Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
201. Menitipkan Kebahagiaan


__ADS_3

Tibanya di Bandung, Beeya merasakan udara yang begitu segar. Dia tersenyum dan memeluk tubuhnya sendiri karena udara terasa menusuk tulang.


Sepasang tangan melingkar di perut Beeya membuat Beeya tersenyum. "Berangkat jam berapa?" Beeya sudah membuka suara.


"Bentar lagi." Iyan masih betah memeluk tubuh istrinya. Walaupun belum mandi, tubuh Beeya tetap wangi.


"Jangan keluar, ya." Beeya mengangguk patuh. Mana mungkin dia akan keluar.


"Bajunya jangan pendek-pendek, nanti masuk angin." Beeya malah tertawa. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Iyan dengan begitu menggoda.


"Malah aku gak akan pakai baju biar terus berada di bawah selimut bersama kamu." Iyan mencubit gemas hidung sang istri.


"Jangan goda aku, Chagiya. Aku harus cari uang untuk kamu." Beeya malah memeluk erat tubuh Iyan.


"Love you so much, Ayang. Jangan pernah lelah untuk membuat aku terus bahagia bersama kamu."


"Love you too, Chagiya," balas Iyan. "Tidak akan ada kata lelah untuk wanita yang sangat aku cintai."


Setelah Iyan berangkat ke perusahaan, Beeya asyik bermalas-malasan kembali di atas tempat tidur. Dia memainkan ponsel dan membuka sosial media. Sudah lama dia tidak menjelajahi dunia tipu-tipu itu.


Bibirnya terangkat sempurna ketika melihat para keponakannya eksis di dunia Maya. Apalagi Aleeya. Tangannya terus menscroll hingga dia menemukan sebuah foto yang membuatnya berdecak kagum.

__ADS_1


"Ini anak makin gede makin ganteng. Padahal mah ngeselinnya naudzubillah."



Beeya kagum pada sosok keponakan cowok satu-satunya yang dia miliki, Gavin Agha Wiguna.


"Udah lama juga gak ketemu sama nih anak."


Beeya terus menjelajahi dunia Maya hingga dia pun mengantuk dan terlelap. Udara yang sejuk membuat dia semakin dalam mengarungi lautan mimpi.


Beeya membuka mata dan dia sudah berada di Padang rerumputan yang sangat hijau dan juga sejuk. Ada mata air yang mengalir di sana. Juga banyak hewan pemakan rumput.


"Di mana ini?"


Namun, matanya terbuka ketika dia merasakan ada yang duduk di sampingnya. Beeya segera membuka mata dan dia disambut dengan senyuman hangat dan manis dari seseorang yang sangat suaminya rindukan. Ya, ayah mertuanya.


"Ayah," panggil Beeya sedikit terkejut.


"Hai! Menantu Ayah."


Beeya berhambur memeluk tubuh ayah mertuanya. Dia menangis di dalam pelukan sang ayah. Sudah beberapa bulan menikah baru kali ini dia bisa bertemu dengan mendiang mertuanya. Pelukan dari Rion Juanda membuat hatinya semakin pilu.

__ADS_1


"Ayah bahagia melihat kamu bahagia bersama Iyan. Saling melengkapi satu sama lain dan juga saling menyayangi." Beeya tidak bisa menjawab. Dia masih membisu dengan air mata yang tak pernah surut.


Lama berpelukan, akhirnya mendiang ayah mertuanya pun mengendurkan pelukannya. Dia mengusap lembut air mata Beeya.


"Kamu sudah sembuh, Bee. Sudah waktunya kamu membuka lembaran baru untuk mengarungi biduk rumah tangga yang sesungguhnya." Rion tersenyum kr arah Beeya dan menatapnya dengan begitu dalam dan lembut.


"Kamu wanita hebat, dan kamu juga memiliki suami yang luar biasa. Kamu pasti bisa, Bee."


Beeya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh ayah mertuanya. Namun, dia masih mendengarkan dan menatap wajah Rion Juanda yang terlihat lebih muda dan sangat tampan. Percis seperti Iyan.


"Ayah titipkan sesuatu kepada kamu, ya."


"Titipkan apa, Yah?" Rion menjawabnya hanya dengan seulas senyum. Tangannya mengusap lembut perut Beeya dengan mata terpejam sesaat. Dahi Beeya pun mengkerut.


"Ayah," panggil Beeya.


Rion membuka matanya dan kembali menatap ke arah Beeya. Dia tersenyum lagi dan mengusap lembut rambut sang menantu.m yang memang sedari kecil sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


"Ayah menitipkan kebahagiaan untuk semua keluarga kita."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong


__ADS_2