Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
TS-2


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"El, dimana Mama Wulan?" tanya Adel, hari ini El ikut ke kantor bersama Wulan. Tetapi saat selesai rapat, El hanya berdua dengan sekertarisnya Nia.


"Nona Wulan pergi Bu, katanya ada urusan penting." sahut Nia sambil menyuapi es krim pada El.


"Kemana anak itu?" Adel bergumam, tak biasanya dia menghilang tanpa kabar seperti sekarang ini. Terlebih dia tak memberitahu Adel. Dia segera meneliti gawainya. Ternyata lowbate, dia lupa mencharge tadi pagi.


"Nahh, ini suapan terakhir, selesai mam ecim nya." Nia membersihkan sisa eskrim di wajah El dengan tisu.


"Yaeeey acih ate." ucap El dengan senyum imutnya.


"Sama sama sayang." Nia mengusap pipi El dengan sayang. Dia adalah pecinta anak kecil, meskipun dia sendiri masih lajang, karena dia anak tunggal dan tak memiliki adik atau keponakan. Dan setiap anak yang dekat dengannya akan menempel padanya karena sifat penyayangnya.


"Nia Kamu boleh kembali bekerja, aku sudah tak ada kerjaan penting hari ini." Adel berbicara seraya menyambungkan ponselnya pada pengisi baterai. Tak menunggu waktu lama, gawainya bergetar beberapa kali menandakan ada pesan masuk.


"Baik Bu, Saya permisi kembali ke meja Saya." Nia menuju ke mejanya tepat di depan ruangan Adel.

__ADS_1


Adel mengangguk, dia kembali mengecek ponselnya, tertulis nama Wulan disana, dia berulang kali mengirim pesan padanya. Dan ada beberapa missed call dari Wulan. Adel segera mengecek, dia tersentak saat mengetahui kabar duka dari Ibu Wulan.


"Sabar Lan, kau gadis yang kuat, aku yakin kau pasti bisa menghadapi semua cobaan hidup ini." Adel ikut menitikkan air matanya, dia ikut merasakan kesedihan yang dialami Wulan.


"Mami napa angis?" El ikut berkaca-kaca melihat Adel menangis.


"Mami sedih sayang, kita susul Mama Wulan ya." El yang tak mengerti permasalahan orang dewasa hanya mengangguk.


Adel menghubungi Henry, kebetulan jam pulang kantor sebentar lagi, dan pekerjaan Henry hari ini tak terlalu banyak. "Haii Mami, ada apa hmm? Apa kau sudah tak sabar ingin bertemu dengan ku?"


Adel hanya berdecih, sekarang adalah hobi baru Henry, dia selalu menggombal tanpa tahu tempat dan suasana. "Ini serius, Wulan pergi, Ibunya meninggal dunia, dan Aku baru selesai rapat." jawab Adel dengan sedikit ketus.


"Oooo, Ku pikir Kau sudah merindukan ku, seperti aku rindu kamu, tapi cukup aku saja, karena kata dilan rindu itu berat, biar aku saja." Henry santai menanggapi Adel, seperti tak terkejut sedikitpun.


"Aku juga serius sayang." Henry nyengir kuda, senyum tak memudar dari wajahnya.


"Hah, cepat jemput aku, kita ke rumah Wulan." Adel menutup panggilan, tanpa mendengarkan jawaban dari Henry.


"Iya sa...., lah kok dimatiin sih." Henry membereskan meja kerjanya dari tumpukan kertas yang berserakan. Dia meninggalkan HS Group dengan perasaan senang. Setiap hari Henry akan antar jemput Adel, kecuali jika ada meeting penting, barulah Adel berangkat dengan supir.

__ADS_1


"El kalau besar kamu jangan ngeselin seprrti Daddy mu ya" Adel berbicara sambil menggandeng tangan El.


"Tak Mami, El tan pintal." Adel mengacak rambut El, tapi tangan Adel ditepis El.


"Mami, tal El dak keyen agi." El merapikan kembali rambutnya.


Astaga El, sepertinya sifat menyebalkan Daddy mu sudah mulai mengalir padamu.


Adel menunggu Henry di lobby, waktu tak akan terasa lama, jika dia bersama El. Ada saja tingkah lucu El yang membuatnya terhibur. Mereka bertiga menuju kerumah Wulan. Bagaimanapun, saat ini Wulan adalah keluarganya.


"Tenanglah sayang, Arga sudah ada disana, untuk mengurus semuanya." Henry melirik Adel sekilas, dia masih fokus pada kemudinya karena jalanan sedikit padat saat jam pulang kerja.


"Kamu sudah tahu? Kenapa tak memberitahu ku?" Adel mengerucutkan bibirnya.


"Wulan bilang padaku kamu sedang rapat, jadi dia menghubungiku, aku suruh Arga mengantarnya pulang sekalian mengurus semua keperluannya." ucap Henry tanpa menoleh.


Adel menengok, senyum mulai mengembang dari bibir manisnya. "Terima kasih, kamu memang bisa diandalkan." Adel bergelayut manja di lengan Henry, El tertidur didkursi belakang yang disulap menjadi kasur mini bagi El.


Saat ini mereka berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, "hanya itu? terima kasihnya disini." Henry menunjuk dan memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Ihh dasar mesum." Adel mencubit lengan Henry.


mohon maaf, untuk visual yang ada di sini harus dihapus, boleh lihat di ig@keynan71272


__ADS_2