
Mereka berdua sudah turun dari dalam mobil. Namun, Beeya menghadang langkah Iyan dan membuat pemuda itu bingung.
"Kenapa lagi?"
"Cincin."
Iyan menunjukkan jari manis sebelah kiri. Senyum pun terukir di wajah cantik Beeya. Wanita mungil itupun menunjukkan jari manisnya juga. Melingkar sebuah cincin yang sama dengan apa uang digunakan Iyan.
"Puas?" Anggukan serta tawa lebar yang Beeya tunjukkan..
"Ayang emang terbaik." Iyan tertawa dan segera menggenggam erat tangan sang tunangan. Dia tahu di sana ada si Paijo.
"Selamat pagi!" Sapaan hangat nan ceria Beeya berikan kepada para karyawan toko yang masih beberes.
"Pagi, Mbak!"
Namun, wajah terkejut para karyawan tunjukkan. Terlebih Kenzo yang awalnya ingin mendekat mundur beberapa langkah.
"Ciye, mulai ditunjukkan ke publik nih gandengannya," goda karyawan perempuan sembari melihat ke arah tangan Beeya dan Iyan yang saling menggenggam.
"Makan-makan dong Mbak."
Beeya menggelengkan kepala mendengar ucapan dari karyawan bu'denya tersebut. Tidak ada takut-takutnya kepada dirinya. Malah memalak Beeya secara terang-terangan.
Ujung mata Iyan melihat sosok Paijo yang mematung di depan tempat baju. Tangan Iyan semakin erat menggenggam tunangannya.
"Ini mah pagi yang suram," celetuk karyawan pria.
"Bukannya disuguhkan teh manis, malah kopi pahit," timpal yang lain. Wajah mereka terlihat memilukan.
Beeya menatap ke arah Iyan. Terlihat jelas sorot mata Iyan tidak suka mendengar ucapan tersebut. Usapan lembut di punggung tangan Iyan membuat hati pemuda itu luluh.
"Kita ke atas aja." Beeya sudah menarik tangan Iyan.
Semua mata tertuju pada mereka berdua yang mulai menaiki anak tangga. Dada Kenzo terasa sangat sakit melihat Iyan dan Beeya yang begitu romantis. Pikiran buruk sudah memutari kepalanya. Berdua di atas pasti akan melakukan hal yang sama seperti di depan dirinya. Malah bisa lebih parah.
"Kok aku penasaran ya sama pacarnya Mbak Beeya." Karyawan perempuan malah ingin mengetahui wajah dari Iyan. Sedangkan karyawan pria malah mencemooh Iyan.
"Palingan juga mukanya jelek. Makanya pakai masker." Rasa kecewa membuat mulut para karyawan laki-laki bagai ibu-ibu komplek.
"Gak mungkin," sanggah karyawan wanita. "Pasti gantenglah. Mana mau Mbak Beeya sama cowok dekil. Lihat darii mata dan alisnya pun kayaknya mempesona banget."
"Hari gini jarang yang punya tampang ganteng terus kaya. Jarang banget, Maemunah!" geram karywan pria yang menyukai Beeya.
"Betul tuh." Karyawan yang lain membenarkan.
Jangan ditanya bagaimana Kenzo. Dia sedari tadi masih diam. Tidak menimpali ucapan para karyawan.
__ADS_1
"Ken, kayaknya kamu juga suka ya sama Mbak Beeya," ujar karyawan wanita.
"Ikut patah hati dong," timpal yang lain. Para karyawan wanita malah tertawa. Mengejek para pria yang tengah patah hati masal.
(Ini nih yang dikatain jelek 👇)
.
Iyan terus bersungut-sungut dan Beeya hanya tertawa. Lucu melihat tunangannya marah. Sifat cuek Iyan sedikit demi sedikit hilang.
"Udah dong," ujar Beeya. Dia mulai duduk di samping Iyan dan mengambil kopi kaleng yang selalu tersedia di lemari pendingin.
"Pasti di bawah lagi rame," lanjut Beeya lagi. Iyan hanya diam. Dia meneguk kopi kaleng yang Beeya berikan.
"Mereka kan penasaran sama kamu, Yang." Iyan malah melipat kedua tangannya di atas dada.
"Aku gak suka sama tatapan si Paijo ke kamu."
"Biarin aja, yang penting akunya gak geer pas ditatap dia." Beeya mulai menautkan tangannya di jari jemari Iyan.
"Aku yang lebih takut." Iyan menoleh. Wajah tunangannya sudah berubah sedih. "Di kantor Bang Aksa pasti banyak yang lebih cantik dari aku. Lebih baik dari aku dan tentunya lebih sempurna dari aku."
Kembali menjalani long distance relationship membuat rasa takut di hati Beeya datang kembali. Dia takut Iyan meninggalkannya demi wanita lain.
Beeya pun tersenyum dan memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. "Aku ingin cepat sembuh dan menyusul kamu ke Jakarta." Iyan merasa lega mendengarnya. Dia mengecup ujung kepala Beeya.
Hari ini Beeya merasa bahagia ditemani oleh sang tunangan yang tidak hanya diam. Sesekali membantu pekerjaannya. Juga menciumnya dengan begitu mesra.
"Di sini gak ada CCTV 'kan." setelah Iyan melepaskan ciuman panasnya kepada Beeya.
"Palingan juga aku dicermahin sama Bu'de." Jawaban yang begitu santai yang keluar dari mulut Beeya.
"Candu." Iyan menyentuh bibir pink Beeya. "Manis."
Kini, Beeya yang memulai. Sudah tidak terhitung berapa kali mereka melakukan ciuman. Bibir mereka seakan tidak mau terlepaskan. Namun, mereka berdua masih bisa mengontrol hawa napsu setan. Udara mulai menipis, mereka saling melepaskan. Namun, kembali menyatukan. Dua insan ini benar-benar pasangan panas. Napas mereka terengah-engah. Beeya sudah merebahkan kepalanya di dada Iyan.
"Bibir aku kayaknya bengkak." Tangan Beeya sudah menyentuh bibirnya sendiri. Iyan tergelak dan mencium ujung kepalanya dengan begitu gemas.
"Jam berapa terbang?" Beeya mendongak ke arah sang tunangan.
"Jam lima." Beeya hanya mengangguk dan mulai melingkarkan tangannya di pinggang Iyan.
"Akan sibuk lagi," ujar Beeya lagi.
"Kejar setoran untuk meminang lebah cantik." Sebuah kecupan di pipi Iyan berikan. "Jangan nakal, dan jangan berikan sengatan kepada pria lain."
__ADS_1
"Sengatan maut aku hanya untuk kamu, Ayang."
Ternyata lama-lama berciuman membuat mereka lapar. Tidak lupa Beeya memasangkan masker di wajah sang tunangan.
"Biar gak ada yang ngelirik kamu." Posesif, begitulah Beeya sekarang. Namun, Iyan malah senang. Dia merasa berharga di mata sang tunangan.
Para karyawan wanita terus menggoda Beeya. Sedari tadi tangan dia sejoli itu tidak pernah terlepas.
"Tahu deh yang LDR-an terus ketemu mah. Gak bakal dilepas." Beeya hanya tersenyum.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya karyawan yang lain.
"Cari makan."
"Nitip ya, Mbak, tapi sekalian bayarin." Tipe karyawan ngelunjak. Beeya meresponnya hanya dengan decakan kesal.
Iyan sudah menarik tangan Beeya menandakan dia sudah tidak ingin berlama-lama. "Nanti saya beliin kuaci satu kilo biar awet," teriak Beeya.
"Maafin karyawan aku, ya." Iyan melepas maskernya dan hanya mengangguk pelan.
Tanpa Beeya sangka sang kekasih memesan ayam cepat saji lengkap dengan nasi. Ayam crispy yang menjadi makanan sejuta umat untuk para karyawannya.
"Ini seriusan?" tanya Beeya.
"Iya. Memangnya kenapa?" Beeya pun menggeleng. Ternyata Iyan menganggap serius ucapan para karyawan yang tidak tahu diri itu.
Tibanya di toko Iyan harus menggunakan masker lagi. Perintah yang tidak boleh dibantah. Padahal Iyan sendiri tidak betah. Beeya memanggil para karyawan dan mereka bersorak gembira ketika Beeya membawa makan siang yang banyak untuk mereka.
"Ini dari pria di samping saya. Katanya sebagai pajak tunangan." Beeya menatap ke arah Iyan yang juga tengah tersenyum ke arahnya. Walaupun menggunakan masker tetap saja terlihat matanya yang menyipit.
"Makasih, Mas-nya," ucap para karyawan perempuan. Iyan membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Mbak, kenapa tunangannya pakai masker terus. Kita juga pengen lihat wajahnya kali," ucap karyawain lain.
"Mungkin dia lagi flu," sahut Kenzo. Mata Iyan memicing ketika Kenzo mampu menimpali pertanyaan karyawan lain. Begitu juga dengan Beeya.
"Mungkin juga malu karena wajahnya yang tak tampan," sahut yang lain.
"Paimin!" seru semua karyawan wanita dengan pelototan maut. Sedangkan Beeya sudah merangkul lengan sang kekasih.
Geram dengan ledekan karyawan toko milik tante dari Beeya membuat Iyan perlahan membuka masker di wajahnya.
Mendadak insecure gak tuh?
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...