Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2 Bab 1


__ADS_3

Baby El mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kakak readers yang selalu setia mengikuti cerita Baby El sampai sejauh ini.


γ€€


Setelah liburan panjang kita kembali ke dunia halu, semoga di tahun ini kita semua diberikan kesehatan, keberkahan, dan rizki yang berlimpah. Dijauhkan dari segala marabahaya petaka serta bencana dimana pun kita berada Aamiin. Agar kita sem.ua bisa terus bersama-sama saling mendukung di dunia halu ini.


γ€€


Happy Reading


γ€€


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


γ€€


γ€€


Kepulangan Henry.


γ€€


γ€€


Henry meminta waktu untuk menyembuhkan tulang lengan yang patah. Enam bulan waktu yang dia ajukan, Adel menyetujui hal tersebut. Dia harus rela membagi waktunya untuk mengurus El dan juga pekerjaan.


γ€€


Dua bulan sudah Henry pergi, dia harus terbang jauh ke Amerika. Berpisah dengan El, di sana juga dia mengembangkan usahanya, selama itu juga El selalu ikut kemana pun Adel pergi, termasuk membawanya ke kantor bersama Wulan. Kecuali jika Adel ada rapat penting atau dia harus keluar kota. Tak jarang juga dia ikut menginap di mansion Syahreza saat weekend.


γ€€


Seperti hari ini, El hanya berdua dengan Adel di kamarnya, semua orang sudah terlelap ke alam mimpi masing-masing. El terbangun tengah malam karena haus, tetapi dia tak mau tidur lagi.


γ€€


"El, bobok lagi ya. Mami masih ngantuk nih, kan besok kita mau berenang." Adel mengusap puncak kepala El dengan sayang, sesekali memberinya kecupan di sana.


γ€€


"Daddy." El mendongakkan kepalanya, menatap wajah Adel sendu. Entah mimpi atau apa, dia tiba-tiba teringat Daddy-nya.


γ€€


"El kangen Daddy?" El menganggukan kepalanya. Adel tersenyum, tak mampu menatap mata El yang berkaca-kaca. Dia membawa El dalam pelukannya, mengusap punggung bocah itu dengan lembut.


γ€€


"Besok Daddy pulang, kita akan bertemu Daddy, sekarang bobo dulu, ya." El menurut, lama kelamaan dia terlelap bersama Adel.


γ€€


Henry sengaja tak memberitahukan kabar bahwa dia akan pulang lebih awal, dia ingin memberikan kejutan untuk El dan keluarganya. Malam ini dia sudah mendarat di Bandara Internasional SUTTA, tetapi tidak kembali ke rumah, melainkan istirahat di apartement yang sudah lama tidakΒ  dikunjunginya.

__ADS_1


γ€€


"Ga, gak usah kembali, menginaplah di sini! Besok temani aku pulang ke mansion," ucap Henry tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar gadget, dia tidak mengindahkan Arga yang fokus mengemudi. Arga memilih diam karena kesal.


γ€€


"Ga, kamu tidur? Apa gak dengar apa yang aku katakan?" Henry melirik Arga yang masih fokus pada setir kemudi.


γ€€


Hahaha ... emang enak dicuekin? Ngomong sama tembok sana. Baru juga kembali sudah membuatku kesal, kenapa sifat menyebalkanmu itu ditinggal disana, gak perlu dibawa pulang kemari.


γ€€


"Ga, kau ini kenapa, hah?" Henry sama sekali tak merasa bersalah, dia sibuk kembali pada benda pipih di tangannya. Sesekali bibir Henry melengkung membentuk senyuman, apalagi saat dia menjelajah album foto dirinya bersama El dan Adel.


γ€€


"Sudah sampai, Tuan." Arga menghentikan kendaraan roda empat itu di loby, dia tidak berniat turun apalagi membantu Henry membawakan koper.


γ€€


Henry menoleh, dia menyimpan gadget-nya kembali. Melihat Arga yang tampak kesal. "Oke. Sorry, kita bicara di dalam," ujar Henry.


Arga menoleh dan segera turun dari mobil mengikuti Henry. Tak lupa menurunkan koper yang Henry bawa juga menyerahkan kunci mobil pada petugas. Suasana hening selama menaiki lift, begitu sampai mereka memasuki flat milik Henry.


γ€€


γ€€


Tanpa menunggu waktu lama, Henry datang dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos oblong putih, sederhana namun tidak menghilangkan ketampanan di wajah pria beranak satu itu. "Wah, kau memang yang paling mengerti." Henry mengambil alih makanan di tangan Arga.


γ€€


"Ya, gak seperti kamu, maunya dilayani terus," jawab Arga ketus.


γ€€


"Ayolah, aku hanya tidak bertemu denganmu beberapa hari, kenapa jadi baper gini? Hahaha ...." Henry tertawa riang melihat wajah Arga yang cemberut, padahal Arga tidak pernah seperti ini sebelumnya.


γ€€


"Hah, berani menggodaku lagi? Aku akan memberitahu Adel." Arga menyeringai, dia merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih miliknya.


γ€€


Henry mendesah pelan "Heh, beraninya mengancam, cepat katakan!" Henry mengerti bahwa saat ini Arga sedang badmood.


γ€€


"Wulan dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya," lirih Arga mengacak rambutnya kasar, dia terlihat sangat frustasi.


γ€€

__ADS_1


"Hei, ini bukanlah Arga yang aku kenal, apa sudah mengatakan hubungan kalian didepan orang tua Wulan?" Henry mengerti perjalanan cinta Arga yang begitu rumit dengan Wulan.


γ€€


Arga dan Wulan sepakat menjalin hubungan beberapa bulan lalu, itu pun atas bantuan Adel. Awalnya Arga menolak karena belum bisa memastikan perasaannya. Seiring berjalannya waktu, perasaan keduanya semakin bertambah erat. Terikat satu sama lain, tetapi terhalang restu dari ayah Wulan yang menginginkan Wulan menikah dengan keluarga kaya.


γ€€


"Kau tak perlu menutupi identitas di hadapan keluarganya, pasti semua masalah beres," ucap Henry enteng, mulutnya kembali mengunyah makanan yang ada di tangannya.


γ€€


"Tak semudah itu, justru Wulan yang ingin menutupi hal ini, dia beralasan bahwa ayahnya mata duitan dan gila harta. Dia tidak mau aku menjadi ATM berjalan untuknya, tapi aku juga gak bisa melihat Wulan menikah dengan orang lain." Arga memijat pelipisnya.


γ€€


"Besok kita temui Wulan, aku akan bantu bicara padanya." Henry menaruh bungkus makanan yang sudah kosong.


γ€€


"Aku kenyang, besok aku akan bertemu bidadari dan jagoan kecilku, jadi sekarang harus mempersiapkan diri." Henry berdiri dari duduknya, tetapi dia kembali pada Arga yang belum bergeser sedikit pun dari tempatnya.


γ€€


"Oh, ya, bagaimana persiapannya? Apa sudah selesai semua seperti yang aku inginkan?" Henry kembali duduk di sebelah Arga, dia harus memastikan persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari, tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun untuk acaranya nanti.


γ€€


"Aku sendiri yang turun tangan, dan bolak-balik ke sana kemari, kamu tak perlu cemas, semua yang terbaik untukmu." Arga bersikap profesional, dia mengesampingkan urusan pribadinya saat ini, agar acara Henry berjalan lancar sesuai yang direncanakan.


γ€€


"Kamu memang bisa diandalkan, aku pastikan kau segera menyusul, ingat umur jangan sampai jadi bujang lapuk!" Henry terkekeh, dia melenggang ke kamar, tidak ingin mendegar kicauan Arga yang mengumpat padanya.


γ€€


"Dasar gak punya ahlak, aku sudah membantumu malah mengataiku." Arga mendengus, tapi sebuah senyuman terbit di wajahnya. Suasana seperti ini jarang terjadi, mungkin bisa dihitung jari. Tapi inilah moment yang dia rindukan, bisa berbagi setiap kebahagiaan dan kesedihan bersama Henry.


γ€€


"Aku senang kau bisa kembali pada dirimu, setelah sekian purnama kisah cintamu yang mengenaskan. Ku harap Nona Adel adalah yang terakhir dan selamanya untukmu." Arga mulai membuka hatinya untuk Wulan, dia tidak ingin melanjutkan perasaan yang telah tumbuh pada orang yang salah.


γ€€


γ€€


TBC


γ€€


γ€€


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2