Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-8


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Arga dan Wulan


Arga menepati janjinya, dia menemani El berenang, sebelumnya mereka sarapan lebih dulu. Wulan sudah memesan makanan khusus untuk El pada koki restoran yang ada di hotel.


"Dah Mam, dah ndut nihhh," El memamerkan perutnya yang sedikit buncit.


"Sedikit lagi ya," Wulan menyodorkan makanan itu lagi.


"No Mam," El menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Sudahlah, nanti juga dia makan lagi kalau lapar," ucap Arga datar.


"Kau selalu membelanya," Wulan kesal karena Arga selalu membela El.


"Kau makanlah! nanti menyusul, jangan lupa bawakan handuk untuk kami," Arga menuju kolam renang pribadi yang ada di kamar ini. Kamar yang dia tempati tak jauh berbeda dengan yang ditempati Henry. Semua fasilitas hampir sama. Hanya saja berada satu lantai dibawahnya.


Arga memiliki kamar sendiri disebelahnya, tetapi semalam dia harus tidur satu kamar dengan Wulan dan El. Dia tidur di sofa demi menjaga El supaya tak rewel lagi.


"Otey, yeay ain ail," El bertepuk tangan, dia sangat senang, ternyata Arga bisa bersikap mengimbangi El.


"Let's go. Kita terbang."


"Esgo, Papa" Arga menggendongnya diatas bahu. El tertawa senang.


Wulan melanjutkan sarapan yang tertunda, dia menyusul Arga setelahnya. Namun Wulan tak ikut menceburkan diri ke air. Dia hanya mengamati dari sisi kolam. Wulan sangat senang melihat perlakuan Arga.


Bersama El kamu menjadi lebih hidup, taknseperti pilar lampu jalanan yang hanya bisa diam, irit bicara, juga menyebalkan.


Wulan bergelut dengan pemikirannya, hingga dering ponsel yang ada di sakunya bergetar mengagetkan lamunannya.


"Kakak, ibu sakit lagi, ayah pergi, aku harus bagaimana?" terdengar suara anak laki-laki diseberang sana. Wajah Wulan terlihat panik, Ibunya memang sering sakit, dia mengalami komplikasi setelah melahirkan adik laki-lakinya 10 tahun yang lalu.


Usia yang sudah tak lagi muda, ditambah dengan sikap ayahnya yang tak pernah memperdulikan keadaan keluarganya. Memperparah penyakit Ibu nya belakangan ini. Ayahnya hanya mabuk dan berjudi, setelah dia dipecat dari pekerjaannya akibat PHK masal.


Itulah sebabnya Wulan berjuang untuk mengejar pendidikannya, bahkan dia bekerja sampingan untuk menutupi biaya kuliahnya. Wulan mendapatkan beasiswa pendidikan, namun tak semuanya ditanggung, ada beberpa hal yang dia harus emmbayar sendiri. Saat itu Ibunya masih mampu membiayainya dengan berjualan kueh disekitar rumahnya.


Wulan mulai magang paruh waktu, menjadi asisten dokter gajinya tak seberapa tapi dia masih bersyukur bisa menutupi kekurangan kuliahnya yang menurut orang sangat mahal, terlebih Wulan mengambil dokter spesialis.


Wukan sangat bersyukur saat menerima tawaran merawat El, yang gajinya sangat besar, berkali lipat dnegan gaji dirumah sakit. Namun dia harus berkorban, tak dapat menemui keluarganya.


"Kamu dimana sekarang?" suara Wulan sedikit bergetar, dia berusaha menahan tangisnya.


"Di rumah, aku sudah panggil Pak Mantri kesini," jawabnya.

__ADS_1


"Kamu tunggu Pak Mantri, Kakak segera pulang."


Arga menyadari perubahan raut wajah Wulan, dia mengajak El menepi, dan membujuknya berganti pakaian. Lagi pula sudah cukup lama mereka berenang.


"Kita udahan yuk, Mama udah nungguin tuh," tunjuknya pada Wulan yang menerima telepon.


"Otey Papa."


Selesai berganti pakaian, mereka hendak menuju kediaman Syahreza, menyusul Tuan Abimanyu dan keluarga lainnya yang pulang lebih dulu setelah sarapan pagi.


"Tuan, bolehkah saya minta izin?" Wulan merem*** kedua tangannya, saat ini mereka berada dalam perjalanan pulang. Dengan El yang ada dipangkuannya, sibuk memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.


"Hmmm," jawabnya singkat.


"Saya serius, kalau bisa saya turun disini saja," Arga mengerem pelan, dia menepikan mobilnya di bahu jalan.


"Memangnya kau mau kemana? Bagaimana dengan El?" Wulan masih diam, dia takut mengutarakan keinginannya.


"Baiklah, kita antarkan El pulang dulu," Wulan akhirnya tak punya pilihan lain. Arga kembali melajukan mobilnya, sampai ditempat tujuan, disana masih ramai orang. Membuatnya mengurungkan niatnya.


"Lan, ada apa dengan mu?" Ama mendekati Wulan yang terlihat murung. Dia duduk sendirian diujung ruangan, memperhatikan El yang sedang bermain dengan Nyonya Amel.


"Enggak Ama, Wulan enggak apa-apa."


"Kalau Gak apa-apa kenapa melamun?" Ama memberikan segelas minuman untuknya.


"Ama, seandainya Wulan izin pulang boleh tidak ya?" Wulan tak berani menunjukkan wajahnya pada Ama.


"Saya ingin menjenguk Ibu saya," ucap Wulan pelan.


"Kamu kangen keluarga mu?" tanya Ama. Wulan menganggukkan kepalanya. Tetapi dia tak menceritakan keadaan yang sebenarnya.


"Kapan rencananya kamu akan pulang? Biar Arga yang mengantar mu, lagi pula sekarang dia sedang tidak terlalu sibuk."


"Kalau boleh sekarang juga Ama." Wulan mengutuki dirinya sendiri, dia terlalu bersemangat padahal Ama belum mengatakan iya. "Tapi bagaiman dengan El?" lanjutnya.


"Tak perlu cemas, kami semua ada disini," Ama menyunggingkan senyumnya.


"Benaran Ama?" Wulan sangat senang.


"Kau tunggu disini," Ama memanggil Nyonya Amel dan juga Arga. El ikut Tuan Abimanyu dan Tuan Edric ke taman belakang.


"Kau ingin pulang Lan?" tanya Nyonya Amel duduk diseberan Wulan.


"I-iya Nyah," Wulan tergagap.


"Berapa lama kau disana?"

__ADS_1


"Hanya satu hari, tapi kalau bisa saya usahakan sore ini juga kembali kesini." Diizinkan pulang saja Wulan sudah senang, apalagi sampai harus meminta lebih, Wulan tak mau serakah.


"Ga, antarkan Wulan pulang," ucap Nyonya Amel Arga hanya mengangguk, dia berdiri diikuti Wulan.


"Terima kasih, saya akan segera kembali," Wulan berlutut dihadapan Nyonya Amel an Ama.


"Bangunlah nak, kami sudah menganggap mu keluarga, tak perlu sungkan lagi," Nyonya Amel membantu Wulan berdiri.


"Sekali lagi terima kasih." Wulan berkaca-kaca, dia merasakan kehangatan sebuah keluarga yang dia rindukan selama ini.


"Cepatlah, jalanmu lambat seperti siput," gerutu Arga yang bersandar dipintu mobil.


"Iya bawel."


Saat bersamaan pasangan pengantin baru tiba di mansion. Mereka sempat berpapasan di depan pintu gerbang. Wulan hanya mengangguk pada Adel begitupun sebaliknya.


"Kemana mereka akan pergi?" gumam Adel.


"Mungkin mereka akan berkencan," canda Henry.


"Gak lucu," Adel keluar terlebih dahulu, disusul Henry dibelakangnya.


"Mami, sayang, jangan ngambek lagi dong," Henry mensejajarkan langkahnya dengan Adel. Adel menepis tangan Herny dipinggangnya.


Flash back On


Ditengah perjalanan, Henry menepikan mobilnya untuk menerima telepon. Dia memilih menyetir sendiri, karena ingin berduaan dengan Adel. Maklumlah, lagi senang-senangnya.


"Aku ingin ketoilet," tunjuk Adel pada toilet umum yang tak jauh dari sana. Henry hanya mengangguk, melanjutkan perbincangannya dengan seseorang diseberang sana.


Adel turun, dia berjalan seorang diri, suasana restoran masih belum terlalu ramai, yah dia hanya ingin numpang toilet. "Ada yang bisa saya bantu Nona," sapa seorang pegawai.


"Maaf, saya hanya ingin ke kamar kecil," ucapnya sopan, toilet berada disamping restoran.


"Hahhh... lega rasanya," ucap Adel setelah keluar dari toilet, tetapi dia tak mendapati mobil suaminya. Adel juga lupa membawa ponselnya.


"Menyebalkan, dia melupakan ku," Adel menghentakkan kakinya.


Selesai menutup panggilan, Henry kembali melajukan mobilnya, tanpa mengingat Adel yang belum naik bersamanya. Henry baru tersadar saat mendengar dering ponsel dikursi sebelahnya. Benda pipih itu terus begetar.


Henry menepuk keningnya, dia melupakan sesuatu. Dia segera berbalik, menuju tempat yang tadi. Adel sedang duduk dikursi tunggu restoran dengan wajah ditekuk.


"Sayang, maafkan aku...," Adel kesal, dia melewati Henry begitu saja, mengambil gawainya, hendak menghubungi seseorang, ternyata ada panggilan masuk dari Wulan.


"Heii mau kemana? Maaf aku benar-benar tak sengaja, tadi Mommy, menanyakan kita sudah sampai dimana. Ada kerabat yang menunggu kita."


"Bodo amat." Adel membanting pintu mobil, dia duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Ayolah, aku tak sengaja melakukannya. Sayang duduk di depan ya, atau aku temani disini sampai kau memaafkan ku?" Adel akhirnya mengalah, dia harus segera sampai, agar bisa bertemu El, hanya dia yang bisa menghiburnya dengan tingkah lucunya.


Flash Back Off


__ADS_2