Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
96. Aneh


__ADS_3

Mencintai seorang Rian Dwiputra Juanda adalah satu hal yang pernah masuk ke dalam list konyol yang dibuat oleh Abeeya Bhaskara. Anak yang selalu ceria yang memiliki kebangoran luar biasa. Dari sewaktu kecil mereka berdua sudah sangat dekat. Beeya malah sudah memanggil Iyan dengan sebutan calon suami. Walaupun Iyan tidak suka dengan panggilan itu, tetapi Iyan membiarkannya saja. Iyan bukanlah tipe laki-laki yang suka melihat wanita bersedih.


Kini, dua insan manusia itu malah saling menyayangi juga mencintai. Ternyata malaikat mencatat candaan mereka hingga menjadi kenyataan sekarang ini. Cinta yang tak disadari, itulah julukan yang pantas untuk mereka berdua.


Beeya masih tersenyum memandangi wajah Iyan dan juga dirinya. Ini foto berdua yang paling bagus yang Beeya miliki. Tangannya masih dia letakkan di bawah dagu.


"Tampan sekali dirimu, Pacar." Ternyata pemuda yang sering dia isengi sewaktu kecil, kini tumbuh menjadi pemuda tampan yang mampu merebut hatinya.


Beeya bagai orang yang tidak waras. Sedari tadi terus tersenyum menatap foto mereka berdua. Beeya keluar dari kamarnya dan menuju kamar tamu di mana Iyan berada. Dia mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Tangannya sudah menekan gagang pintu dan kepalanya melongok ke arah dalam. Tidak ada siapa-siapa di sana.


"Pacar," panggil Beeya yang sudah masuk ke dalam kamar.


Tidak ada suara percikan air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Iyan tidak ada di sana. Beeya segera keluar dari kamar tamu dan menuju ruangan bawah. Hanya ada sang ibu di sana.


"Mah, liat Iyan gak?" tanya Beeya.

__ADS_1


"Tadi Iyan keluar bawa mobil."


Dahi Beeya mengkerut. Dia segera membuka ponselnya dan mengecek aplikasi pesan. Dia takut Iyan memberi kabar kepadanya. Pada nyatanya, tidak ada kabar dari Iyan. Mengirim pesan pun tidak. Ada rasa curiga di hati Beeya. Sikap Iyan ini terbilang aneh di mata Beeya.


"Iyan bilang gak ke Mamah kalau dia mau pergi ke mana?" Sang ibu pun menggeleng. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Beeya.


Perempuan kecil mungil itu memilih untuk masuk ke dalam kamar. Matanya terus memandangi layar ponsel. Menunggu Iyan memberi kabar dan ponselnya berdering.


Satu jam.


Dua jam.


Ponsel Beeya masih saja sepi. Tidak ada telepon ataupun pesan dari sang kekasih hati. Sikapnya yang aneh menjadi tanda tanya besar untuk Beeya. Kali ini, perempuan mungil itu sudah mondar-mandir di kamar tamu yang ditempati Iyan. Berharap kekasihnya itu pulang cepat.


"Ke mana sih kamu? Gak seperti biasanya kamu menghilang kaya gini," gumam Beeya.

__ADS_1


Akhirnya, dia tidak bisa menahan kegatalan jari-jemarinya. Dia mengetik sebuah pesan dan dia kirim kepada Iyan. Tak berapa lama, pesan itu dibaca dan Iyan pun online. Namun, pesan itu tidak dibalas. Beeya mencoba untuk menelpon kekasih hati. Panggilan Beeya malah diabaikan. Tidak dijawab sama sekali.


"Ih, kenapa sih nih anak," geramnya.


Masih penasaran, Beeya menghubungi Iyan lagi. Lagi-lagi panggilannya tidak dijawab. Beeya benar-benar bingung dibuatnya. Tidak biasanya Iyan seperti ini.


"Ke mana dia pergi? Kok jadi aneh gini," batin Beeya.


.


Di sebuah kafe, seorang pemuda sedang melakukan zoom. Dia menghubungi empat orang. Mereka nampak berbincang serius.


"Please."


Raut wajah empat orang itu datar sekali. Mencari dukungan ternyata sangat sulit.

__ADS_1


"Aku mohon." Seseorang itu sudah menangkupkan kedua tangannya di hadapan mereka semua.


"Ke Bali lah!"


__ADS_2