Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Birth Day Party


__ADS_3

Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.


 


 


Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.


 


 


Terus ikuti keseruan Baby El.


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


"Drama akan segera dimulai." Edo menyeringai. Kemudian menabrak bahu Gaby, dan meninggalkannya disana. Edo menuju tempat acara, menemui keluarga Syahreza.


 


 


Edo terus berjalan, dia mendekati Henry dan keluarganya. Henry yang hendak melepaskan pelukannya, tak jadi melakukan niatnya. Justru dia semakin erat memeluk Adel.


 


 


"Tuan, tolong lepaskan, disini banyak orang." ucap Adel setengah berbisik.


 


 


"Diamlah!" Henry mencubit pinggang Adel. Dia tak mau kalah, Adel menginjak kaki Henry dengan heels yang dia pakai.


 


 


"Awww kau menginjak kakiku?" Henry memicingkan matanya.


 


 


"Selamat ya Tuan Henry." Edo mengulurkan tangannya.


 


 


"Terima kasih Tuan Edo." Henry memaksakan senyum, dia menahan nyeri di kakinya.


 


 


"Siapa wanita cantik ini? Apa kau tak berniat mengenalkannya padaku Tuan?"


 


 


"Maaaammmi..." El yang berada digendongan Henry memanggil Adel.


 


 


"Kau dengar sendiri? El memanggilnya apa?"


 


 


"Kau pandai sekali mencari pengganti Metta." ucapan Edo membuat Henry menggertakkan giginya. Nadanya halus, namun sangat menusuk.


 


 


"Yah tentu saja Tuan." Adel angkat bicara, entah ada angin apa dia berani berbicara seperti itu.


 


 


"Kau manis sekali Nona." Edo mengedipkan sebelah matanya.


 


 


"Dasar menyebalkan." Adel mengalihkan tatapannya.


 


 


"Arrrr, kemari, kita akan memulai acaranya." panggil Ama.


 


 


"Permisi Tuan Edo." ucap Henry. Dia menuju meja kecil tempat kue ulang tahun.


 


 


Kita lihat saja nanti, aku tak akan membiarkanmu begitu saja.


 


 


Layaknya orang tua pada umumnya, Adel dan Henry mengapit El. Henry menggedong El, dan Adel disebelahnya, mereka bernyanyi bersama.


 


 


Baby El terlihat bahagia, dia bertepuk tangan, begitupun Ama, Tuan dan Nyonya Syahreza. Henry seolah lupa dengan kesedihannya, dia terbawa suasana bahagia saat ini.


 


 


Juru foto menjepret mereka beberapa kali, mengabadikan moment bahagia keluarga sultan ini. Sungguh membuat orang yang melihatnya merasa iri.


 


 


Setelah bernyanyi dilanjutkan tiup lilin, El yang tak sabar mencolek crem yang ada pada kueh. Dia menempelkan pada wajah Henry. El mengira kueh itu mainan, karena berbentuk tayo, mobil yang sedang trend dikalangan anak anak.


 


 


"Hahahaaaaa..." tawa semua orang disana.


 


 


"Kau mengerjai Daddy?" Henry melakukan hal yang sama, dia mengolesi cream dihidung El. Kemudian menciumnya, ini pertama kalinya Henry memamerkan kemesraanya dengan El.


 


 

__ADS_1


"Ummmmm maaaaa, ummmm..." rengek El.


 


 


"Adel dia mau kalian menciumnya." teriak Rena dibelakang Ama.


 


 


Kedua orang dewasa itu menempelkan bibirnya di kedua pipi El. Tangan El masih ada cream, jadilah pipi Adel belepotan.


 


 


"Yeeeeeeee..." El tertawa bahagia.


 


 


"God Job El." Nyonya Amel menunjukkan jempolnya.


 


 


"Dasar menyebalkan, masih bayi sudah berani mengerjaiku." gerutu Henry.


 


 


"Rasakan pembalasanya Tuan." Adel menyeringai.


 


 


"Hahahaaaa..." tawa Adel diikuti semua hadirin.


 


 


Acara berlangsung meriah, meskipun tak banyak undangan yang hadir. Henry berbaur dengan tekan rekannya. Begitupun Tuan Abimanyu, Nyonya Amel menemani ibu ibu +62. Sedangkan Ama dan Rena tak pernah berpisah dengan Adel dan Ansell.


 


 


"Kau bahagia sekali nak." Ama mengusap pucuk kepala El.


 


 


"Adel, kau cantik sekali, ibu sampai tak mengenalimu." ucap Ibu Sari.


 


 


Sedari tadi dia mencari keberadaan Adel ditengah kerumunan, tapi tak mendapati anaknya itu. "Ibu." Adel terkejut melihat Ibu Sari hadir disana.


 


 


"Ahhh Adel kangeen.." Adel memeluk ibunya. Tak jauh dari sana sepasang mata mengawasinya.


 


 


Ternyata dia Adellia? Orang yang sama dengan difoto itu. Dia terlihat sangat berbeda dengan yang di foto, jauh lebih cantik.


 


 


"Iya, ibu juga kangen, apa ini Baby El?" Ibu Sari mendekati El.


 


 


 


 


"Sayangg, panggil dia Eyang." tunjuknya pada Ibu Sari. Namun El malah berjalan kebelakang Adel, beginilah sekarang, jika bertemu orang baru. Baby El pasti takut.


 


 


"Ehh jangan takut El, dia Ibunya Mami." ucap Ama.


 


 


"Mamm?" El dengan wajah polosnya.


 


 


"Yah, Eyang." ucap Rena.


 


 


"Yaaannn?"


 


 


"Yah, anak pintar." Adel menganggukkan kepalanya, dan mengelus wajah El.


 


 


Baru lah El berani mengintip, tangannya terulur, tetapi wajahnya dibahu Adel. "Kau lucu sekali, menggemaskan." puji Ibu Sari.


 


 


"Ibu siapa yang mengantar kemari? Kenapa tak mengabari Adel?" tanya Adel.


 


 


" Maaf Adel, Ama dan Amel yang merencanakan ini. Mulai sekarang kita adalah keluarga." Ama tersenyum tulus.


 


 


"Terima kasih Ama." Adel mengusap pinggung tangan Ama. Matanya berkaca kaca menahan haru.


 


 


Ibu juga bahagia El, akhirnya kamu menemukan keluarga sebaik mereka. Yang menerimamu, dan menyayangimu dengan tulus.


 


 


"Jangan berterima kasih, ingat sudah seharusnya Ama melakukan ini."


 


 


"Kenapa jadi melow gini sih? Kita kan lagi merayakan ulang tahun El." ucap Rena.

__ADS_1


 


 


"Ama, apa Anda ingin makan sesuatu?" tanya Rena. Dia ingin sekalian mengambil makanan.


 


 


"Tidak tolong bawakan Ama minum saja, dan untuk ibuu...?"


 


 


"Panggil saya Sari Nyonya." jawabnya.


 


 


Gaby menemui kerumunan, ia mendekati El dan yang lain, dia membawa papper bag berisi kado, mainan keluaran terbaru.


 


 


"Hai semua." sapa Gaby. Semua yang disana hanya menoleh, saling melempar pandangan. Siapa wanita dengan pakaian kurang bahan ini? pikir mereka.


 


 


"Hallo semua, perkenalkan saya Gaby." ucapnya mengulurkan tangan.


 


 


"Siapa dia El?" tanya Ibu Sari pada Adel.


 


 


"Entahlah Bu, mungkin dia salah orang." bisik Adel.


 


 


Dia ingin menjabat tangan Ama, karena tak ingin membuat citranya buruk, Ama menerima uluran tangannya dengan terpaksa. Begitupun Adel dan Ibu Sari.


 


 


"Bolehkah saya bergabung disini?" tanya Gaby. Tetapi semua diam saja. Merasa tak direspon, Gaby tak habis akal, dia duduk disebelah El. Dan menyerahkan paper bag yang ia bawa.


 


 


"Happy birth day El sayangg.." ucapnya sok ramah.


 


 


"Maaammmmii..." El langsung beranjak, dia lari kepelukkan Adel.


 


 


"Heii tenanglah El, dia tante Gaby." Adel mencoba memberi El pengertian.


 


 


"Apa kau mau ini?" Gaby menyodorkan kado yang dia bawa. El semakin ketakutan, dia menutupi wajahnya pada Adel.


 


 


"Terima kasih Nona, maaf El hanya tak terbiasa dengan orang baru."


 


 


"Ama ini minumnya." Rena yang baru saja datang, dia membawakan juga minum untuk Adel dan Ibu Sari. Mereka duduk lesehan secara melingkar.


 


 


"Upsss maaf Nona, aku tak sengaja." Rena menumpahkan minum di gaun Gaby. Dia pura pura mengambil tisu, untuk membersihkan baju Gaby.


 


 


Ama terkikik, Adel menahan tawanya. Gaby segera bangkit, "Dasar kauuuu..." Gaby menunjuk Rena dengan telunjuknya.


 


 


"Dasarr apa hah? Berani padaku?" Bukanya takut Rena malah semakin berani.


 


 


Ama berdiri, dia memegangi lengan Rena. "Sudahlah Ren, malu dilihat orang." ucapnya.


 


 


"Awas kau lain kali aku balas." Gaby mendengus, dia sangat malu dengan penampilannya, yang basah dibagian sensitifnya.


 


 


"Hahahahaaaaa.." tawa Adel dan semua yang ada disana.


 


 


"Kamu hebat Ren, Dia terlihat seperti El, ngompol dicelana." cela Ama.


 


 


"Kalian menertawakan apa?" tanya Nyonya Amel yang baru datang.


 


 


"Tuhhhh.." Ama menunjuk dengan dagunya.


 


 


"Wahahahaaa, siapapun pelakunya, yang pasti aku sangat bangga." ucap Nyonya Amel.


 


 


TBC


 


 


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2