
"Sa, Restu telepon nih. Katanya ponsel kamu susah dihubungi makanya dia telepon Kak Iyo."
Tubuh Aleesa pun menegang, dan laki-laki yang berada di balik sambungan telepon itupun terdiam. Dadi balik sambungan telepon Yansen tersenyum tipis dan miris. Perih rasanya.
"Tuhan, aku sudah tahu hubungan Aleesa dan Kak Restu, tapi kenapa rasanya masih sakit?"
Mata Aleesa melebar ketika Rio menghampirinya. Sedangkan Rio malah sengaja.
"Cepet nih angkat!" titah Rio. Otomatis suara Rio terdengar oleh Yansen. "Si kancil bisa berubah jadi harimau yang garang loh."
Ingin rasanya Aleesa mencekik leher sang sepupu. Dia merasa tidak enak hati kepada Yansen.
"Maaf, kalau aku ganggu." Sambungan telepon pun diputus oleh Yansen. Aleesa hanya menghela napas kasar.
"Kak Iyo!" keluhnya. Rio hanya tertawa. Aleesa menyambar ponsel Rio. Ketika dia menghalo-halo tidak ada suara. Rio pun semakin terbahak.
"Kak Iyo!" geram Aleesa. Rio masih tertawa dan kini duduk di samping Aleesa.
"Kenapa bohongin aku sih? Gak enak sama Sensen." Rio kini menatap dalam wajah Aleesa.
"Sudah saatnya kamu menetapkan hati kamu, Sa." Rio mulai berkata serius. "Jangan jadikan Restu hanya sebagai rumah singgah mu, dan juga jangan kamu bertahan, tapi terluka bersama Sensen. Kamu berhak bahagia."
Aleesa pun terdiam, apa yang dikatakan Rio seperti menampar hatinya. Dia masih bimbang dengan perasaannya. Akhir-akhir ini. nama Yansen seakan mulai memudar di hatinya karena Restu.
"Bukan karena aku sahabat Restu aku membelanya, tapi aku sangat tahu bagaimana watak dan sikapnya. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dan hanya kamu yang busa merobohkan dinding tebal hati Restu."
Terkejut, itulah yang Aleesa rasakan. Brandal itu tidak pernah jatuh cinta, tapi kenapa dia sangat lihai dalam berciuman? Sebuah pertanyaan mengelilingi kepalanya sekarang ini.
"Kak, jangan menutup-nutupi keburukan Kak Restu," sergah Aleesa.
"Apa yang aku katakan benar, Sa. Banyak yang suka sama dia, tapi dia malah acuh dan lebih senang bergaul dengan anak laki-laki nakal. Dia sama sekali tidak menggubris malah cenderung bersikap sadis, tapi hanya kepada kamu dia mampu bersikap manis."
Aleesa belum bisa berkata hingga ponselnya bergetar dan wajah Restu yang terpampang di sana. Senyum pun terukir di wajah Aleesa.
__ADS_1

"Hai! Miss you."
Sang Bestie terkejut mendengarnya dan langsung merampas ponsel Aleesa dan memasang mimik wajah menyebalkan.

"Dih, ngapain coba! Kasih ke Aleesa!" Restu sudah mengomel.
Rio malah sengaja merangkul pundak sang sepupu dan memperlihatkan wajah mereka berdua. Namun, respon Restu di luar dugaan.
"Lepasin tangan lu dari pundak Aleesa!" Wajah Restu sudah nampak murka.
"Dih? Siapa ELO? Dia sepupu gua, gau cium juga boleh." Rio sudah memonyongkan bibirnya dan ingin mencium pipi Aleesa.
"Eh, kang pila! Jangan macam-macam!" pekiknya. "Gua bogem lu!"
Restu sangatlah posesif dan sama sekali tidak mengijinkan siapapun menyentuh Aleesa. Apalagi mencium Aleesa. Termasuk Rio.
"Kak Rio!" omel Aleesa. Dia pun mengambil ponselnya dan mulai menjauhi Rio.
"Jangan dengerin Kak Iyo, Kak." Wajah Restu sangatlah berubah.
"Ucapan Rio memang benar."
"Kak--" rengek Aleesa. "Aku menunggu telepon dari kamu, bukan ingin bertengkar." Wajah Aleesa pun mulai sendu.
"Apa kamu juga menunggu telepon dari dia?" Aleesa terkejut. Restu ternyata jelmaan cenayang.
"Enggak. Aku hanya menunggu telepon dari Kakak." Aleesa berkata sangat jujur.
"Benarkah?" Aleesa mengangguk dengan wajah yang menggemaskan.
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkan kamu, Kak. Aku takut terjadi apa-apa dengan kamu." Amarah Restu pun menghilang mendengar kejujuran dari Aleesa.
Restu memandang wajah Aleesa dengan lekat. Bibirnya pun tersenyum begitu manis.
"Kak--"
"Bisa gak kamu panggil aku pakai panggilan lain." Kini dahi Aleesa mengkerut.
"Terus aku panggil Kakak apa Sama dia aku--" Aleesa keceplosan.
"Jangan samakan aku dengan dia, Sa!" Restu nampak geram dan Aleesa pun meminta maaf.
"Ya udah, Kakak maunya dipanggil apa?" Aleesa mengikuti apa yang Restu inginkan. Dia juga tidak ingin memancing emosi Restu. Kekasihnya tengah sensi.
"Bie," jawab Restu.
"Bie," ulang Aleesa dengan mengernyitkan dahi. Restu pun mengangguk.
"Kamu tahu artinya?"
"B untuk Brandal," kekeh Aleesa. Restu pun ikut tertawa.
"Bukan, Lovely."
"Lalu?"
"Bie untuk hubby." Aleesa malah tertawa. "Kamu tahu gak ada sebuah doa yang ada di kata tersebut." Tiba-tiba Aleesa pun terdiam.
"Aku berdoa, esok, lusa dan selamanya aku akan menjadi suami kamu."
"Buahaahaha!!! Kok gua mules, ya!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen doang ....?