Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
34. Persidangan


__ADS_3

"Pukul Iyan, Kak. Kalau itu bisa membuat rasa kecewa dan marah Kakak hilang. Pukul Iyan dengan keras, Kak. Supaya Iyan juga merasakan kekecewaan yang Kakak rasakan. Maafkan Iyan, Kak."


Kalimat itu terdengar sangat lirih dan menyayat hati. Penuh dengan penyesalan. Iyan pun tidak berani memandang wajah Echa. Dia memang salah akan hal ini.


Tak Iyan sangka, kakaknya malah memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat. Air matanya pun melaju begitu cepat dan mampu membuat tubuhnya bergetar hebat.


"Kakak bangga sama kamu."


Kalimat yang semakin membuat Iyan mengeratkan pelukannya terhadap tubuh sang kakak yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Kamu laki-laki hebat. Siapapun pasanganmu kelak, jaga dia sama seperti kamu menjaga Beeya."


Iyan hanya mengangguk pelan tanpa melepaskan pelukannya. Riana sudah menyeka ujung matanya melihat adiknya sekarang ini. Riana pun mendekat dan ikut memeluk tubuh kakak dan adiknya.


"Ingat ya, Yan. Kami akan selalu ada untuk kamu. Itulah janji Kak Ri dan juga Kak Echa kepada Ayah."


Ayah, satu sosok yang akan membuat hati Iyan menangis keras. Sosok yang sangat dia rindukan. Sosok yang sangat dia hormati dan banggakan. Kini, sosok itu hanya meninggalkan sebuah kenangan indah di hati Iyan dan juga kedua kakaknya.


Tenyata, Echa dan Riana tidak datang berdua saja. Ada Radit dan juga Aksa yang menemaninya.


Setelah Rudi mendatangi rumah Echa, dia segera bergegas ke rumah Riana. Dua wanita itu terus mencoba untuk tidak percaya dan akhirnya mereka mendesak Radit dan Aksa untuk berkata jujur. Terus didesak dan akhirnya Echa dan Riana syok mendengar kenyataan yang ada dengan kejujuran yang suami mereka katakan.


Dua pria yang notabene suami dari Echa dan Riana menyuruh mereka untuk terbang ke Bali. Di sanalah Radit dan Aksa akan menjelaskan kronologi ceritanya.


Kedua kakak Iyan adalah wanita yang dididik sangat baik oleh orang tua mereka. Mereka tidak akan pernah terpancing dan terhasut oleh ucapan dari orang yang tidak dekat dengan mereka. Lebih baik mencari tahu lebih dahulu baru bertindak, bukannya bertindak penuh emosi tanpa pernah mencari tahu permasalahannya.


Tibanya di Bali, Echa dan Riana dibawa ke sebuah apartment milik Giondra. Ternyata di sana sudah ada Christian, Joy, Dan juga Dave. Bukan hanya pengacara Aksa yang hadir, pengacara dari Arya juga Azkano ada di sana. Mereka tengah membicarakan perihal kasus hukum yang menimpa Iyan.


Radit dan Aksa menceritakan semua kejadian yang menimpa Iyan. Radit, memberikan sebuah rekaman kepada istrinya juga adik iparnya. Sungguh dua wanita itu sangat terkejut dibuatnya.


Wajah Echa pun merah padam melihatnya. Bagaimanapun Beeya sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kenapa tidak langsung diserahkan bukti ini?" tanya Riana. Echa sangat setuju dengan apa yang diucapkan adiknya itu.


"Maaf Bu," sanggah Christian. "Bukti ini memang sangat kuat, tetapi tidak akan membuat kita tertawa puas di pengadilan nanti."


Kedua alis Riana menukik dengan sangat tajam. Begitu juga dengan Echa yang sudah mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan ucapan dari Christian.


"Begini, Bu," tambah Joy. "Yang katanya menjadi korban belum keluar dari rumah sakit. Jadi, kurang seru."


Dave hanya tertawa mendengar perkataan dari Joy. Begitu juga tiga pria yang lainnya, yakni Aksa, Radit dan Christian.

__ADS_1


"Intinya begini, Bu," ujar Dave. "Rudi Alamsyah adalah pria cerdik sekaligus licik. Dia akan membalikkan semua fakta yang ada jika kita membongkar semuanya saat ini juga. Rudi sudah membayar seorang polisi untuk menjadi bekingannya untuk permalasahan Iyan. Dia bisa memberatkan Iyan nantinya," papar Dave.


"Intinya, kita ikuti dulu skenario yang Rudi buat. Toh, berkas Iyan sudah naik ke pengadilan. Rencananya lusa akan diadakan sidang dan akan dihadiri Raffa juga," terang Radit.


"Di sanalah kita akan beradu bukti dan si Bandit pun sudah meminta pihak kepolisian mendatangkan ahli telematika. Tentunya, tanpa sepengetahuan dari pihak Rudi," ungkap Aksa.


"Beeya juga dipastikan akan hadir untuk menjadi saksi kunci." Aska yang baru saja datang pun menambahkan ucapan dari kembarannya.


"Dia mau?" tanya Aksara. Adiknya pun mengangguk.


"Kasihan Iyan," ucap lirih Echa.


"Dia akan baik-baik saja di sana. Di dalam sel pun dia hanya sendiri. Semua makanan terjamin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kita hanya tengah meladeni drama yang dimainkan Rudi," jawab Radit.


Echa dan Riana hanya dapat menghembuskan napas kasar. Bagaimanapun mereka tidak tega melihat Iyan seperti itu.


.


Sidang pertama pun akan diadakan siang ini. Keluarga Iyan dan juga Arya sudah berkumpul di rumah milik Arina. Namun, tanpa pengacara karena mereka yang akan menemani Iyan. Riana dan Echa mengkhawatirkan kondisi Beeya jika harus menjadi saksi di sana. Dia takut Beeya akan histeris dan memperparah keadaannya.


"Bee, di sana kamu akan bertemu dengan Raffa juga ayahnya. Apa kamu siap?" tanya Arina.


"Bee harus bisa. Bee gak mau melihat Iyan memakai baju oranye itu. Gak mau."


Matanya sudah nanar dan mampu membuat Echa memeluk tubuh Beeya yang jauh dari kata sehat.


"Kamu mau bantu Iyan?" Beeya mengangguk sambil menatap wajah Echa.


"Bee harus bantu Iyan. Bee gak mau melihat Iyan sedih."


Echa pun tersenyum ke arah Beeya. Dia mengusap lembut rambut Beeya yang berbeda sekarang. Namun, tidak dapat dibohongi wajah Beeya yang terlihat tirus dengan mata panda yang nampak jelas di bawah matanya.


Mereka pun menuju tempat diadakannya persidangannya. Iyan belum dihadirkan. Echa terus menggenggam tangan Beeya agar dia tidak merasa ketakutan.


Seketika telapak tangan Beeya dingin membuat Echa menoleh kepadanya. Wajah Beeya pun sudah pucat. Echa mengikuti pandangan Beeya dan ternyata Raffa dan ayahnya sudah tiba di sana.


"Jangan takut, kami akan menjaga kamu." Echa memeluk tubuh Beeya.


Tak berselang lama, Iyan pun dibawa oleh beberapa polisi menuju ruang persidangan. Wajah Beeya nampak berubah. Apalagi Iyan tersenyum hangat ke arahnya.


Persidangan pun dimulai. Ternyata banyak saksi yang pihak Rudi datangkan. Rudi dan Raffa sudah tersenyum sinis ke arah Arya dan juga keluarga Iyan. Apalagi keterangan para saksi terbilang memberatkan untuk Iyan. Namun, mereka semua terlihat kalem dan tak terpengaruh.

__ADS_1


Mata Echa membola ketika melihat saksi selanjutnya adalah Anggie. Setiap kesaksian yang Anggie berikan membuat darah Echa semakin mendidih. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dia terima saat ini.


"Anggie itu siapanya Raffa?" bisiknya pada sang suami yang ada di sampingnya.


"Dia pemuas hasrat Raffa."


Mata Echa melebar mendengarnya. Kemudian, dia menatap ke arah Radit dengan serius.


"Jadi?" Putra bungsu dari Addhitama itu mengangguk.


"Dialah yang membuat pertunangan Beeya dan Raffa batal," ujar Radit dengan suara pelan. Echa menutup mulutnya tak percaya.


Namun, kesaksian Anggie kali ini sedikit melenceng dan sungguh di luar dugaan dari pihak Iyan.


"Dia juga sudah meniduri saya hingga saya hamil."


Keluarga Iyan dan juga Arya terkejut mendengarnya. Apalagi Anggie menyerahkan bukti di mana Iyan tengah tertidur bersamanya dengan bertelanjang dada juga tubuh Anggie yang bagian atasnya tertutup selimut. Hanya memperlihatkan pundaknya yang putih.


"Gila settingannya." Aksa menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Bee, itu bohong Bee. Kamu harus percaya sama Papah." Arya mencoba menjelaskan kepada putrinya. Dia sangat takut foto itu mengganggu psikisnya lagi.


"Papah jangan khawatir, Bee tahu bagaimana Iyan." Lengkungan senyum terukir di wajah Beeya.


Bertepatan dengan itu Iyan menoleh ke arah belakang dengan menggelengkan kepalanya pelan. Hanya sebuah senyuman yang menjadi jawaban dari Beeya.


Beeya tidak asing dengan foto tersebut. Jadi, dia tidak akan terpancing. Dia tengah mencoba berdamai dengan rasa takut juga traumanya.


Ketika Anggie selesai memberikan kesaksian, dia segera keluar dari tempat persidangan menuju toilet. Sungguh dia benar-benar takut karena ini kali pertama dia berhadapan dengan hakim dan pihak hukum.


Dia mencuci wajahnya untuk menghilangkan ketegangan. Juga menghembuskan napas dengan sangat kasar. Setelah dirasa cukup tenang, Anggie pun keluar dari kamar mandi. Tubuhnya menegang ketika melihat seseorang yang sudah ada di depan toilet. Wajahnya nampak dingin dan datar.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Anggie. Perih, sensasi itu yang dia rasakan.


"Apa kamu lupa dengan kebaikan Iyan juga kebaikan keluarga Iyan, hah?"


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2