
Haiii semua... Terima kasih yang masih setia menanti baby El, dan juga setiap dukungan yang diberikan. Mohon maaf untuk crazy up belum dapat terlaksana, karena banyak hal.
Tetap ikuti keseruan baby El yah, jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote. ๐๐
Happy Reading
๐๐๐๐๐๐๐
Dikediaman Syahreza, semua penghuni rumah sedang bersantai ria. Menikmati suguhan dari tingkah lucu Baby El. Padahal sekarang sudah jam 20.30 malam.
Tetapi bayi itu terlihat masih sangat bugar, bagaimana tidak? Dia baru saja terbangun jam 18.00 sore tadi. Ntah jam berapa lagi dia akan tertidur, padahal kedua pengasuhnya sudah sangat kelelahan.
Menjaga El yang sibuk kesana kemari, bahkan dia sudah mulai belajar berdiri sendiri. Mereka tak ingin kehebohan El hilang terulang kembali. Bisa bisa kedua pengasuh ini akan diganti.
"Hoaaammmmbb..." Adel menutup mulutnya yang terus menguap. Matanya merah dan berair, menahan kantuk. El bangun sangat pagi, dan ketika El tertidur, ia dan Rena sibuk membereskan ruang bermain El.
"Kau mengantuk Del?" tanya Rena.
"Yah, apa kau tak mengantuk? Aku merasa sangat lelah hari ini," kata Adel.
"Tentu saja, seharian kita dikerjai seorang bayi, huffft..." bibir Rena mengerucut.
"Berarti kita sama," keduannya melakukan 'Tos' ria.
"Tapi kenapa dia malah sebaliknya?" tanya Rena. Adel hanya mengedikkan bahu. Kedua pengasuh ini duduk dipojok sofa, saling menyandarkan punggung.
"El ayo ambil ini," seru Ama, dia melemparkan mainan Robot milik El. Benar saja, dengan gesit bayi itu merangkak, membawa mainan yang diminta.
"Yeeeeeeee.." El bertepuk tangan setelah berhasil mengambil mainan itu.
"Cucu tampanku," ucap Nyonya Amel.
"Emmmmmpt..." El meronta tak ingin dipeluk Omanya.
"Heeii kau mau kabur kemana?" Tanya Tuan Abimanyu menghadang El. Tetapi El tak kalah pintar, ia melewatinya, dengan menerobos disela sela kaki Tuan Abimanyu.
"Hahahaaa, kau kalah pintar dengan cucumu itu Bi." seru Ama.
"Hahahaaa... itu harus Ama, jangan sampai dia bodoh seperti Daddy nya," ucap Nyonya Amel. Semua yang ada disana sangat gemas dengan tingkah El, yang selalu membuat mereka tertawa.
Berbeda dengan kedua pengasuh El, mereka tidur dengan kepala diandarkan pada sandaran sofa.
"Astaga, apa yang mereka berdua lakukan? Bisa-bisanya tidur dengan posisi begitu," ucap Ama. Dia baru menyadari dua orang tersebut.
"Ama, kita kerjai saja mereka," Nyonya Amel membisikkan sesuatu pada Ama.
"Apa kita gak keterlaluan Mel? Mereka lelah menjaga El seharian." Ama merasa keberatan.
"Hanya sekali ini Ama." Nyonya Amel membujuk.
"Heii apa yang kalian rencanakan?" ucap Tuan Abimanyu.
__ADS_1
"Keppooooo..." sahut keduanya tertawa girang.
Dasar wanita, menyebalkan.
Ama mengambil spidol dilaci meja, kemudian Nyonya Amel melukis wajah kedua pengasuh El. "Sudah beres Ama, ayo kita kekamar El," ajak Nyonya Amel.
"Kalian ini keterlaluan sekali" ucap Tuan Abimanyu. Dia geleng geleng kepala dengan tingkah dua nenek itu.
Kedua pengasuh El ditinggal begitu saja, mereka sangat pulas tertidur. Hingga kedatangan Henry dan Arga, keduanya belum juga bangun.
"Tuan, saya takut," seru Arga.
Dia menempel pada Henry, pandangannya masih tertuju pada ujung sofa. Adel yang terlihat sedang berjongkok, dengan rambut digerai. Dan memakai dress putih. Sementara Rena terhalang sofa, jadi tak terlihat dari posisi Arga.
"Heii kau ini takut apa? Jangan dekat dekat," ucap Henry menjauhkan Arga.
"Ituuu... Tuan apa ituuu?" tunjuknya pada Adel.
"Ahh palingan horden," jawab Henry santai.
"Tuan, lihatlah!!" Arga mengarahkan pandangan Henry. Secara bersamaan Adel menoleh.
"Aaaaaaa... Haaaannnntuuuuu..." Arga dan Henry lari kocar kacir.
"Mana ada hantu?" Adel menggaruk kepalanya. Nyawanya masih belum terkumpul, sebagian masih berfantasi didunia halu.
"Rena bangunlah!" ucap Adel sambil menguap. Ia menggoyangkan bahu Rena.
"Hei mana ada hantu?" tanya Adel. Ia heran dengan semua orang.
"Hantuuu jangan mendekat," seru Rena, dia meraih apapun untuk dilemparkan pada Adel.
"Please, please jangan mendekat, hussss jauh jauh dariku." Rena terus mengoceh.
"Ini aku Adel, bukan hantu," Adel semakin mendekat.
Arga dan Henry yang berlari mendengar bahwa hantu itu Adel berhenti.
Apa? Nona Adel jadi hantu? Karena tertekan bekerja disini? Atau Nyonya Metta yang jadi hantu? Terus menyerupai Nona Adel? Ihhh hororrr, gumam Arga.
WTF, ada hantu di mansion? Bagaimana kerja penjaga disini sampai hantu dibiarkan masuk? Akan ku pecat mereka semua, karena mereka membiarkan hantu berkeliaran disini, dan membuat keributan. Henry mengumpat dalam hati.
"Tu-tuan, ayo kita hajar hantu itu." Arga membawa tas kerja Henry. Itu yang akan dia gunakan untuk memukul hantu.
"Yah, dia sudah membuat keributan disini," ucap Henry. Mereka berdua saling mendorong, siapa yang akan jalan duluan.
"Tuan didepan, kan Tuan boss," ucap Arga.
"Apa kamu bilang? Yang ada itu kamu melindungi Tuan mu," ucap Henry dengan angkuh.
"Tuan, boss itu nomor satu." Arga tak mau kalah.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi memerintah boss?" Henry tak terima.
"Kalian ini sedang meributkan apa?" Adel muncul tiba tiba.
"Aaaaaaaaaa haaaaannntuuuu..." teriak Henry dan Arga bersamaan.
"Perrgiiiii huuusssss..." Arga mengusir Adel, dia hendak memukul Adel, namun segera ditepis. Adel mengambil tas itu, dan menaruhnya disofa.
"Tuann, hantunya bisa menyentuh tas." Arga melirik Henry.
"Heiii kalian semua ini kenapa sih? Dengarkan baik baik, aku Adel bukan hantu," bentak Adel.
Rena datang dengan membawa kaca besar, dan menyerahkannya pada Arga. "Lihatlah penampilanmu." Arga memberikan cermin itu pada Adel.
"Aaaaaaaaaa..." Adel sendiri kaget, ada apa dengan wajahnya. Ada lingkaran hitam dimatanya, lipstik belepotan, bukan ini seperti spidol.
"Reeenaaaa..." teriak Adel.
"Lohh, kita kan tadi tidur, jadi bukan aku." Rena mengibaskan tangannya.
"Berarti kalian berdua," tunjuk Adel pada Henry dan Arga.
"Tunggu, jadi benaran kamu Adel?" tanya Henry. Dia menyentuh wajah Adel. Tetapi langsung ditepis.
"Dasar manusia kutub, jangan berani mengambil kesempatan," ancam Adel.
"Ga, dia benaran wanita gila itu," ucap Henry.
" Kau mengataiku Tuan?" bentak Adel. Dia tak terima dikatai gila.
"Yah ini Nona Adel Tuan," ucap Arga memastikan. Kemudian keduanya pergi dari sana.
"Siapa yang berani mengerjaiku, akan kupatahkan tangannya." Adel masih emosi.
"Tenanglah Del, kita bersihkan dulu wajahmu, aku sungguh takut melihatnya." Rena menarik Adel kekamarnya. Adel terus saja mengumpat.
Dari lantai dua, kedua nenek itu tertawa berjamaah, mereka tertawa dengan sangat puas.
"Ahahahhaaaaa..."
Sampai wajahnya memerah dan mengeluarkan air mata. Bahkan baby El ikut tertawa sambil bertepuk tangan, padahal dia tak mengerti apa yang ditertawakan.
"Sudahlah Mel, aku tak tahan lagi." Ama memegangi perutnya.
"Ini lucu sekali Ama, sangat jarang kita mendapatkan momen ini," ucap Nyonya Amel.
Dasar majikan tak ada akhlak, jadi kedua nenek itu yang mengerjaiku? Akan kubalas nanti, tunggu saja. Kalian akan kelimpungan mencari El. Hahahaha. Adel hanya membatin.
TBC
Terima kasih
__ADS_1