arga, ia makan seperti orang kelaparan. Benar-benar membuat heran.


Selesai makan, Wulan terus menempel pada suaminya, ia tak membiarkan Arga kemanapun. Bekas makan dibiarkan begitu saja. "Biar Aku bereskan dulu meja makan, baru kita tidur." bujuk Arga, tetapi Wulan malah ngambek.


Arga terpaksa menemani Wulan hingga terlelap, sekarang ini Wulan juga merasa dirinya sangat mudah lelah. Meski hanya melakukan kegiatan ringan. Ia sendiri juga heran, semua yang dia lakukan di luar perkiraan.


"Sebaiknya Aku mandi dulu." Arga mengalihkan tangan Wulan dengan sangat pelan, ia melakukan segalanya dengan perlahan. Tak ingin membangunkan Wulan yang terlihat sangat lelah. Memang hari ini tempat tinggalnya terlihat rapi dari hari sebelumnya.


Selesai mandi, Arga membereskan bekas makan mereka. Ternyata di dapur seperti kapal pecah, sehabis memasak Wulan membiarkan peralatan dapur berserak.


Sebenarnya ada apa dengan mu? Kalau begini butuh orang untuk bantu-bantu. Aku gak akan sanggup mengerjakan semuanya sendiri sekarang.


Arga hanya bisa menggaruk tenguknya sendiri, ia harus membereskan kekacauan di dapurnya. Atau Wulan akan menyalahkan dia seperti sebelumnya. Karena lelah, Arga tertidur tanpa membereskan pakaian kotor yang berserak.


Arga meraih gawainya, ia menghubungi mansion. Kebetulan Bibi Mey yang menjawab. Arga segera minta seorang untuk membantu Wulan di apartement. Sebelumnya Wulan menolak karena bisa melakukan sendiri. Tetapi sekarang Arga membutuhkannya.


Arga juga menanyakan keadaan Wulan pada Dokter Alvin. Ia menceritakan keanehan dari sikap Wulan akhir-akhir ini. Dokter Alvin hanya menanggapi dengan kekehan, tetapi ia juga menyarankan Arga untuk melakukan pemeriksan pada Wulan besok pagi untuk memastikan.


...--------------...


Keesokan harinya, Dokter Alvin bersama seorang wanita datang untuk memeriksa keadaan Wulan. Wulan baru saja terbangun, begitu melihat wajah Alvin, Wulan tiba-tiba merasa mual yang luar biasa. Ia segera berlari ke kamar mandi, Arga smenyusul istrinya. Dan memberikan alat tes kehamilan, Wulan hanya mengernyit heran, tetapi ia tetap melakukannya.


"Aku gak perlu ini Ga. Lagi pula haid ku masih belum lewat. Kalau tepat besok baru tanggalnya." Wulan berkilah, tetapi Arga memaksanya.


"Gak ada salahnya dicoba kan?" Wulan mengiyakan saja, iseng-iseng berhadiah batin Wulan.


Arga dan Dokter Alvin menunggu di luar, Wulan menutup matanya sendiri. Ia sangat takut jika hasilnya tak sesuai harapan. Setau dia, tes kehamilan biasanya dilakukan jika sudah lewat dari tanggal haid. Wulan mengintip perlahan dari sela jarinya.


Terdapat dua garis dengan satu garis samar, perasaannya tak karuan, antara senang juga tak menyangka akan secepat ini diberi kepercayaan. "Aku gak salah lihat kan?" Wulan mengerjapkan matanya beberapa kali, hasilnya masih sama.


Wulan menuju ke ruang tamu, wajahnya lesu. Seperti tak bersemangat, ia hanya bisa menjaga jarak dari Dokter Alvin dan asistennya.


"Bagaimana hasilnya?" Arga tampak bersemangat, setelah mendengar penjelasan Dokter Alvin bahwa kemungkinan besar Wulan hamil.


Wulan menggelengkan kepalanya, nampak kekecewaan yang Arga tunjukkan. Senyuman mulai memudar dari wajahnya namun ia masih tetap memaksakan senyumannya. "Gak apa-apa, mungkon belum waktunya."


"Boleh Saya lihat hasilnya?" ucap asisten Alvin.


Wulan menyerahkan 3 alat tes kehamilannyang menunjukkan hasil yang sama. Satu garis masih samar. "Selamat, Tuan dan Nyonya. Kalian akan segera memiliki bayi." ucap wanita berambut pendek itu.


Wulan dan Arga saling melempar pandangan, begitupun Dokter Alvin yang memeriksa kembali alat tersebut. "Hasilnya positif, tetapi usia kandungan masih muda. Hormon HCG masih belum kuat. Untuk memastikannya, sebaiknya diperiksa di rumah sakit." ucap wanita itu, yang merupakan dokter obgyn.


Arga berkaca-kaca, ia memeluk Wulan erat, menghadiahkan banyak kecupan diwajah Wulan. Ia bahkan mengelus perut Wulan yang masih datar. Disana tumbuh benih yang telah ia tanamkan sebelumnya.


"Ehemmm..." Dokter Alvin berdehem, ia dan dokter wanita itu merasa diabaikan. Arga baru menyadari kehadiran keduanya, sedari tadik ia tak memedulikan mereka berdua yang masih ada disana. Arga dan Wulan merasa malu sendiri.


"Sebaiknyabkalian kembali ke rumah sakit. Aku akan menyusul nanti." ucap Arga setengah mengusir tamunya.


"Ayo pulang Sis, kita udah gak dibutuhin lagi." ucap Dokter Alvin pada dokter wanita yang bernama Siska.


"Tanpa Kamu usir Kami masih punya banyak pekerjaan. Dasar gak punya adab, tadi maksa-maksa datang, sekarang malah. Habis manis sepah dibuang." Dokter Alvin meninggalkan apartement Arga sambil menggerutu, diikuti Dokter Siska yang mengekor dibelakangnya.


Sedikit banyak, Dokter Siska sudah memberikan wejangan utuk Wulan dan Arga. Tetapi lebih jelasnya, akan dijelaskan di rumah sakit nanti.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2