Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-27


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Adel menyempatkan diri menghubungi Wulan, dia sudah sangat merindukan bocah gembul yang dia rawat semenjak lahir.


"Maamiiii..." wajah gembul El memenuhi seluruh layar.


"Hai sayang, lagi apa? udah maem belum?" tanya Adel beruntun.


"Udah, Ni agi mam."


"El rindu gak sama Mami?"


"Lindu, El tan cayang Mami."


"Jadi cuma Mami aja nih?" Henry yang tiba-tiba berada dibelakang Adel.


"Daddyyy... Lindu Dad..." teriak sang bocah histeris, melihat Henry mengecup pipi Adel.


"Nooo.. itu Mami El, janan cium Dad." El mengerucutkan bibirnya.


"Hei, Daddy hanya mewakili El. Daddy bantu El, katanya rindu."


"Iya, El lindu Mami muuahhh?" tanya El, ada Wulan yang mengajarinya berbicara.


"Miss you El sayang."


"Micu tu. Mami dak puyang?"


"Gak lama kok, El minta oleh-oleh apa?" tanya Adel.


"Mau adik bayi Mam." Wulan yang menjawab.


"Hah, kau ini, kalau udah waktunya juga dikasih. Kita sedang berusaha, makanya jangan diganggu lagi." jawab Henry, Adel hanya terdiam setiap kali membahas masalah ini.


"Iya-iya, jangan lupa oleh-oleh buat ku. El dadah sama Mami dulu." ucap Wulan, El sudah pergi duluan sibuk dengan mainan barunya.


"Bye Mami, muahh."


"Bocah, Daddy gak nih?"

__ADS_1


"Bye Dad." El melambaikan tangannya.


"Tuh kan lihat si bocah gembul, dia mulai ngeselin." Henry menggerutu, merasa cemburu dengan kedekatan Adel padanya.


"Iya ngeselin seperti Daddy nya." Adel segera menjauh, hari semakin siang. Mereka bergegas keluar, tak lupa makan sarapan yang kesiangan.


Kegiatan mereka adalah keliling London, Adel begitu antusias, namun Henry selalu mengingatkan tak boleh lengah. Di musim semi, bersemi pula para penjahat jalanan. Mereka keluar dari sarangnya setelah musim dingin berlalu.


Henry tak melepas tautan tangannya dari sang istri, bahkan ke toilet pun Henry menunggunya. Dasar bucin nya Adel.


"Dad, aku bisa jalan sendiri."


"Diam, nanti kamu ilang dinegara orang kan gak lucu." Henry tak ingin dibantah.




Henry mengambil beberapa foto Adel, juga foto mereka berdua saat masih ada di vila. Tujuan mereka adalah keliling eropa.


"Kau tau? Ini adalah pertama kalinya aku datang kesini dengan wanita yang aku sayangi." Henry duduk disebelah Adel membawa eskrim dan roti.


"Aku serius, Mom kandung El dulu juga belum pernah ketempat ini. Bahkan vila yang kita tempati, kamu wanita pertama yang tidur diranjangku selain Ama." Henry menghentikan ceritanya.


"Dad." Adel menggenggam tangan suaminya yang terasa dingin. Mungkin karena memegang es krim, pikirnya.


"Tak apa, kau harus tau semuanya. Lagi pula, kau sekarang istriku jadi tak ada yang perlu aku tutupi." perkataan Henry membuat Adel menunduk, merasa tersindir.


"Uhukk uhukk."


"Pelan-pelan dong, kau ini seperti El. Makan es krim belepotan." Henry mengambil sisa eskrim dibibir Adel dengan mengecupnya.


"Ihh.. Dad ini tempat umum." Adel menjauhkan tubuhnya.


"Biarin tempat umum, lagi pula hanya ada kita berdua disini." Adel melihat sekeliling yang terlihat sepi.


"Oke aku lanjutkan." Henry menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Aku tak ingin membuat mu membuka luka lama Dad." ucap Adel mempererat genggamannya pada sang suami.


"Tak apa, aku hanya ingin kau tau." Henry menarik tubuh Adel semakin mendekat, Adel hanya menurut, bersandar pada bahu sang suami.

__ADS_1


"Dia hanya pelarianku, dari rasa sakit saat aku pertama kalinya dihianati mantan yang meninggalkan ku. Dia memilih laki-laki lain yang lebih kaya, karena saat itu, kami belum seperti sekarang ini. Dan Mom El hadir diantara kami, lambat laun aku sedikit bisa membuka hati."


"Namun saat itu juga aku tau, bahwa dia dan Edo sahabatku adalah sepasang kekasih sebelumnya. Hal itu membuatku marah, hancur. Kenapa aku baru mengetahuinya setelah dia menjadi istriku. Yang lebih menyedihkan, dia masih sering menemui Edo dibelakang ku. Kau tau aku ingin menghilang saat itu juga dari dunia ini." Henry tersenyum pahit, namun masih melanjutkan ceritanya.


"Dua tahun kami saling diam, bahkan aku belum pernah menyentuhnya sekali pun.Kami sibuk dengan dunia masing-masing, dia dengan dunianya dan aku terus membangun HS Gruop sampai dititik ini. Namun hati ku hampa, seperti mayat hidup. Sampai Mom dan Dad turun tangan, mengatur bulan madu kami. Dengan alasan ingin segera menimang cucu."


"Bahkan aku melakukannya dalam keadaan mabuk, aku tak lagi memikirkan perasaannya. Aku menghukum diriku sendiri. Dengan tidak memedulikan dia yang disampingku. Meski dia selalu berusaha untuk memenagkan hatiku. Sekedar untuk meminta maaf."


"Tuhan berkehendak lain, dia dinyatakan hamil. Kau tau? saat itu perasaanku seperti apa?"Adel hanya menggelemgkan kepalanya. Adel memeluk sang suami semakin erat. Berusaha menyalurkan kekuatan untuknya.


"Aku masih belum bisa menerima dia, sampai suatu hari, dia dirawat dirumah sakit. Aku bertemu seorang wanita yang tengah hamil. Namun sang suami berada diruang ICU. Tubuhnya lemah, berjuang hidup untuk dua nyawa dalam tubuhnya. Sejak saat itulah aku baru sadar, mungkin seperti itulah dia menjalani hari-harinya." Henry tak kuasa menahan genangan disudut matanya. Tetapi masih meneruskan ceritanya.


"Aku mulai menganggap kehadirannya. Lagi pula bayi itu tidak bersalah, dan sampai saat aku menyadari perasaan ku, semuanya sudah terlambat. Dia berjuang sendiri dengan kesakitannya, mempertaruhkan nyawanya untuk El. Aku benar-benar terpuruk, menyalahkan diriku sendiri, bahkan mengabaikan El. Bodohnya aku, bahkan aku tak mengabaikan perjuangannya. Demi melahirkan penerus Syahreza.


"Sampai aku datang membuka mata ku lebar-lebar, semuanya memang telah berlalu. Aku berusaha menghargai apa yang telah orang lain perjuangkan. Dan aku hampir saja kehilangan kalian. El dan kau, karena kebodohan ku juga." Adel tergugu, tak mudah kehidupan yang Henry jalani selama ini.


Kekayaan yang dia miliki, tak sekaya hati yang rapuh. "Aku tak ingin mengulangi lagi, cukup kebodohan yang selama ini aku lakukan. Jadi aku mohon tetaplah disisiku, menjadi istriku, Mami El, dan ibu dari anak-anakku kelak."


Adel semakin terisak, perasaan bersalah menghantuinya. Henry bisa melepaskan traumanya, kenapa malah dia yang masih terbelenggu dalam luka lama. Padahal Henry sudah berbaik hati padanya.


"Maaf Dad."


Maafkan aku yang belum bisa jujur padamu. Padahal kau telah memberikan semua hati dan cinta mu.


"Hei, tak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan mu." Henry mendekap istrinya semakin erat. Memgecup keningnya cukup lama. Mengusap punggung Adel yang bergetar karena tangisnya.


"Kau ini cengeng sekali, sudah seperti El. Lihat wajah mu benar-benar seperti badut." Henry menggoda istrinya.


"Selalu saja badut, gak ada yang lebih keren apa?" Adel emngerucutkan bibirnya.


"Ada, seperti nenek-nenek." Henry menjulurkan lidahnya, menjauh dari Adel. Adel tak ingin kalah mengejar Henry yang menjauh darinya.


"Daddyyy... tunggu saja aku balas nanti." teriak Adel, mereka berlarian seperti anak kecil. Sampai Henry menangkapnya. Membawanya dalam dekapan hangatnya.


Hari semakin sore, saat mereka berdua memutuskan untuk kembali ke vila. "Bahagia ku sederhana, hanya bisa bersama dengan orang yang kita sayangi. Juga dia menyayangi kita." Henry tak melepas tangannya dari pinggang ramping sang istri.


TBC


Jangan lupa like komen dan vote.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2