
Rapat para manager Moeda kafe berlangsung di perusahaan milik Radit. Bukan tanpa sebab, ternyata ada yang memata-matai moeda kafe. Rapat pun berlangsung cukup lama. Banyak yang harus mereka rundingan untuk diselesaikan. Tibanya makan siang pun belum mampu mencapai jalan keluar yang diharapkan.
Iyan menghembuskan napas kasar. Dia masih betah di ruangan rapat ketika semua orang sudah mencari makan.
"Kamu gak makan siang?" Iyan yang baru saja menghidupkan ponselnya pun menatap ke arah sang Abang.
"Abang sendiri kenapa masih di sini?" Iyan bertanya balik ke arah Radit.
"Udah mati rasa mulut ini," jawabnya sambil fokus pada layar laptop.
"Maaf ya, Bang." Radit terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Iyan.
"Gara-gara aku Moeda kafe jadi begini," sesalnya.
Radit tersenyum dan menatap ke arah adik iparnya yang kini menjadi pemuda tampan.
"Tidak ada yang salah dalam masalah ini. Baik kamu ataupun kakak kamu, kalian tidak salah. Mungkin emang Moeda kafe lagi disentil aja sama Tuhan."
Dalam keadaan pusing seperti ini Radit masih bisa bersikap bijak. Sama sekali dia tidak emosi dalam menghadapi masalah yang ada. Uang sepuluh milyar adalah hal yang kecil untuknya. Namun, dia juga bukan orang yang selalu mengandalkan uang. Ketika masalah menerpa, uang menjadi jalan keluar kilat. Akan tetapi, Radit tidak seperti itu. Dia akan mencari akar masalahnya, cara penyelesaiannya yang terakhir baru menggunakan uangnya.
"Mau Abang pesenin makanan?" tawar Radit.
"Gak usah, Bang." Iyan menolaknya, sesungguhnya dia tidak lapar.
Iyan hanya ingin mendengar suara Beeya untuk mengembalikan mood-nya. Iyan sudah menekan nomor Beeya, tetapi tak ada jawaban. Dia juga sudah mengirimkan pesan,
masih juga sama. Hanya dibaca tanpa dibalas.
"Angkat telepon aku biar aku jelasin," batinnya.
.
Beeya membiarkan ponselnya terus berdering. Kini, dia tengah duduk di pinggiran kolam ikan koi milik sang ayah. Kakinya dia masukkan ke dalam kolam dengan kakinya yang terus bergerak di dalam kolam.
"Sudah terlalu lama aku menjadi orang lain," gumamnya. Dia menatap sekeliling rumah yang sedari bayi dia tempati. Namun, lebih dari setengah tahun ini dia tinggalkan.
Masih tersisa raut kesedihan di wajahnya. Enam bulan sudah berlalu, tetapi dia masih belum bisa melupakan kejadian itu. Kejadian yang benar-benar membuatnya takut juga membuatnya menjadi orang lain. Kedua orang tuanya pun seakan tidak mengenal dia.
__ADS_1
"Lawan rasa takut kamu. Kamu harus menjadi wanita yang tangguh. Semakin kamu ketakutan, orang lain semakin senang."
"Lihatlah, pemuda itu sangat menyayangi kamu. Seribu satu pria lajang yang mau menemani seorang wanita ke psikiater. Biasanya pria akan menganggap wanita itu gila jika datang ke psikiater, tetapi pemuda itu tidak. Malah, dia nampak senang. Hlanya sepasang suami-istri yang seperti kalian."
Iyan, pria itu yang sekarang memenuhi kepalanya. Selalu hadir di setiap mimpinya dan dia menjadi alasannya untuk kembali seperti dulu lagi. Dia ingin mengenal Iyan lebih jauh lagi. Sepertinya dia sudah melewatkan banyak hal dalam diri Iyan.
Beeya membuka ponselnya, bibirnya melengkung ketika membaca pesan dari Iyan.
"Chagiya, jangan marah. Aku bisa jelasin semuanya."
Beeya menghela napas kasar, memandang lurus ke depan dengan mata yang sangat nanar.
"Dari dulu aku hanya mempercayai kekasihku. Tak peduli ucapan orang lain. Namun, pada nyatanya dia malah menduakan aku. Betapa bodohnya diriku." Beeya bermonolog sendiri dengan suara yang begitu pilu.
Jika, mengingat kejadian itu dia benar-benar menyesal. Tidak mempercayai ucapan teman-temannya dan berujung dia yang sakit hati terlalu dalam. Apalagi melihat sendiri kebejatan yang dilakukan oleh sang mantan. Kali ini, dia mendapati hal serupa. Seorang perempuan mengaku di sosial media bahwa Iyan adalah calon suaminya. Senyum tipis pun terukir di wajahnya. Dia tahu Iyan, dia tahu sifat asli Iyan. Asyik melamun suara sang ibu mengagetkan dirinya.
"Iyan telepon Mamah, angkat jangan?" tanya Beby.
"Jangan, Mah." Beeya kembali menatap lurus ke depan.
"Terus, kenapa kamu seperti ini, Bee? Jangan buat Mamah khawatir."
Beeya tersenyum, kemudian memandang wajah ibunya. "Bee janji, Bee akan sembuh dan tidak akan membuat Mamah, Papah dan Bu'de sedih lagi. Bee akan bangkit dari trauma ini. Bee akan kembali menjadi Beeya anak papah Arya."
Beby tersenyum dan memeluk tubuh putrinya. "Mamah merindukan putri Mamah."
Semakin kuat alasan Beeya untuk bangkit dan sembuh. Dia harus melawan manusia yang sudah jahat kepadanya. Dia harus membuktikan bahwa dia sudah kembali. Dia tidak rapuh lagi.
Seharian ini Beeya sama sekali tak menghubungi Iyan. Dia juga merahasiakan kedatangannya ke Jakarta. Sambungan telepon maupun video tak pernah Beeya jawab. Dia tahu pasti Iyan tengah emosi sekarang. Dia hanya tersenyum ketika membaca pesan Iyan.
"Chagiya, udah dong marahnya. Jangan siksa aku kaya gini. Aku lagi pusing dengan urusan Moeda kafe, kamu jangan merajuk lah. Harusnya kasih dukungan buat aku."
"Kalau kamu masih merajuk, aku gak akan kembali lagi ke Bali. Aku akan tetap di sini."
Beeya tergelak membaca pesan dari Iyan. Sungguh bagai anak kecil. Pemuda yang biasanya tak banyak bicara sekarang malah menjelma menjadi manusia yang penuh dengan kata romantis.
.
__ADS_1
Jam sepuluh malam rapat baru selesai. Itupun belum menghasilkan keputusan final. Iyan menghembuskan napas kasar ketika rapat baru saja Radit tutup.
Iyan segera mengecek ponselnya dan lagi-lagi tidak ada pesan balasan dari Beeya. Melihat wajah adik iparnya kusut membuat Radit gatal ingin bertanya.
"Beeya?"
Mendengar nama Beeya membuat Iyan menatap sang Abang. Sorot mata Iyan tidak bisa berbohong.
"Parah gak?" Iyan menunjukkan sosial media miliknya. Radit hanya tertawa.
"Sudah Abang duga."
Kini, Iyan mantap Radit dengan sorot penuh tanya. Radit menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Dia sudah bisa merebut simpati kakak kamu, dan sekarang dia ingin merebut simpati kamu."
Iyan tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Radit. "Itu gak akan pernah terjadi."
Radit pun tersenyum, lalu dia menyuruh Iyan mendekat ke arahnya. Radit pun membisikkan sesuatu.
"Enggak!" Iyan langsung menolak.
"Hanya mengajak, lalu kamu kasih bukti ini dan rekam alasannya agar Abang bisa ngasih ke pihak kepolisian."
Sebuah ide penjebakan yang memang sudah Radit rencanakan dengan matang, tetapi dia tidak yakin Iyan mau membantunya. Radit memang manusia santai, tetapi dia tidak akan main-main dengan tindakan yang sudah dia ambil. Tak peduli wanita itu hamil atau tidak. Ketika melakukan salah harus diserahkan kepada pihak yang berwenang. Apalagi sudah merugikan banyak orang.
"Di sana juga kamu bisa menekan dia, kenapa memasang gambar seperti itu dengan menandai kamu. Apalagi, satu Moeda kafe tahu."
Iyan berpikir sejenak, akhirnya kepalanya mengangguk pelan menyetujui ide dari Radit. Ponsel Radit berdering, dia segera menjawabnya.
"Iya, Sayang."
"Ay, pulang sekarang. Aleesa ngamuk dan tangannya gak mau lepas dari rambut Anggie."
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1