
Aku hanya memanggilmu, Ayah
Di saat ku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, Ayah
Di saat ku jauh darimu
Satu bait lagu yang selalu menjadi pengantar tidur seorang Rian Dwiputra Juanda. Lagu itu yang akan dia dengar ketika dia benar-benar merindukan sosok ayahnya. Lagu itu adalah ungkapan hatinya yang terdalam.
Rindu, satu kata yang tidak bisa ditawar lagi. Itu sudah harga mati. Merindukan seseorang yang telah tiada itu sangatlah menyakitkan. Maka dari itu, jangan sia-siakan mereka yang masih ada di samping kamu. Perpisahan yang menyakitkan adalah kematian.
"Ayah, datanglah ke dalam mimpi Iyan."
Mata Iyan pun mulai terpejam. Matanya sangat berat dan tidak bisa dibuka kembali. Kini, matanya pun tertutup sangat rapat.
Senyum hangat seorang ayah membuat Iyan yang tengah menatap hamparan rumput hijau membelalakkan mata. Apalagi, pria itu sudah merentangkan tangannya menandakan sang ayah pun sudah sangat merindukan putranya yang masih berkabung. Hari-harinya masih dibalut dengan kabut duka. Masih belum bisa melupakan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Apa ini Ayah?" Iyan sudah memeluk tubuh sang ayah dengan berderai air mata. "Iyan benar-benar bertemu ayah?" Air matanya begitu deras mengalir. Antara percaya atau tidak.
Sudah lebih dari satu tahun Iyan menginginkan bertemu dengan ayahnya yang sudah tiada. Namun, baru kali ini dia bertemu dengan sosok yang sangat dia rindukan. Wajar saja jika Iyan menangis tersedu.
"Iyan sangat rindu Ayah. Iyan sudah lama ingin bertemu Ayah," paparnya dengan nada yang sangat berat. Dadanya pun bergetar cukup hebat.
"Ayah juga sudah sangat lama merindukan momen ini dan baru kali ini Ayah bisa datang untuk memeluk kamu."
Keharuan ayah dan anak itupun tercipta. Iyan tak bisa membendung tangisnya. Air mata kebahagiaan yang dia keluarkan. Di dalam hatinya dia terus mengucapkan syukur juga terima kasih. Akhirnya, dia dipertemukan dengan ayahnya. Orang yang sangat dia rindukan. Orang yang selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya.
Keirian Iyan kini melebur. Dia sempat merasakan ketidakadilan ketika kedua kakaknya sering didatangi oleh sang ayah sedangkan dirinya tidak pernah. Sekarang, dia merasakan pelukan hangat sang ayah yang memeluknya begitu erat.
__ADS_1
"Jangan pergi, Ayah. Banyak hal yang ingin Iyan ceritakan. Banyak hal yang ingin Iyan ungkapkan dan banyak hal yang ingin Iyan tanyakan. Tetaplah berada di samping Iyan."
Pemuda itu layaknya anak kecil yang tengah merengek untuk dibelikan mainan. Tak sedikit pun dia melepaskan lingkaran tangannya terhadap tubuh ayahnya.
"Iyan sangat merindukan Ayah. Iyan sangat kehilangan Ayah dan Iyan sangat sedih ketika Ayah tiada."
Iyan berkata sambil sesenggukan. Dia benar-benar meluapkan segala kerinduan yang ada di dada kepada ayahnya.
.
"Iyan, kamu kenapa?"
Beeya nampak terkejut ketika jam empat subuh dia masuk ke kamar Iyan karena Ghea terbangun dan ingin tidur bersama sang om.
"Tante Centil, Om kenapa nangis?" Anak berusia enam tahun itu terlihat ketakutan. Dia sudah menggoyang-goyangkan tubuh Iyan.
Ghea mencoba membangunkan Iyan. Namun, air mata Iyan semakin deras mengalir membuat Ghea ikut menangis.
"Tante centil, bangunin Om Iyan. Bangunin Omnya aku," pinta Ghea dengan tangisnya.
Beeya bingung dengan apa yang tengah terjadi pada Iyan. Dia juga sudah mencoba untuk membangunkan sang kekasih, tetapi Iyan tak kunjung bangun juga.
"Kamu ikut Tante, ya. Kita panggil Papah Arya," ajak Beeya. Namun, anak itu menggeleng. Dia ingin menemani sang om yang tengah menangis sambil terpejam.
Beeya memanggil ayahnya dengan menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya. Wajah bantal ibu dan ayahnya terlihat jelas.
"Mah, Pah, Iyan-"
Perkataan Beeya yang menggantung membuat Arya dan Beby membelalakkan mata. Apalagi melihat wajah Beeya yang sudah sangat berubah.
__ADS_1
"Ada apa dengan Iyan?" tanya sang ayah sembari berjalan menuju ke kamar Iyan.
Ketika pintu kamar dibuka, Mereka bertiga melihat Ghea yang terus menangis di samping sang paman.
"Bangun, Om. Jangan menangis terus."
Arya bergegas menuju tempat tidur Iyan dan dia melihat jelas betapa derasnya air mata anak itu. Hatiny sakit dan perih.
"Papah Arya, tolongin Om."
Keponakan Iyan pun sudah berderai air mata. Arya menghela napas kasar dan dia mulai duduk di tepian tempat tidur.
"Yan, bangun, Yan." Arya mencoba untuk membangunkan anak sahabatnya itu.
Namun, Iyan tak kunjung bangun dan membuat Beeya takut juga. Kini, Beeya sudah memeluk tubuh Ghea yang terus menangis.
"Bangunin Om, Tante. Bangunin." Anak itu terus berteriak dan hati Beeya sedih mendengarnya.
"Sepertinya Iyan tengah mimpi," ujar sang ayah. Arya sudah memastikan jika Iyan masih bernapas.
"Ayah, jangan pergi. Jangan tinggalkan Iyan lagi."
Suasana mendadak hening dan air mata semua orang menetes begitu saja ketika mendengar kalimat yang begitu menyayat hati.
"Iyan masih kangen Ayah."
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1