Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-45


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Lan, pagi-pagi mukanya ditekuk gitu. Ada apa lagi sih?" Adel mendekati Wulan yang duduk termenung, mereka sedang mengawasi El yang bermain air ditepi kolam dangkal.


"Hah, siapa? aku gak kenapa-kenapa tuh." Wulan memaksakan senyuman diwajahnya.


"Aku bukan orang yang bisa Kamu bohongi dengan mudah Lan."


"Aku lagi bingung, Arga cuekin Aku lagi." Wulan mendesah frustasi, dua hari sudah Arga bersikap dingin padanya. Meski masih membalas pesan, tetapi hanya singkat. Jika dihubungi selalu beralasan.


"Kamu gak usah sedih, Arga memang sibuk. Dia sedang menangani proyek baru di Lombok. Dan juga minggu depan mereka akan berangkat kesana." jelas Adel.


"Hah? Lombok? Kok Aku gak tau sih?"


Adel tersenyum, dia mengerti Wulan kaget karena Arga belum memberitahunya. Tetapi dia berusaha menenangkan Wulan agar tak semakin cemas memikirkan hubungannya dengan Arga yang baru saja membaik. "Mungkin dia sibuk, belum sempat memberitahu mu. Lagi pula masih beberapa hari sebelum mereka berangkat." ucap Adel menyemangati Wulan.


Kamu gak ngerti Adel, Dia yang sebelumnya hangat tiba-tiba dingin setelah kita bercerita di taman waktu itu. Mungkin Dia belum bisa melupakan mantan terindahnya.


Wulan mendesah pelan, seolah berat untuk bertanya pada Adel. Tetapi jika memendamnya sendiri, Wulan tak akan pernah tahu apa yang terjadi. "Emm, kamu tahu gak Arga pernah pacaran atau gak?" tanya Wulan, setelah mempertimbangkan cukup lama akhirnya dia memberanikan diri bertanya.


"Aku gak tau Lan, selama Aku kenal dia, gak banyak yang Aku tahu tentangnya." Wulan terlihat lesu, memang Arga tak banyak bicara. Hanya sekedarnya saja.


"Tapi mungkin suami ku tahu, mereka kan sejak kecil bersama. Nanti Aku coba tanya padanya."


"Benaran? Aku tunggu cerita dari mu." ucap Wulan antusias, akhirnya Adel bisa diharapkan.


"Ya ya, tapi Aku gak janji kapan waktunya." Wulan langsung menabrak tubuh Adel, memeluknya dengan erat.


"Makasih Adel, cintakuh sayangkuh." Adel bergidik, segera menjauhkan Wulan darinya.


"Hush, jauh-jauh. Ngeri kalau kamu bilang begitu. Jangan-jangan kamu lebih menyukai ku dari pada Arga."


"Sembarangan, tetap Arga yang terlope." Wulan melempar kulit jeruk yang dikupasnya.


"Mamiii... El mau peluk." ucap bocah gembul yang sudah puas bermain.


"Sini sayang Mami peluk." Adel mengambil handuk dan melilitkan ketubuh El yang basah.


"Cayangggg Mamiii..." ucapanya seraya mengecup kedua pipi Adel.


"Sama Mama gak sayang nih?"


"Cayangg Mama Lan..." El kiss bye dari tempatnya.


Wulan menarik kedua pipi gembul El karena terlalu gemas padanya. "Ukhhh Mama emesss cama El." ucap Wulan menirukan gaya bicara El.


El segera menepis kedua tangan Wulan. "Mama, No no no... janan natal ya.." ucap El sembari menggiyangkan jari telunjuknya.


"Makanya buruan kawin, minta tuh sama Arga dibuatin anak lucu kayak El. Hahaha...." Adel tak henti meledek Wulan.


"Kawin-kawin, nikah dulu, sah dulu kali." Wulan mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dia juga yang meminta Arga untuk tidak terburu-buru menikah. "Makanya tuh bilangin Arga jangan jutek-jutek." lanjutnya.


"Ohhh jadi sebenarnya kamu dah gak sabar ya Lan." Adel mengedipkan sebelah matanya. El mengikuti Adel dengan mengedipkan mata, tetapi kedua matanya yang mengerjap.


"Hahahaaaa... El kamu ini masih bayi gak usah genit." Wulan mengacak rambut El yang masih basah.


"Mami, enit apa itu?" tanyanya polos.


"Genit itu makanan pedas sayang." jawab Adel sekenanya.


...----------------...


"Tuan, saya izin pulang kebih awal hari ini. Saya merasa kurang enak badan hari ini." ucap Arga pada Tuan Abimanyu diruangannya. Disana juga ada Henry, mereka sedang membahas rencana di Lombok nanti.


Henry dan Tuan Abimanyj saling melempar tatapan heran. Selama ini Arga tak pernah sekalipun meninggalkan kantor diluar jam kerja. Apalagi pulang lebih awal, membuat ayah dan anak itu merasa heran dibuatnya.


"Kamu pulang ke mansion aja Ga, ada Mommy dan juga Ama di rumah." ucap Tuan Abimanyu sedikit cemas jika Arga benar-benar sakit dan tak ada yang merawatnya.


"Daddy benar, atau Kau bisa pulang ke rumah ku. Disana ada Dokter Wulan yang siap merawat mu 24 jam." Henry meledek diselingi tawa ringan.


"Aku gak apa-apa. Hanya perlu istirahat sebentar." Arga memaksakan senyumnya, memang benar kepalanya sedikit berdenyut akibat kehujanan kemarin. Namun hatinya lebih berdenyut nyeri saat ini.

__ADS_1


"Ya sudah, tapi kalau sakit mu tambah parah, blamg Daddy biar Bejo jemput Kamu." Tuan Abimanyu menepuk Arga, dia sudah menganggap Arga anak kandungnya sendiri. Begitupun Henry, tak merasa iri dengan perlakuan kedua orang tuanya terhadap Arga. Baginya Arga seperti adik kandungnya sendiri.


Arga hanya mengangguk, dan pamit undur diri. "Saya Permisi." Arga menolak ketika akan diantar sopir kantor. Namun Henry memaksanya, takut terjadi sesuatu saat di jalan. Apalagi Arga menyetir dalam keadaan sakit.


"Jangan lupa hubungi Alvin." Henry menaruh tangannya di telinga. Memberi isyrarat pada Arga.


Di perjalanan, Arga memutar lagu yang menjadi favoritnya. "The man who can't be moved" dimana liriknya yang selalu mewakili hatinya. Dimana saat itu dia selalu mengunjungi tempat pertemuannya dengan seorang gadis cantik. Namun gadis itu telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Policeman says, "Son you can't stay here"


Polisi berkata, "Nak kau tak boleh di sini"


I said, "There's someone I'm waiting for


Kujawab, "Aku sedang menunggu seseorang


if it's a day, a month, a year!


entah sehari, sebulan, setahun!"


Gotta stand my ground even if it rains or snows


Takkan pergi meskipun hujan atau salju turun


If she changes her mind


Jika dia berubah pikiran


This is the first place she will go


Inilah tempat pertama yang kan dia datangi


'Cause if one day you wake up


Karna jika suatu hari kau terbangun


and find that you're missing me


dan merasa rindu padaku


Dan hatimu mulai bertanya-tanya


where on this earth I could be


dimanakah diriku


I'm thinking maybe you'd come back here


Kupikir mungkin kau kan kembali ke sini


to the place that we'd meet


ke tempat dulu biasa kita bertemu


And you'd see me waiting for you


Dan kau kan melihatku menunggumu


on the corner of the street


di sudut jalan ini


So I'm not moving


Maka aku takkan pergi


I'm not moving


Aku takkan pergi


I'm not moving


Aku takkan pergi

__ADS_1


People talk about the guy who's waiting on a girl


Orang membicarakan lelaki yang sedang menunggu seorang gadis


There are no holes in his shoes but a big hole in his world


Sepatunya tak robek, tapi hatinya terluka


Maybe I'll get famous as the man who can't be moved


Mungkin aku kan terkenal sebagai pria yang tak mau disuruh pergi


And maybe you won't mean to but you'll see me on the news


Dan mungkin tanpa sengaja engkau kau melihatku di berita


And you'll come running to the corner


Dan kau kan datang ke sudut ini


'cause you know it's just for you


karena kau tahu semua ini untukmu


I'm the man who can't be moved


Akulah pria yang tak mau disuruh pergi


I'm the man who can't be moved


Akulah pria yang tak mau disuruh pergi


Going back to the corner


Kembali ke sudut (jalan) itu


where I first saw you


Di mana aku pertama bertemu denganmu


Gonna camp in my sleeping bag


(Aku) 'kan berkemah dalam kantong tidurku


I'm not gonna move


Aku takkan pergi


Namun belakangan ini Arga mulai melupakan lagu itu, kehadiran Wulan sedikit banyak telah merunah hidupnya. Belajar dari Henry yang telah membuka hatinya untuk Adel. Dan berbagai kesulitan yang mereka berdua hadapi. Membuat Arga juga harus menata hatinya untuk kembali merangkai hatinya. Membuka hatinya untuk orang lain.


Arga sudah sampai di apartement miliknya, dia memberikan tips untuk Pak Sopir yang mengantarnya. Namun Arga tak kembali ke flat dimana apartmenemnya berada. Melainkan melajukan kendaraannya ke suatu tempat. Tempat yang telah lama tak dikunjunginya.


Arga menunggu cukup lama, sampai orang yang yang ada disana pergi. Barulah Arga menekuk lututnya didepan gundukan tanah dengan bunga segar yang baru saja ditinggalkan sepasang kekasih baru saja.


"Kamu pasti sudah bahagia disana ya, bertahun-tahun lamanya Kau pergi. Namun kenangan kita masih tak bisa menghilang dari hidupku." Arga mengusap nisan gadis yang pernah mengisi sudut hatinya.


"Ray, dia sudah dewasa sekarang, dia cantik seperti mu. Aku sudah menjalankan amanat terakhir mu." Arga berusaha menahan genangan dikedua sudut matanya.


"Aku juga sudah menemukan seseorang sesuai permintaan mu, maafkan Aku yang akhirnya menghianati mu." Buliran bening merembas begitu saja. Tanpa bisa Arga tahan lagi. Dadanya terasa sesak dan suaranya tercekat ditenggorokan. Sehingga Arga tak dapat lagi melanjutkan kalimatnya.


Lama Arga terdiam, berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat. Arga mengatur nafasnya, baru Arga bisa kembali menyusun kata-katanya. Arga memaksakan senyuman.


"Suatu hari nanti Aku akan mengenalkan seseorang pada mu. Tapi Aku harus memastikan perasaan ku dulu. Apakah dia hanya mirip dengan mu? atau memang karena hal lain. Kamu gak akan marah padaku kan?" Arga seperti sedang berbicara dengan seseorang yang ada di hadapannya.


"Ray, dia seperti mu, seorang dokter. Dokter spesialist anak. Seandainya Kamu masih ada, pasti kamu juga mengenakan baju serba putih dengan snelli seperti impian mu." Arga menundukkan kepalanya. Semua orang yang dia sayangi telah meninggalkannya. Dia hanya takut Wulan juga akan melakukan hal yang sama.


Akhirnya Arga memutuskan untuk pulang, setelah puas mencurahkan semua kegundahan hatinya. "Wulan, Aku harap Kamu tak melakukan hal yang sama dengan kedua orang tua ku dan juga Dia." gumam Arga dalam hati.


Menarik nafas dalam, tangannya mengepal erat mengenggam setir kemudi. Memantapkan hati bahwa pilihannya kali ini tak akan salah.


TBC


Mau ingatkan, sekarang versi terbaru dukungan pakai hadiah. Bukan vote lagi ya, bagi yang punya kelebihan poin atau koin bisa disumbangkan buat novel ini ya.

__ADS_1


Jangan lupa balik ke cover dan kasih bintang 5 buat bayar author supaya lebih semangat.


TERIMA KASIH


__ADS_2