
Udah kasih up nih, jangan lupa dukungannya ya kakak....
Budayakan Like komen dan Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Nyonya Amel sudah kembali, mansion tampak sepi, hanya beberapa pelayan yang membersihkan dapur. "Mam, dimana El? Apa dia masih tidur?" Ama baru saja keluar dari kamarnya. Sedari tadi juga merasa tak nyaman, Adel sudah menyusulnya bebera menit. Tetapi sampai sekarang belum kembali. Mungkin mereka sedang asyik bermain. Batin Ama.
"Diajak Wulan jalan-jalan di taman, mungkin sedang bermain bersama Adel." Ama memberitahukan, bahwa Adel sudah kembali dari rumah Eyang Wira.
"Lalu kemana mereka? Lebih baik aku melihatnya." Nyonya Amel berbalik badan, hendak menyusul El. Belum juga melangkahkan kakinya, ada beberapa pengawal memapah Wulan. Ama menjerit "apa yang sebenanya terjadi?" Beberapa pengawal meringis, menahan luka disebagian tubuhnya.
"Dimana Adel? Dan El? Dimana mereka?" Nyonya Amel mencecar mereka dengan pertanyaan. Wulan segera bersimpuh, dia sangat menyesal, karena membawa El keluar mansion tanpa izin. "Maafkan saya Nyonya, semua salah saya. Nyonya boleh menghukum saya." Wulan menangis, memohon pengampunan.
Saat bersamaan, Henry tiba dirumah, bersama Arga. Ketika dalam perjalanan pulang, Arga mendapat panggilan dari Wulan. Karena sedang menyetir, diapun mengabaikannya. Dan pada dering kedua, Henry yang mengangkat panggilan itu. Karena tak biasanya, Wulan menghubungi Arga.
"Halooo..." Suara Adel terputus, setelah itu hanya terdengar suara keributan. "Ga lebih cepat, dan segera hubungi Bejo." Arga mengernyit, raut wajah Henry menjadi panik. Pasti ada hal buruk yang terjadi. Dan perasaan Henry tak tenang meninggalkan El, itulah mengapa dia memninta pulang lebih awal.
"Katakan! Apa yang terjadi?" Henry menatap Wulan dengan wajah garang. Dia sangat marah, karena Wulan tak mendengarkan peringatannya. Untuk tetap berada dimansion, Wulan hanya menangis. Tetapi penyesalannya sudah terlambat.
Wulan akhirnya menceritakan kejadiannya, saat sedang bermain bola, bola El menggelinding ke arah pintu gerbang. Disana Wulan melihat anak kecil yang menangis. Tanpa fikir panjang, Wulan meminta dibukakan pintu, tetapi El menyusulnya. Kesempatan itu digunakan dua penculik yang dengan leluasa menangkap El. Penjaga yang melihat berusaha melawan, tetapi kalah jumlah. Di mobil yang tak jauh ada 4 orang lain.
Hingga Adel datang dan menghajar mereka, namun sayang, mereka berhasik membawa Adel dan juga El. "Maafkan saya Tuan." Wulan tak henti memohon ampunan. Dia sangat ketakutan, dan melupakan tangan dan kakinya yang tergores aspal. Bahkan keningnya memar dan sedikit berdarah.
__ADS_1
"Ga, cek CCTV, dan kau Bejo, sisir setiap sudut mansion ini. Jangan melewatkan apapun." Henry menghubungu seseorang, Nathan. Dia harus segera melacak keberadaan El, melalui keberadaan ponsel Wulan untuk tetakhir kalinya.
Ama sangat kaget, bahkan tubuhnya lemas. Nyonya Amel segera membantunya duduk. "Bibi Mey, ambilkan minum untuk Mami." Dengan berteriak memanggil kepala pelayan disana. Bibi Mey setengah berlari membawa minum untuk Ama.
"Pergilah! Bantu Wulan membersihkan lukanya, dan panggil Alvin kemari." Nyonya Amel berusaha tenang, meskipun dirinya juga panik. Tetapi dia harus menguatkan Ama, agar ta terjadi hal tak diinginkan. "Saya sudah menghubungi dokter Alvin, dan sekarang dalam perjalanan." Arga berucap tanpa memandang lawan bicaranya.
Matanya terus menatap Wulan yang masih bersimpuh, ada perasaan iba. Tetapi dia juga kesal, karena dia El dalam bahaya. " Ikutlah dengan Bibi Mey" ucapnya dingin. Seolah ingin menelan Wulan hidup-hidup.
Kabar penculikan Adel, dengan sangat cepat sampai ditelinga Eyang Wira. "Maaf Tuan, ada kabar tentang Nona Adel." Eyang Wira sedang sibuk dengan berkas dihadapannya. Hanya menjawab dengan anggukan. "Saya mendapat kabar bahwa Nona Adel dibawa pergi orang tak dikenal."
"Apakah itu Henry? Si anak manja itu?"
"Bukan Tuan, tapi...."
"Kau ini jangan berbelit-belit, cepat katakan yang sebenarnya." Eyang Wira menghentikan kegiatannya.
"Ooo diculik?" Eyang kembali melanjutkan berkutat dengan berkas.
Ini kabar buruk Tuan, kenapa bisa setenang ini? Irawan membatin.
"Tunggu, kamu bilang apa tadi?" Eyang Wira meletakkan kembali pena ditangannya.
"Nona Adel diculik."
Tuan, apa karena faktor U, jadi Anda sedikit lemot. Hah, biasanya Anda selalu cekatan. Ini berurusan dengan Nona Adel, cucu Anda Tuan.
__ADS_1
"Kenapa kami baru mengatakannya padaku? Cepat hubungi Udin, bawa semua pengawal jika perlu. Temukan Cucuku dengan segera." Raut wajahnya menyiratkan kemarahan. Eyang tak lagi melanjutkan pekerjaanya. Memilih kembali kerumah.
...----------------...
Adel tak bisa berbuat banyak, dia sedang bersama El. Meskipin dia bisa bela diri, tetapi juga masih memikirkan El. "Lebih baik aku diam dulu, tak mungkin aku membiarkan El dalam bahaya." Adel mengecupi wajah El, bayi itu bisa tertidur. Setelah para penculik pergi. Adel memberikan minum, dan ASI untuk El.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kalau mengincar harta, mana mungkin mereka akan berbaik hati memberi kami minum?" Adel masih bertanya-tanya, apa motif dibalik ini semua. Terlebih orang itu adalah orang terdekat Henry.
Adel mengendap-endap, berjalan pelan menuju pintu. Dia tak ingin membuat El terbangun, juga tak ingin menimbulkan kecurigaan penculik. Ditempat Adel dikurung, bahkan tak ada jendela, hanya pintu itu satu-satunya akses mereka masuk. Ruangan ini juga tak kedap suara, jadi Adel bisa mendengar suara diluar dari balik pintu.
"Bagus Do, kamu sudah melakukan hal yang benar. Kenapa kamu malah tak senang?" Adi memberinya dua jempol. Tetapi melihat ekspresi Edo, seperti tak senang, justru sebaliknya.
"Kamu menyesal, huh? Apa Henry pernah menyesal? Mengorbankan ibumu untuk menyelamatkan nyawanya? Dan sekarang bayi itu, dia juga sudah mengambil Metta darimu. Hahahaha... Kamu memang bodoh, masih saja sok suci dihadapannya." Adi semakin membuat perasaan Edo tak karuan. Benar yang dikatakan Adi, jika tak ada El, pasti Metta masih hidup.Edo kembali keruangan, dimana Adel dikurung.
Brakkkkk
Suara pintu dibanting, untunglah Adel segera menjauh, ketika mendengar langkah kaki mendekat kearahnya. Suara gebrakan membuat El terbangun, dia menatap Adel dengan mata berkaca-kaca. Namun tak mengeluarkan suaranya. "Ssttttt, tak apa sayang, ada Mami El disini. Jangan takut ya." El mengangguk, kembali merekatkan tubuhnya pada El. Saat ini bayi itu sangat ketakutan.
Edo terus mendekat, Adel terus melangkah mundur, namun si*lnya dia terjatuh. Bahkan kakinya sangat sakit, Adel terus berusaha menjauh, tetapi dibelakangnya adalah dinding. Dia tak bisa lagi menghindar. "Stoppppp, berhenti disana Tuan, jangan mendekat!!" Adel mencari sesuatu yang dapat dia gunakan untuk dilepar kewajah Edo.
"Hahahaaa.. Jangan takut Nona cantik, aku tak akan menyakitimu. Tapi kau harus menyerahkan bayi itu." Edo mencekal tangan Adel, memegangnya dengan sangat erat. Adel menggunakan kakinya, untuk menendamg tulang kering Edo.
Edo memegangi kakinya yang terasa ngilu. "Berani sekali kamu yah? Aku tak akan memaafkanmu." Edo terus menyudutkan Adel, kaki Adel yang sakit tak dia hiraukan. Dia berusaha lari, namun pintu sudah dikunci, ruangan ini begitu sempit.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH