
Ayo vote vote vote.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Hari ulang tahun El, seluruh keluarga Syahreza berkumpul, termasuk Tuan Edric beserta putri semata wayangnya, beserta suami yang baru satu bulan menikahinya. Keluarga Wiranata juga diundang, acara yang dibuat sederhana hanya potong kue dan makan bersama. Kebetukan sekarang adalah weekend, jadilah mereka semua free.
Mereka tertawa bersama, melihat tingkah lucu El.. Tetapi tidak dengan Henry, dia memilih mengurung diri sejak pagi. Nyonya Amel sudah berulang kali membujuknya, namun dia masih enggan meninggalkan zona nyamannya. Dia tak menyerah, berbagai alasan dia gunakan.
"Dad, aku menyerah, kau saja yang bujuk putra bodohmu itu, aku lelah harus naik turun tangga, aku tak sanggup lagi Dad" Nyonya Amel menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia berbicara sedikit pelan, banyak orang disana.
"Biarkan aku kesana Mel" Ama mendengar apa yang menantunya bicarakan. Sudah lama dia tak bertindak, membuat Henry bersikap semaunya. Ama dibantu Wulan menujubke kamar Henry, menggunakan lift dia kesana.
"Ama, saya ke kamar sebentar, apa tidak apa-apa Ama sendiri?" Wulan sedikit tak enak jika harus mendengar apa yang tak seharusnya dia dengar, dia memilih kembali ke kamarnya sebentar, lagipula dia tak dapat menahan ke kamar mandi.
Ama tersenyum lembut, diusia senjanya, masih menyimpan karisma luar biasa dari Ama. "Ya pergilah, aku sendiri saja, lagi pula sudah dekat" tinggal beberapa langkah untuk sampai dikamar Henry.
Saat bersamaan, Henry keluar, dia sudah rapi dengan kemeja dan jas yang melekat ditubuhnya. Dia sudah berniat turun, untuk menyapa anggota keluarga yang lain. "Ama, Mom yang memintamu kemari?" Henry bertanya lebih dulu, untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Ama perlu bicara dengan mu sebentar, bolehkah Ama masuk?" Henry menganggukkan kepalanya, dia mendorong pintu agak lebar, sebelum menutupnya kembali.
Henry datang bersama Ama, mereka selesai bicara, untuk pertama kalinya setelah dia pulang dari rumah sakit, Henry menjejakkan kakinya di sini, diruang keluarga yang luas, mereka semua berkumpul. Henry masih tetap sama, hanya sekarang lebih pendiam, tidak akan bicara jika tak ditanya.
Keluarga yang lain pun tak ada yang berani menyinggungnya. "Daddy, ayo ain" El sudah fasih menyebut namanya, membuat Henry tersentuh.
"Sayang, kita tiup lilin yukk, nanti main lagi, okey" Adel membujuk El, hari sudah siang, pasti sebentar lagi El mengantuk, yang lain juga harus menikmati makan siang yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Oteyy Mami" El menunjukkan jempolnya. Acara dimulai, walaupun sederhana, tapi bermakna. Karena semua keluarga hadir disana, setelah bernyayi, tiup lilin dan potong kue. Adel dan Henry seperti tak terjadi apapun, mereka bisa menutupinya dari orang luar. Tapi tidak dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Amat uyan aun, yeeee" El bertepuk tangan, dia bahagia ada banyak orang yang menyayanginya. Setelah acara potong kue, dilanjutnya makan bersama. Henry kembali ke kamarnya tanpa sepengatuhan siapapun.
Arga yang menyadari, menyusul Henry ke kamarnya. "Aku bawakan kamu makanan" Arga meletakkan nampan berisi makanan diatas meja kecil di depan sofa.
"Aku tak lapar" Henry melirik sejenak, dan kembali fokus pada layar TV yang menyala.
"Apa kau masih belum mengingatnya? jika ya, aku akan membantumu, agar kau tak mengulang kebodohanmu. Aku harap kau ingat hal apa yang membuatmu berakhir dirumah sakit."
Henry menatapnya tajam, namun tak menyurutkan niat Arga untuk terus berbicara padanya. "Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri? Kau tak pernah belajar dari kegagalan yang sebelumnya, huh miris sekali."
"Apa kau sudah selesai bicara? tinggalkan aku" Henry kembali dingin, dengan raut wajah yang susah ditebak.
"Aku menyesal karena Tuhan masih memberimu kesempatan hidup, tapi kau tak memanfaatkannya dengan baik" Arga mulai emosi, Henry mengabaikannya.
"Maksudmu, kenapa aku tak mati saja waktu itu hah? Adik macam apa kau ini mendoakan aku mati secepat itu?" Arga berhasil, Henry mulai terpancing.
Henry berdiri dihadapan Arga, "Apa sebenarnya maumu hah?" Henry benar-benar jengah, semua orang disini mendorongnya, mengingatkan tentang dia dan Adel.
"Aku sudah ingat semuanya, apa kau sudah puas" Arga berdecih, keras kepala Henry akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Belum, karena aku masih meragukanmu, apa kau masih Henry yang ku kenal? Sepertinya nyawamu tertukar saat kau tak sadarkan diri" Arga sengaja berkata demikian. Dalam hatinya bersorak, kapan lagi dia mengintimidasi Henry, hahaha.
"Kau ini benar-benar..." Henry mengangkat sebelah tangannya, bersiap memukul Arga. "Kenapa berhenti? Aku sudah siap, ayo pukul, kalau hal itu bisa membuatmu lebih lega" Arga meraih tangan Henry, menempelkan pada pipinya.
"Aarrggghhh kalian semua sama saja, apa aku selemah itu? sampai seluruh kekuargaku harus ikut turun tangan? Hah" Henry kembali menghempaskan tubuhnya, duduk disamping Arga. Dia menyugar rambutnya kebelakang.
"Buktikan" Arga berdiri, meninggalkan Henry sendiri. Dia menutup pintunya sedikit kasar, membuat Henry terlonjak.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan paginya, Adel sudah berkemas, dia menata baju-bajunya dalam koper, Wulan menatapnya dengan sedih. El sibuk dengan mainannya, Wulan sesekali mengawasinya. "Apa kau yakin akan pergi Del? Bagaimana dengan El?"
"Tugasku sudah selesai Lan, sekarang giliranmu, tapi kau tenang saja, aku pasti akan sering berkunjung. Aku pasti akan merindukannya. Rumah ini, kamar ini, kau, semuanya. Terutama dia" Adel menunjuk dengan dagunya, rasanya tak rela dia harus kembali berpisah dengan El.
"Cobalah tinggal beberapa hari lagi, El juga masih merindukanmu sebagai Maminya, bagaiamana jika dia mencarimu?"
Adel mencoba menahan genangan di kedua sudut matanya, dia mengerjap beberapa kali. "Aku sudah tak berhak lagi atas dirinya, tapi selamanya dia akan menjadi putra tampanku, kau tenang saja, aku kan masih dikota yang sama. Kau juga tahu dimana harus mencariku. Jika dia rewel bawa dia padaku."
Wulan tak dapat menahan kesedihannya, "Huuhuuu... Jika aku punya tongkat peri, pasti sudah kulakukan tugasku, menyatukan kamu dan El, agar kalian tak terpisahkan"
"Hei, malah jadi kamu yang menangis, sudahlah, nanti El ikut menangis" Adel membawa Wulan dalam dekapannya, dia mengusap punggung Wulan yang bergetar. Mencoba menguatkan dirinya, bahwa ini semua hanya mimpi.
"Aku harus pergi, jaga El baik-baik untukku" tangis Wulan semakin pecah, membuat El mendekatinya.
"Mami, apa anis?" ( kenapa menangis) "Eyy dak akay agi"(El gak nakal lagi)
"Sayang, sini peluk" mereka bertiga berpelukan, dengan El ditengah, dia hanya diam mengikuti dua orang dewasa itu tanpa mengerti situasi yang sebenarnya. Adel meninggalkan kopernya, dia harus pamit dengan Henry.
Suara pintu diketuk, membuat Henry beranjak dari zona nyamannya. "Boleh saya bicara" ucap Adel setelah pintu dibuka.
"Hmm" Adel mengikuti Henry, tanpa menutup pintu. Mereka duduk berhadapan dibalkon kamar.
"Aku harus pergi, jaga El dengan baik" Adel mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal ini pada Henry.
"Pergilah!"
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1