
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Hahahaaaa..." Mereka berdua tertawa berjamaah.
Tuan Abimanyu yang baru datang merasa heran. "Apa ada yang lucu Mam?" tanyanya.
"Yah benar benar lucu," ucap Ama. Tuan Abimanyu mengernyit.
"Apanya yang lucu?" gumamnya.
"Your Son" ucap Nyonya Amel.
"Ada apa dengannya Mom?" Tuan Abimanyu semakin heran.
"Kau tahu Dad? Sepertinya kita akan memiliki hiburan setiap hari disini," ucap Nyonya Amel.
"Maksudmu?"
"Ah sudahlah, nanti saja aku ceritakan, sekarang mari kita sarapan," ucap Ama. Mereka sarapan dalam diam, seperti biasanya. Meskipun Tuan Abimanyu masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
...----------------...
Dikantor HS Gruop.
Henry telah duduk dikursi kebesarannya. Rapat baru saja dimulai. Terdengar sedikit alot, karena Henry terus menyudutkan Wijaya Corp. Namun akhirnya berhasil meyakinkan.
"Oke rapat hari ini sampai disini, kita akan melakukan kesepakatan pada pertemuan mendatang," ucap Henry berdiri dari duduknya. Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali Hani, dia menjadi salah satu perwakilan Wijaya Corp.
"Ga bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Henry, mereka berada dilift khusus.
"Ya Tuan, semua sudah saya kirimkan ke email Anda," ucap Arga.
"Bagus, nanti akan saya cek," ucap Henry, dia sudah tak sabar ingin menjatuhkan musuh dalam selimut. Yah, salah satu staff nya adalah mata mata Wijaya Corp, yang bekerja sama dengan rival nya.
Berani sekali mempermainkan ku, kau pikir aku bodoh? Cukup Mommy yang mengataiku bodoh, hah kenapa bisa aku punya Mommy sepertinya.
Mereka berdua sampai diruangan Henry, ia segera menyalakan komputernya. Dan membuka email yang dimaksud Arga.
Tak butuh waktu lama baginya mengetahui dalang dibalik ini semua. HS Group mempunyai beberapa ahli IT yang mumpuni, mereka semua behind the scenes.
Termasuk Arga yang lulusan IT terbaik, University of Oxford, England. Yang merupakan universitas terbaik ketiga, dalam jurusan ilmu komputer. Sedangkan Henry sendiri, lulusan Harvard Bussiness school.
"Dan Anda harus melihat ini Tuan," Arga memerikan map cokelat pada Henry.
Henry membuka map itu, ia segera meremas kertas dan foto yang ada didalamnya. Sambil menggertakkan giginya, kali ini Henry sangat marah.
"Perketat penjagaan El, jangan biarkan mereka keluar mansion sendirian," ucap Henry.
"Dan jangan biarkan siapapun berani menyentuh keluargaku," lanjutnya.
Saya tahu Anda sangat menyayangi Tuan Muda Kecil, dari cara Anda melindunginya. Walaupun Anda selalu mengabaikannya, tetapi itu semua berlawanan arah. batin Arga.
Pintu ruangan diketuk, Arga sudah membereskan tugasnya. Hani masuk dengan santainya. "Hello, Tuan Henry , bolehkah saya duduk?" ucapnya dengan nada centil.
__ADS_1
Mau apa lagi si sundl jepit ini? Haddeh nambah lagi kerjaanku. batin Arga*.
"Maaf Tuan, saya harus menyiapkan berkas untuk meeting siang ini," Arga berpamitan. Ia malas meladeni si 'Sund*l Jepit'
"Hmmmm..." Henry hanya berdehem. Tatapan mata Arga sinis, tak lepas dari si Sund*l hingga ia menghilang dibalik pintu.
Dasar menyebalkan, memandangiku seperti ingin menelanjangiku. Awas saja kalau aku berhasil menjadi Nyonya Henry. Hani tak kalah sinis.
"Bukankah sudah selesai urusan kita?" tanya Henry malas.
"Yah, Anda benar, urusan Wijaya Corp memang selesai, tetapi tidak dengan kita." Hani menegdipkan sebelah matanya genit.
"Hah, mau apalagi?" Henry masih fokus pada komputernya.
"Bolehkah saya berkenalan dengan El?" tanya Hani to the point.
"Ayolah Tuan, dia juga anak dari sahabatku." Hani terus mengeluarkan jurus mautnya.
"Kalau sudah selesai silahkan keluar," Henry dengan nada datarnya.
"Anda mengusir saya Tuan?" ucap Hani.
"Tidak, saya hanya tak ingin melihatmu lagi," ucap Henry berdiri dari duduknya.
"Itu sama saja." Hany mendengus.
"Ga panggil pengawal kemari," ucap Henry, saat ini dia sedang memegang gagang telepon.
Hani membulatkan matanya. "Saya tidak perlu pengawal Tuan," ucap Hani dengan penuh percaya diri. Tak lama Arga datang bersama dua orang pengawal.
"Ahhh Anda terlalu baik Tuan, memilihkan pengawal untuk saya," Hani hendak meraih tangan Henry, namun segera Arga tepis.
"Kalian, bawa Sund*l Jepit ini pergi dari sini, dan ingat jangan pernah mengizikannya masuk," ucap Arga dengan nada tinggi.
"Apa? Jadi kalian mengusirku?" Hani tak terima.
"Baik Tuan," kedua pengawal itu menyeret Hani keluar. Hani terus meronta tetapi kalah tenaga, tubuhnya kurus kering, tinggi semampai dengan bagian rata di depan dan belakang.
"Hah dasar Sund*l Jepit," gumam Arga.
"Apa kau bilang?" tanya Henry.
"Hah.. Sa-saya hanya..." Arga ketakutan.
"Julukanmu untuk wanita itu, saya suka," ucap Henry kembali ke meja kerjanya.
Untunglah singa buas itu tak memakanku.
"Heii kenapa diam? Cepat kembali bekerja," ucapan Henry membuat Arga segera pergi. Dia terus mengusap dada bidangnya.
...----------------...
Dimansion keluarga Syahreza.
"Adel." panggil Ama.
__ADS_1
"Ya, ada apa Ama memanggilku?" tanya Adel, ia memegangi mainan El.
"Apa kau tidak jenuh terus berada dirumah?" tanya Ama.
"Ini sudah menjadi pekerjaan saya Ama." Adel tersenyum.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan keluar?" Ama memberi ide.
"Tapi Ama, El belum pernah keluar jauh dari rumah."
"Justru itu, kita akan mengenalkannya pada suasana baru, dia pasti suka," ucap Ama.
"Tapi saya takut Ama, Nyonya Amel tak akan mengizinkan kita." Adel merasa cemas.
"Siapa bilang aku tak mengizinkannya?" tanya Nyonya Amel di depan pintu. Ia kebetulan melintas, ingin menuju kekamarnya melalui lift.
"Tapi Nyah." Adel masih enggan.
"Kurasa ide Ama boleh dicoba." Nyonya Amel dengan wajah berbinar.
"Kita akan jalan jalan, aku pun sudah lama tak menyalurkan hobiku," ucapnya.
"Baiklah kalian semua bersiap, kita akan pergi ke mall XX," ucap Ama.
"Baiklah, saya panggil Rena untuk ikut," ucap Adel.
"Tak usah diajak, kita bertiga ini masih sanggup mengawasi El," Nyonya Amel mencegah Adel.
"Baiklah kalau begitu, saya akan bersiap" Adel hanya menurut saja.
"El sayang ayo kita ganti baju, kita jalan jalan keluar," ucap Adel pada bayi tampan itu.
"Kyaaa kyaaaa...." Baby El bertepuk tangan mengikuti Adel.
"Kau ini sangat menggemaskan," ucapnya, menghadiahi banyak ciuman diwajah tampan El.
Memang benar, selama ini mereka hanya dirumah. Semua keperluan El sudah terpenuhi, begitupun Adel. Mereka berdua hanya berjalan jalan disekitaran mansion. Itupun sudah sangat melelahkan, Mansion dengan luas beribu hektar tanah. Tentu tak akan sanggup mengelilinginya.
Ini sih namanya mobil mobilan, bukan jalan jalan. Lah kitanya naik mobil. ucap Adel dalam hati.
"Nyonya apakah tidak sebaiknya kita izin Tuan Besar?" tanya Adel, saat ini mereka ada didalam mobil mewah.
"Aku sudah mengatakan padanya, kalau kita akan keluar," ucap Nyonya Amel.
"Lagi pula ada Bejo bersama kita," ucap Ama.
"Yah, Ama benar, kita akan ada yang menjaga." Nyonya Amel melirik Bejo.
"Itu sudah menjadi Tugas saya Nyonya," sahut Bejo dengan sopan.
Mereka berempat diantarkan oleh Bejo ke Mall XX. Namun tanpa sepengetahuan mereka, anak buah Bejo sudah stand by di Mall XX. Tentu saja atas permintaan Henry. Untuk memperketat penjagaan pada keluarganya.
TBC
Terima kasih yang sudah mendukung Baby El.
__ADS_1
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote ya readers.
Terima kasih