Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
98. Cekalan


__ADS_3

Belum juga Beby menjawab perkataan Beeya, orang yang mereka bicarakan sudah datang. Keharuan antara Beby dan Beeya pun harus berakhir dengan cepat.


"Belum pada tidur?" tanya Iyan.


Beeya segera melepaskan pelukan ibunya dan mulai menatap tajam ke arah sang kekasih. Tangannya pun sudah dia lipat di atas dada. Beby yang sangat mengerti dengan tabiat sang putri, memilih untuk pergi dari ruangan yang pastinya akan mencekam itu.


"Lanjutkan," ucap Beby sambil menepuk pundak Iyan. Sungguh Iyan dibuat tidak mengerti.


Selepas ibunya pergi, Beeya mendekat ke arah Iyan dengan wajah garang. Iyan ingin memeluknya, tetapi Beeya menghindar.


"Kamu dari mana?" tanya Beeya dengan penuh kemurkaan.


Iyan hanya tersenyum. Dia mendekat ke arah Beeya, tetapi Beeya semakin mundur dan terus mundur hingga tubuhnya terbentur meja makan.


"Ih, apaan sih!"


Beeya mencoba mendorong tubuh Iyan. Namun, Iyan malah mencekal tangan sang pujaan hati.


"Kenapa?" tanya Iyan dengan begitu lembut.

__ADS_1


"Awas ah, Bocah bandel!"


Beeya mencoba untuk menarik tangannya dari cekalan tangan Iyan. Sayangnya, tenaga pria lebih kuat dibandingkan dengan tenaga perempuan. Alhasil, Beeya kesakitan sendiri.


"Sakit," keluhnya.


Iyan segera mengendurkan cekalannya. Dia memeriksa tangan sang kekasih dan terlihat memerah. Ternyata cekalannya cukup kuat.


"Maaf," ucap Iyan.


Beeya malah mengibaskan tangannya dan pada akhirnya tangan Iyan pun terlepas. Dia memilih meninggalkan Iyan. Namun, Iyan mampu memeluknya dari belakang.


"Kenapa sih?" tanya Iyan. Dia sudah meletakkan dagunya di pundak Beeya. "Kalau kamu marah, katakan padaku. Apa salahku supaya aku tahu," paparnya. "Jangan seperti ini, Chagiya."


Beeya pun membalikkan tubuhnya. Dia menatap intens wajah Iyan dengan sorot mata penuh kekesalan. Kedongkolan hatinya masih tetap ada.


"Kemana kamu?"


Kalimat tanya yang membuat Iyan mengerutkan dahi. Apalagi nada bicara Beeya yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Kenapa ponsel kamu mati?" sergahnya lagi. "Ketemuan sama cewek lain, iya!"


Iyan malah terbahak mendengar omelan Beeya. Dia malah mencubit gemas pipi Beeya. Sedangkan mulut Beeya sudah maju beberapa sentimeter.


Iyan menarik tangan Beeya dan doa menyuruh Beeya duduk di kursi yang ada di ruang makan. Dia duduk bersimpuh di depan Beeya dengan wajah yang penuh dengan senyum.


"Ponsel aku mati karena aku lupa mengisi daya," jelas Iyan kepada sang kekasih hati. Matanya sangat teduh membuat Beeya merasa hangat dipandang seperti itu oleh Iyan. Apalagi sekarang Iyan sudah menggenggam erat tangan Beeya.


"Aku pergi ke kafe yang gak jauh dari sini karena ada rapat dadakan sama Bang Aksa, Bang Radit, Kak Aska juga Daddy. Gak enak kau di sini."


"Benarkah?" Mata Beeya sudah memicing dengan sangat tajam. Iyan mengangguk dengan sangat yakin.


"Aku tidak bohong, Chagiya." Tangan Iyan sudah mengusap lembut pipi Beeya.


"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Aku juga bukan orang yang mudah berpaling. Ketika aku menyayangi seseorang pasti akan aku berikan semua yang aku miliki untuk membahagiakan perempuan itu," tuturnya. "Perempuan yang beruntung karena dicintai aku adalah kamu, Chagiya. Hanya kamu."


Bibir Beeya pun melengkung dengan sempurna mendengar ucapan dari sang pemuda yang semakin hari semakin manis di matanya.


"You're my only one."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2