
Ketika .alam.yiba sepasang suami istri sedang sibuk membuka kado dari para tamu undangan. Mereka belum sempat membuka kado karena semalam terlalu asyik melakukan hal yang hampir membuat mereka terbang ke awang-awang.
Sebenarnya bukan Iyan yang sangat antusias. Melainkan sang istri. Sedangkan Iyan asyik mengusap lembut perut sang istri. Sobekan kertas kaso terdengar. Seketika Beeya mengerutkan dahi ketika melihat kado yang baru saja dia buka.
"Ayang, ini 'kan yang suka ada di minimarket bagian kasir paling depan itu 'kan?" Iyan melihat ke arah beberapa kotak yang sudah istrinya pegang. Mata Iyan pun melebar.
"Fi-es-ta." Baca Beeya. "Ini permen, ya." Beeya hendak membuka kardus kecil itu. Namun, Iyan segera mengambil kotak tersebut.
"Dari siapa ini?" tanya Iyan.
"Wira." Beeya menunjukkan nama di atas kertas kado tersebut.
"Si alan!!" Beeya terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar. Selama dia mengenal Iyan, tidak pernah Iyan berkata kasar. Akan tetapi, kali ini suaminya mengeluarkan kata yang sangat aneh di telinga Beeya. Tatapan tajam Beeya membuat Iyan minta maaf.
"Itu apa emang?" Iyan tercengang karena sang istri tidak tahu itu benda apa.
"Itu ada rasa-rasanya. Ada juga permen atau permen karet yang punya rasa begitu mah." Iyan tersenyum. Kemudian, mengecup bibir Beeya dengan singkat. Beeya pun terbengong.
"Kenapa?" Iyan membisikkan sesuatu kepada Beeya. Maya istrinya pun melebar. Dia menutup mulutnya tak percaya.
"Kalau pake itu aku bisa ngerasain rasa buah-buahannya?" Iyan pun menggedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu. Seumur hidupnya tidak pernah mencoba benda itu.
"Mending buka yang lain aja." Iyan masih memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dia susah meletakkan dagunya di pundak sang istri. Kado yang istrinya buka tidak ada yang aneh-aneh. Namun, ketika membuka kado yang lain kedua alis Iyan menukik tajam.
"Kurang kerjaan ngasih tisu galon." Iyan tergelak. Tisu magic Beeya kira tisu galon. "Aku buang, ya." Iyan pun mengangguk. Dia juga tidak memerlukan itu. Tanpa tisu itu anacondanya akan menunjukkan keperkasaannya.
Beeya sedari tadi mencari hadiah dari keponakan Iyan yang dijuluki anak Sultan. Mata Beeya berbinar ketika menemukan jadi tersebut.
"Dari siapa itu?"tanya Iyan. Sedari tadi bibirnya tak mau diam. Dia menciumi tengkuk leher sang istri ataupun leher putih Beeya.
"Empin." Iyan hanya mengangguk. Beeya pun membuka hadiah kotak kecil itu.
Mata Beeya berbinar ketika melihat dua buah tiket pesawat ke Jogja. Juga ada sebuah kartu yang di atasnya ditempel pin dari kartu tersebut.
Selamat berbulan madu Om, Tante.
Beeya menyunggingkan senyum yang begitu lebar. Dia tidak menyangka dengan apa yang diberikan oleh Gavin.
"Ayang!" Beeya berseru gembira. Dia menunjukkan hadiah dari keponakan tampannya itu.
"Apa itu?"
"Tiket ke Jogja dan kartu debit dari Empin." Iyan tercengang dengan apa uang isttrinya katakan.
__ADS_1
"Seriusan?" Beeya pun mengangguk. Dia menunjukkan nama di atas kertas kado tersebut.
"Anak Sultan," gumam Iyan.
"Dia seakan tahu kalau aku pengen ke sana. Aku ingin menikmati malam di Kota Jogja." Beeya berbinar ketika mengatakan itu semua. Iyan ikut bahagia ketika istrinya bahagia seperti ini.
"Tapi, aku belum dapat cuti dari Abang," ucap Iyan. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya.
"Gak apa-apa. Lagian tiket pesawat ini buat dua Minggu ke depan kok." Beeya menunjukkan tiket tersebut kepada sang suami.
"Lanjut ke Malang mau?" Beeya menggeleng.
"Aku gak mau menginjakkan kaki ke sana." Tiba-tiba Beeya berkata lirih. Iyan segera memeluknya.
"Ya, kita hanya akan ke Jogja." Ada kenangan buruk di Kota Malang yang membuat Beeya enggan untuk ke sana.
Iyan belum tahu ada kenangan apa ketika di Malang Namun, Iyan juga tidak ingin mengorek karena dia tahu itu akan membuka luka lama sang istri. Suara pintu kamar hotel terdengar. Iyan melonggarkan pelukannya dan mengusap lembut wajah Beeya yang tengah bermandikan air mata.
"Ada tamu kayaknya." Iyan berkata dengan begitu lembut. Dia mengecup kening istrinya dengan begitu dalam.
Beeya masih berada di atas tempat tidur. Ketika Iyan membuka pintu, senyuman seorang wanita terpancar.
"Selamat, ya." Kirani memberikan ucapan kepada Iyan. Beeya yang hafal dengan suara itu segera turun dari tempat tidur dan memeluk tubuh Kirani, psikolog yang menanganinya ketika di Bali.
"Gak apa-apa." Beeya menjawab dengan lengkungan senyum di bibirnya..
Beeya mengajak Kirani masuk ke kamar hotel yang mereka tempati. Iyan mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk tamu istrinya tersebut.
"Ayang," panggil mesra Beeya. Wajahnya terlihat meringis kesakitan lagi. Iyan menghampiri istrinya dan duduk di samping Beeya. Dia merengkuh pinggang Beeya dan tangannya mengusap lembut perut sang istri. Jika, perutnya disentuh oleh Iyan, rasa nyeri itu sedikit menghilang.
"Kamu pesan makanan kalau begitu." Beeya lun mengangguk. Dia meraih ponsel Iyan dan membuat Kirani terkejut. Tidak ada privasi sama sekali dari Iyan. Beeya dengan lancarnya membuka ponsel sang suami dan serius memilih menu yang akan disuguhkan olehnya kepada Kirani.
"Gak usah repot-repot," ujar Kirani.
"Enggak kok," sahut Beeya. Dia menoleh ke.aeah Iyan dan Iyan pun mengangguk.
"Maaf, ya," ujar Beeya. "Gak tahu kenapa, usapan lembut tangan suami aku membuat rasa nyeri di perut aku hilang seketika." Iyan tersenyum mendengarnya.
"Namanya juga pengantin baru. Pasti tidak akan pernah mau saling jauh." Beeya dan Iyan pun tertawa.
"Udah sah mah mau ngapain aja bebas," timpal Kirani.
"Orang belum ngapa-ngapain," balas Beeya. "Tamu aku malah udah datang. Kasihan suami aku." Beeya mengusap lembut pipi Iyan dan membuat Iyan tersenyum.
__ADS_1
Untungnya Kirani sudah terbiasa melihat Iyan dan Beeya mesra seperti ini. Jadi, sudah tidak kaget lagi.
"Aku sangat bahagia," ujar Kirani. "Selama aku kenal, aku gak pernah melihat kamu sebahagia ini. Aku ikut bahagia, Bee." Mata Kirani sudah berkaca-kaca me buat Beeya ingin menitipkan air mata.
"Jangan nangis. Aku jadi sedih." Beeya memeluk tubuh Kirani dengan begitu erat. Iyan baru melihay Beeya sedekat ini dengan seorang wanita. Melwbih kedekatannya dengan Pipin.
"Aku menangis bahagia, Bee. Akhirnya, pasien aku menemukan kebahagiaannya juga. Aku tahu bagaimana terpuruknya kamu ketika pertama kali datang kepadaku. Ketika aku pertama melihat Iyan, aku sudah sangat yakin jika Iyan memang jodoh kamu. Iyan sangat tulus mendampingi kamu. Seribu banding satu laki-laki seperti Iyan." Beeya menatpa suaminya dengan penuh cinta. Iyan menarik tangan Beeya dan memeluknya. Mengecup kening Beeya dengan begitu lembut.
"Makasih ya, Yan. Udah bisa buat Beeya kembali lagi ke jari dirinya." Kirani sudah tersenyum ke arah Iyan.
"Kembalinya istriku bukan karena aku, tapi memang dia yang ingin sembuh." Beeya pun tersenyum begitu lebar. Sungguh luar biasa suaminya ini.
Suara bel memecah keharuan yang ada. Iyan sudah bangkit dari duduknya. Dia kira food pesanannya tiba. Namun, dugaannya salah. Ketika Iyan membuka pintu Ghea sudah menangis tersedu-sedu. Dia bersama Gavin.
"Adek kenapa?" Tangis Ghea semakin pecah. Iyan menggendong tubuh Ghea.
"Mommy dan Daddy antar Kak Rangga sebentar ke Bandara. Adek terbangun, terus nyariin mereka."
Mendengar tangisan Ghea, Beeya menghampiri suaminya. "Kenapa dengan Ghea?"
"Mommy, Daddy gak ada." Anak itu menangis lagi.
"Jangan nangis, ya. Mending bukain kadk, ya." Seketika tangis anak itu reda. Iyan membawa dua keponakannya itu ke kamar hotel. Kirani tersenyum ke arah Ghea dan Gavin.
Ghea terlihat antusias ketika melihat tumpukan kado. Dia menatap ke arah sang tante yang terkadang bisa berubah menjadi singa galak.
"Tante, Adek boleh buka semua kadonya?"
"Tentu boleh." Ghea pun bersorak gembira. Iyan lun ikut menemani kedua keponakannya membuka kado. Terkadang ada tawa uang tercipta di sana. Kirani dan Beeya terus memperhatikan mereka bertiga. Iyan pun begitu sangat menyayangi keponakannya itu.
"Sepertinya Iyan sudah siap memiliki anak." Beeya menoleh ke arah Kirani dengan tatapan sendu.
"Aku yang belum siap."
"Kenapa?" tanya Kirani.
Beeya hanya menggeleng. Dia pun tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini. Dia ingin free child. Dia ingin menikmati waktu bersama Iyan dulu hanya berdua. Ingin bebas melakukan apapun karena mereka sudah halal menjadi suami-istri.
"Anak itu rejeki dari Tuhan. Banyak orang yang menginginkan kehadiran mereka. Kenapa kamu sebaliknya?"
"Aku masih ingin menikmati rumah tangga berdua bersama Iyan. Aku belum mau membagi cinta dan sayangku untuk anakku kelak. Aku belum mau."
Kirani tidak bisa memaksa. Dia menyerahkan semua keputusannya kepada Beeya dan Iyan. Intinya, dia tidak menyamaratakan semua pemikiran orang-orang perihal anak. Banyak alasan yang setiap manusia miliki.
__ADS_1