Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
43. Kerugian


__ADS_3

Iyan turun dari lantai atas dengan menggandeng Beeya. Perempuan itu bak perangko tak mau lepas dari Iyan.


"Sudah mau berangkat?" Beby segera bertanya ketika Iyan baru saja turun dari anak tangga terakhir.


"Iya, Mah." Seulas senyum Iyan berikan kepada ibunda dari Beeya.


"Papah akan antar kamu ke Bandara."


"Bee ikut!"


Arya mengerutkan dahinya dan Iyan hanya tertawa dibuatnya. "Ganti bajunya dulu gih."


Iyan tidak suka jika Beeya keluar rumah hanya menggunakan celana pendek. Dia tidak ingin lekuk tubuh Beeya dilihat oleh semua orang. Bagai anak kucing yang manis. Beeya pun menuruti apa yang dikatakan oleh Iyan.


"Makasih ya, Yan." Suara Beby terdengar sangat tulus. "Sudah mengembalikan Beeya anak Mamah."


Terlihat mata Beby nanar mengucapkan itu semua. Iyan mendekat ke arah Beby dan menggenggam erat tangannya.


"Tidak perlu berterima kasih, Mah. Ini sudah kewajiban aku untuk bisa menyembuhkan kak Bee." Iyan pun memeluk tubuh Beby.


Arya menepuk pundak putra dari sahabatnya itu. "Papah sangat bangga kepada kamu, Yan. Ayah kamu juga pasti bangga kepada kamu."


Hanya seulas senyum yang Iyan berikan. Dia tidak ingin tenggelam dalam kesedihan. Dia harus belajar mengikhlaskan karena pastinya ayahnya di sana akan merasa berat jika dirinya masih terus dirundung kesedihan seperti ini.


"Dih, kaya Teletubbies aja," ejek Beeya ketika melihat kedua orang tuanya memeluk Iyan.


"Bilang aja cemburu," cibir Arya.


Beeya hanya berdecak kesal dan Iyan tertawa melihat Beeya yang sedikit demi sedikit sudah kembali.


Di dalam mobil Arya bagai sopir karena sang putri memilih duduk di belakang bersama Iyan. Mulut Arya terus bersungut-sungut karena ulah putrinya. Namun, Beeya tetaplah Beeya.


Tibanya di Bandara raut sedih Beeya mulai terlihat lagi. Iyan menarik tubuh Beeya ke dalam pelukannya.


"Jangan nangis, doakan saja semoga masalahnya cepat selesai dan aku bisa cepat kembali ke sini." Beeya hanya terdiam. Dia juga tidak membalas pelukan dari Iyan.


"Aku janji akan selalu hubungi kamu. Aku juga gak bisa jauh dari kamu." Kini, tangan Beeya melingkar di pinggang Iyan.


"Jangan nakal di sana," ucap Beeya lirih.


"Aku gak pernah nakal, wanita-wanita saja yang nakal sama aku."


Beeya melonggarkan pelukannya dan memukul dada Iyan. Namun, Iyan malah terbahak. Dia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Beeya.


"Kenapa Papah ada di sini? Sungguh aku ingin mencium bibir manis kamu untuk menjadi penawar rinduku selama berada di Jakarta."


Wajah Beeya merona mendengar bisikan Iyan. Tangan pemuda itu sudah mengusap lembut rambut Beeya.


"I will miss you."


Beeya memeluk tubuh Iyan kembali. "Me too."


Arya yang sedari tadi memperhatikan anaknya juga anak dari sahabatnya itu hanya dapat tersenyum dalam hati.


"Bro, anak kita sudah dewasa sekarang. Mereka semakin dekat dan semakin tidak ingin dipisahkan. Apa kita lakukan saja pernikahan dadakan?"

__ADS_1


.


Di dalam pesawat pikiran Iyan sudah terfokus pada Moeda kafe. Apalagi abangnya mengatakan bahwa ada sebuah bukti yang baru dia dapatkan. Iyan ingin segera menyelesaikan semua permasalahan ini dan ingin kembali menemani Beeya di Bali.


Tiba di Bandara, Iyan sudah dijemput oleh Wira. Itu atas perintah dari Radit. Namun, Wira tidak mengatakan apapun perihal Moeda kafe.


Motor sudah terparkir di depan Moeda kafe. Ada juga mobil sang Abang yang sangat dia kenali.


"Pak Radit ada di lantai atas." Iyan mengangguk dan segera menuju lantai atas. Kedatangan Iyan disambut bahagia, tetapi Iyan hanya menjawabnya dengan datar.


Ketika tangannya sudah menekan gagang pintu, terlihat Radit yang tengah mengamati sesuatu di layar laptopnya.


"Bang," panggil Iyan.


Radit menyuruh Iyan untuk duduk di sofa panjang. Dia juga mengeluarkan beberapa lembar kertas yang di dalamnya tertulis deretan angka yang tidak sedikit.


"Hampir sepuluh M?" Iyan benar-benar terkejut.


"Iya." Radit menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Bukan masalah nominalnya. Uang segitu dicari dua minggu juga selesai," tukasnya.


"Siapa yang jadi penyusup atas kerugian ini?" tanya Iyan.


Radit mengambil laptopnya dan menunjukkan sebuah video kepada Iyan. Maya Iyan tertuju pada video tersebut dan sontak matanya melebar.


"Anggie." Radit mengangguk pelan.


"Kamu tahu, dia sekarang tinggal di rumah kita. Dia diurus oleh Echa hingga persalinan tiba. Sekarang, dia malah mau menghancurkan kafe ini," ungkapnya.


"Apa kita harus gegabah?" Ya, Iyan mengerti apa yang dimaksud oleh Radit.


"Sepertinya ada maksud terselubung," jelas Radit.


Pencurian data sehingga menimbulkan kerugian yang sangat besar. Itulah yang diderita oleh Moeda kafe sekarang ini. Kerugian di setiap kafe mencapai satu milyar.


Radit bisa saja menutup kerugian itu dengan mudah. Namun, dia tidak akan puas jika biang keladinya belum dia ringkus.


"Kakak udah tahu?" Radit menggeleng.


"Abang gak pulang semalam."


Iyan menghela napas kasar. Dia menatap Radit dengan tatapan serius. "Kakak juga gak tahu kalo aku di Jakarta." Radit mengangguk.


"Kita buat kejutan untuk kakak juga rubah betina yang ada di rumah."


"Apa sih maunya dia?" erang Iyan. "Kakak udah bersikap baik loh."


"Sepertinya dia menginginkan kamu." Iyan berdecih kesal.


Ponsel Iyan pun berdering, dia tersenyum ketika Beeya melakukan sambungan video.


"Chagiya, Miss you."


Suara Beeya membuat Iyan tertawa sedangkan Radit pura-pura tersedak. Seketika mata Beeya melebar dan Iyan segera mengarahkan ponselnya ke arah Radit. Sambungan video pun langsung Beeya tutup.

__ADS_1


"Udah gede kamu sekarang," ejek Radit. Iyan hanya tersenyum.


"Aku ingin masalah ini cepat selesai dan kembali ke Bali." Radit hanya tersenyum.


.


"Bubu, Baba gak pulang lagi?" tanya Aleena, remaja yang baru saja masuk SMA.


"Katanya sih pulang, tapi agak malam."


Aleesa si anak indigo sama sekali tidak ingin makan malam di meja makan bersama Anggie.


"Kakak Sa," panggil Echa yang baru saja turun dari kamarnya, tetapi langsung menuju dapur.


"Kakak Sa," panggil Echa sekali lagi. Anak kedua dari Echa itu membalikkan tubuhnya. Dia menatap wajah ibunya.


"Kakak Sa sudah bilang, selama dia ada di meja makan itu, Kakak Sa gak akan mau makan di sana," tunjuknya pada Anggie.


"Kakak Sa, apa Bubu dan Baba mengajarkan kamu untuk berbicara tidak sopan?"


"Bukan Kakak Sa yang tidak sopan, Bu. Tapi, perempuan itu!" Aleesa menunjuk Anggie lagi dengan wajah merah padam.


"Kakak Sa," lerai Aleena.


"Kakak Na tahu, setiap aku tidak suka sama seseorang pasti ada alasan yang jelas." Aleena pun mengangguk.


"Lagian ya, Bu. Kenapa sih Bubu mau bawa Kak Anggie ke sini? Saudara bukan adik juga bukan," tambah Aleeya.


Anggie merasa disudutkan sekarang ini oleh tiga anak dari Echa. Tampang sendunya tak membuat ketiga keponakan Iyan iba.


Baru saja Echa hendak menjawab ucapan dari Aleeya, Radit datang bersama Iyan. Seperti kejutan untuk mereka yang ada di sana.


"Om kecil!"


Aleesalah yang memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat. Aleena dan Aleeya juga ikut bergabung memeluk tubuh Iyan.


"Ay, kok gak bilang kalau Iyan pulang?" tanyanya pada Radit.


"Surprise." Radit mengecup kening Echa dan memilih untuk pergi ke kamar.


Iyan menghampiri kakaknya dan memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


"Makan bareng, ya." Iyan menggeleng.


"Iyan belum lapar, Kak. Iyan mau istirahat aja di kamar."


Sejenak Echa terdiam, dia menatap intens wajah adiknya. "Kamar kamu dipakai sama Anggie."


Raut wajah Iyan seketika berubah. Dia menatap kakaknya penuh tanya. "Dia tidak bisa tidur di kamar lain, hanya kamar kamu yang membuat anak di dalam kandungannya nyaman."


Iyan berdecih kesal. Kini, tatapannya tertuju pada Anggie dengan sangat sinis.


"Jangan selalu menjual anak di dalam kandungan kamu untuk mencari simpati orang lain."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2