
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Sang surya malu-malu mengintip dari peraduannya, menyambut hari baru untuk setiap insan, cahayanya menerobos masuk ruangan presidential suite yang ditempati pasangan pengantin baru. Henry terbangun terlebih dahulu karena merasa silau akan terangnya sinar mentari pagi. Pemandangan indah dihadapannya, Adel yang masih terlelap dalam dekapannya.
"Selamat pagi istriku sayang," Henry mengecup kening Adel. Menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya. Henry mengusap pipi mulus Adel dengan jari telunjuknya. Menyusuri setiap lekuk wajah Adel. Merasa terusik Adel mengerjap. Henry kembali menarik tangannya, dia memejamkan matanya, seolah tak terjadi apapun.
Adel tersenyum geli, mengingat kejadian semalam, dia yang ingin Henry tak mendekat, tetapi dia sendiri yang menempel pada lelaki yang kini menjadi suaminya. Sangat nyaman, membuatnya terlelap begitu nyenyak.
Adel mengulurkan tangannya, alis tebal, hidung mancung, dan bibir seksi suaminya tak lepas dari pengamatannya. "Ketampanan El menurun dari mu, Daddy." Adel mendekatkan wajahnya, Henry tak menyia-nyiakan kesempatan.
Kecupan Adel kini berbalik menjadi sebuah ciuman, Henry menarik tengkuk Adel, melum*at bibir cherry itu, semakin lama semakin memanas. "Ummm," Adel melenguh, Henry beru melepaskannya setelah keduanya kehabisan oksigen. Nafas mereka memburu, selaras dengan hasrat yang memuncak.
"Kau berniat menggoda suami tampan mu ini, hmmm?" Henry tak melepaskan Adel, malah semakin mendekapnya. Membuat Adel merasakan sesuatu yang ikut menegang.
"Ka-kau sudah bangun?" Adel tergagap, merasa malu atas tindakannya sendiri. Adel berusaha menjauh, tapi Henry tak membiarkannya.
"Jangan banyak bergerak, kau sudah membangunkan yang tidur, kau harus bertanggung jawab," tatap Henry sayu, suaranya terdengar lebih berat.
"A-aku... aku tak...,"
"ammmm..." Henry membalik posisi, diq menghimpit tubuh Adel dalam kungkungannya. Adel hanya bisa pasrah, percuma memberontak, tenaganya kalah kuat dengan Henry.
Henry terus melancarkan aksinya, mengecup setiap inci wajah Adel, perlahan turun ke leher. "Emmmh," Adel menggigit bibir bawahnya, berusaha agar tak mendesah.
"Kau bisa menghentikan ku kapan pun," Adel membisu, membuat Henry semakin gencar. Henry kembali melu**t bibir Adel dengan rakus, namun ia harus berhenti, pintu kamar diketuk.
Adel mendorong Henry, "Buka dulu, siapa tau penting," Mau tak mau Henry harus menghentikan kegiatannya.
"Hahhhh, si**, siapa yang berani mengganggu kesenangan ku," Henry mengumpat kasar, ternyata petugas hotel yang mengantar sarapan pagi, atas oerintah Nyonya Amel.
"Biar aku yang bawa, kau pergilah!" Henry menatapnya nyalang, seolah ingin menelan dia hidup-hidup. Henry menutup pintu kasar, membuat Adel berjingkat.
__ADS_1
"Kau mau kemana? hmm, kita lanjutkan," Henry menarik Adel, hingga duduk dalam pangkuannya. Dia kembali melanjutkan yang tertunda. Henry merebahkan Adel perlahan. Namun fia harus kecewa, pintu kamar kembali diketuk, bahkan bel tak henti berbunyi, membuat Henry menggeram.
Adel terkekeh, berlari ke kamar mandi, kesempatan yang bagus untuknya kabur. Henry mengepalkan tangannya, sangat kesal dengan berbagai gangguan, dia melangkah menuju pintu dan mengintip melalui lubang kecil disana. El sedang menangis, Wulan berusaha menenangkannya, namun tak berhasil.
Ceklekk.
Pintu dibuka, Arga berkacak pinggang didepan pintu. "Ada apalagi hah? belum puas kau mengganggu kesenangan ku," Henry mendengus. Dia mengira petugas hotel balik lagi.
"Hahaha... Bagus itu, Lan, berikan El padanya," Wulan yang memunggungi pintu berbalik, dia menahan tawanya, melihat penampilan Henry yang masih acak-acakan dengan wajah bantalnya.
"Dad, Mamiiiii... Huaaaa," El semakin menangis, Adel yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri. Beruntunglah dia sudah berganti pakaian dengan yang lebih sopan.
"Ada apa ini?"
"El mencari mu, aku sudah membujuknya tapi kau tau sendiri El," Adel mengambil alih El, bocah gembul itu langsung terdiam, dan memeluk Adel erat. Sudah biasa jika bangun tidur, orang yang pertama ia temui adalah Adel.
"Sayang, cup cup, sekarang sama Mami ya," Wulan dan Arga meninggalkan El bersama kedua orang tuanya.
Adel mengajak El ka sofa, "El kenapa nangis? kan sama Mama Wulan." Dia membelai kepala El yang terus menempel padanya.
"Mami dak ada," El mengerucutkan bibirnya.
"Mami kan disini, El udah Mam belum?" El menggeleng, dia juga masih mengenakan pakaian tidurnya. Adel merasa bersalah, karena dirinya, El bahkan belum makan apapun. Bahkan belum mandi sekalipun.
Seolah menjawab doanya, Wulan mengantarkan perlengkapan El, dia juga membujuk El kembali untuk ikut dengannya. "El mau gak berenang sama Mama?" bujuknya.
"Mau, cama Mami," El menatap Adel penuh harap.
"Sekarang sama Mama dulu ya," berharap El mau memurutinya.
"Cama Papa Ga." ucap El dengan polosnya. Semalaman dia bermain dengan Arga, bahkan meminta ditemani tidur olehnya.
"Iya nanti Papa nyusul," Adel mengernyitkan keningnya, siapa yang di maksud papa oleh El.
__ADS_1
"Papa?"
"Emmm, Papa Ga," sahut El dengan penuh semangat.
"Maksudnya?" Adel masih belum mengerti.
"Dia panggil saya Papa," Arga yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
"Papa, ayo ain, ain ail ya," ( ayo kita main air) ucap El penuh semangat. Wulan mengedipkan matanya, sehingga Arga terpaksa mengangguk.
"Yeayy, bye Mami, muachhh," El mengecup pipi Adel, kemudian berlari menuju El.
"Bye, aku pergi dulu, mungkin aku akan membawa El pulang setelah ini, lanjutkan buat adik untuk El," Wulan segera berlari menyusul Arga, yang lebih dulu meninggalkan mereka.
Lama Henry di kamar mandi, membuat Adel curiga. "Jangan-jangan dia tidur di kamar mandi?" ucapnya pelan. Namun di luar dugaan, Henry menyergapnya dari belakang.
"Sejak kapan kau disitu," Adel sedikit bergetar karena takut, jika Henry akan memangsanya.
"Kau terlalu sibuk dengan El, tak menyadari aku yang sedari tadi disini." Henry mendesah pelan, saingannya lebih berat, bahkan dia harus bersaing dengan bocah kecil yang merupakan ankanya sendiri.
"Hahaha... jangan bilang kamu cemburu dengan El?"
"Kalau iya, apa yang bisa kamu lakukan sekarang?" Henry menaik turunkan alisnya.
"Entah, sebaiknya kita sarapan dan pulang, Wulan bilang dia akan pulang bersama El, aku takut dia mencariku." Adel menuju sofa, dia memgambil sarapan untuknya dan Henry.
"El lagi, El terus," ucapnya ketus.
"Baiklah Daddy, bayi besar mau makan? atau mau disuapi Mami?" Henry mengangguk, dia segera menyusul Adel.
"Suapi aku,"
Duh, dia minta benaran, padahal aku kan hanya berniat menggodanya.
__ADS_1