
Hati seorang kakak mana yang tidak sedih ketika mendengar jikalau adiknya bermimpi tentang ayah mereka hingga menitikan air mata. Echa masih betah memandangi hamparan sawah yang asri di balik jendela kamar.
"Apa harus aku merestuinya dan melepasnya?"
Hatinya masih gamang. Dia belum ingin melepaskan Iyan karena Iyan masih sangat muda. Namun, dia teringat akan perkataan sang ayah ketika beliau datang ke dalam mimpinya.
"Sampaikan padanya, Ayah juga merindukannya. Ketika Ayah datang kepadanya, itu menandakan bahwa Iyan sudah dewasa dan berhak menentukan hidupnya. Cukup restui dia, itu sudah lebih dari cukup."
"Ayah, apa yang harus Echa lakukan?" Wanita yang masih cantik di usia empat puluh tahun itupun menundukkan kepalanya sangat dalam. Waktu tidak bisa merubah rasa rindunya kepada sang ayah.
Restu Echa itu yang sangat penting. Sedari kecil Echa sudah merawat Iyan dan tidak mungkin Iyan akan membangkang kepada kakaknya tersebut.
.
Iyan dan Beeya juga Ghea sudah menuju mall terdekat. Ghea terus berdendang karena hatinya sedang senang. Tidak biasanya sang paman mau mengikuti keinginannya, yakni pergi ke mall.
"Om, Adek ingin mencoba semua wahana, ya."
Hanya deheman yang keluar dari mulut Iyan. Sedangkan Beeya hanya tersenyum tipis. Dia meraih tangan Iyan dan mengusapnya dengan begitu lembut.
"Jangan begitu dong. Anggap aja kita sedang momong anak." Iyan tersenyum mendengar ucapan Beeya. Wajah bad mood-nya kini sudah berubah.
__ADS_1
Tibanya di mall, Iyan dan Beeya menggandeng tangan Ghea dengan begitu erat. Mereka berdua tidak ingin sesuatu hal terjadi pada anak comel ini.
"Om, Adek ingin naik semua wahana, boleh?" tanya Ghea. Iyan mengangguk dan anak itupun tertawa bahagia.
"Makin sayang deh sama kamu kalau begini," goda Beeya kepada Iyan. "Calon ayah yang baik," bisiknya.
Iyan tersenyum dan merangkul pundak sang pujaan hati. Beeya pun melingkarkan lengannya di pinggang sang kekasih. Sedangkan Ghea sedang Iyan tuntun dengan begitu erat.
"Mau beli es krim dulu gak?" tanya Beeya kepada sang keponakan tercinta.
"Boleh?" Mata Ghea sudah berbinar dan Beeya mengangguk pelan.
"Mau! Mau! Mau!" Anak itu sangat antusias.
Iyan tersenyum bahagia melihat kedekatan Beeya dan juga Ghea. Apalagi Ghea yang susah dekat dengan orang lain kini terlihat sangat akrab dengan Beeya.
"Yang, mau gak?" tanya Beeya kepada Iyan yang berada di belakangnya.
"Aku gak terlalu suka es krim." Beeya pun mengangguk pelan. Sedangkan Ghea sudah tersenyum bahagia mendapatkan es krim yang dia inginkan.
Iyan mencekal tangan Beeya ketika perempuan itu hendak pergi. Beeya pun tersenyum dan membalikkan tubuhnya ke arah Iyan tersayang.
__ADS_1
"Aku mau beliin es kopi buat kamu," ujar Beeya. Dia juga menunjuk ke arah kedai kopi yang biasa Iyan minum. Bibir Iyan pun melengkung dengan sempurna.
"Aku tunggu di sana, ya." Iyan menunjuk ke area food court. Beeya pun mengangguk dengan tersenyum cantik.
Iyan terus tersenyum ke arah Ghea yang tengah asyik menikmati es krimnya.
"Om mau?" Iyan menggeleng.
"Enak loh, Om." Lagi-lagi Iyan menggeleng.
Iyan memicingkan mata ke arah salah satu wahana yang ada di sana. Tiga temannya tengah ikut bermain roller coaster di kursi paling belakang. Iyan menggelengkan kepalanya tak percaya.
Ketika kereta itu berbalik, mata Dev terjatuh dan menggelinding ke bawah. Si kerdil yang tengah terkena flu lendirnya berjatuhan dan Jojo dia malah santai dengan tangan yang dilipat di depan dada.
"A-su emang!" gumamnya. "Pantesan kagak ada di rumah tadi," lanjutnya lagi.
Iyan sedikit terkejut ketika melihat sosok berambut panjang dan wajahnya hancur sebelah sudah berada di sampingnya.
"Sudah hampir seminggu ini mereka menikmati wahana yang ada di sini. Saya penghuni lama malah diusir dan gak boleh naik, begitu juga dengan teman-teman saya yang lain."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...