Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
170. Bahagia


__ADS_3

"Akhirnya kita sudah sah dan bisa kawin juga, Ayang," teriaknya dengan cukup keras.


"Muach ... muach ... muach!"


Mata Arya hampir copot dari tempatnya. Begitu juga dengan Beby dan Arina yang ingin sekali menjewer telinga Abeeya Bhaskara yang tak tahu malu itu. Ada pengantin perempuan seperti itu. Tidak ada manis-manisnya. Duduk di pangkuan sang pria yang baru saja sah di depan penghulu juga para saksi di sana.


Dada Arya sudah turun naik. Menandakan dia sedikit marah kepada putrinya. Tepatnya malu, punya anak perempuan kelakuannya minus. Sedangkan para tamu undangan malah terasa terhibur dengan kedatangan Beeya. Tidak ada pernikahan lain yang sekocak ini.


Dari belakang MUA mengikuti Beeya. Mereka menghentikan langkah ketika ditatap oleh sang punya hajat. Kehadiran Beeya kali ini sangatlah tepat. Sedih dan haru kini melebur menjadi sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan oleh Iyan. Beeya datang sebagai penawar sedih juga pilu.


"Kamu duduk dulu, ya." Suara Iyan seperti menghipnotis Beeya. Pria itu membenarkan penampilan Beeya. Menurunkan kain yang sedikit naik ke atas juga memakaikan heels yang masih dia jinjing. Sungguh menjadi tontonan yang sangat manis juga romantis hingga penghulu pun ikut menikmati adegan manis tersebut.


Berhubung pengantin wanita sudah di sini. Pak penghulu pun menyuruh Iyan untuk memasang cincin di jari manis sang istri. Begitu juga dengan Beeya. Terlihat pancaran kebahagiaan yang ada di wajah mereka. Juru kamera pun sibuk mengabadikan momen tersebut. Pengantin yang begitu cocok. Cantik dan tampan.


Sekarang, pak penghulu menyuruh Beeya untuk mencium tangan sang suami, dengan senang hati Beeya melakukannya. Itulah yang Beeya inginkan. Dia tidak ingin dianggap tua terus. Ada rasa hangat dan tenang ketika punggung tangan sahabat dari kecilnya itu dia cium. Iyan merasakan ada yang mengalir deras di darahnya ketika bibir Beeya menyentuh punggung tangan Iyan. Momen inipun tak luput dari jepretan juru kamera.


Echa dan Riana merasa bahagia sekaligus lega melihat adik mereka akhirnya sah menjadi suami. Mereka juga melihat betapa besarnya cinta Iyan begitu besar untuk Beeya. Sama dengan Beeya yang menyayangi Iyan dengan begitu tulus


Kini, Iyan yang disuruh mencium kening Beeya. Iyan mulai menatap Beeya. Lengkungan senyum terlihat begitu jelas di mata keluarga juga para undangan. Iyan pun sudah menyentuh pundak Beeya.


"Ciumnya kening, Yan. Bukan yang lain." Semua orang pun tertawa. Sedangkan Iyan sudah menatap tajam ke arah adik dari Abang iparnya itu.


Ketika bibir Iyan menyentuh keningnya, Beeya merasakan ada yang menjalar di hatinya. Namun, rasanya sekarang ini berbeda. Beeya pun melengkungkan senyum yang begitu manis.


"Beginikah rasanya menjadi sepasang pengantin baru?"


Rangkaian acara akad sudah selesai. Penandatanganan semua berkas pun sudah juga. Semuanya tersenyum bahagia dan menghampiri Iyan. Wira memeluk tubuh Iyan dan tak lupa mengucapkan kata selamat.


Si triplets, mereka sudah memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Mereka nampak bahagia melihat om mereka berpasangan dengan wanita yang otaknya kurang seons. Belum lagi ke-bar-barannya melebihi manusia biasa.


Gio dan Ayanda menghampiri Iyan. Mereka tersenyum hangat ke arah putra bungsu dari Rion Juanda. Tak mereka duga, Iyan berhambur memeluk tubuh mereka berdua.


"Makasih, Dad. Makasih, Mom."


Gio mengusap lembut punggung Iyan begitu juga dengan Ayanda. Mereka masih merasakan kesedihan yang mendalam dari Iyan.


"Kamu adalah putra Daddy. Jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun kepada Daddy. Anggaplah Daddy seperti ayah kamu." Gio merasakan tangan Iyan semakin erat memeluk tubuhnya. Pria yang seumuran ayahnya itu tersenyum bahagia.


"Kamu juga anak Mommy, Yan. Jangan sungkan untuk berbagi cerita kepada Mommy."


Tuhan begitu baik kepada Iyan. Dia benar-benar dikelilingi oleh orang baik. Keluarganya sangat kompak juga keluarga mantan istri dari ayahnya, yang tak lain besan dari Rion Juanda.


"Udah dong, Mom, Dad. Jangan buat suami Bee sedih." Iyan sudah mengendurkan pelukannya. Dia melihat ke arah samping di mana istrinya sudah berdiri. "Ini hari bahagia kami. Benar 'kan Ayang?" Iyan pun tersenyum bahagia melihatnya. Apalagi Beeya sudah merangkul mesra tangan Iyan.


"Kamu tahu, Sayang. Beeya bagai baterai baru untuk Iyan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Mereka saling menerima kekurangan mereka masing-masing. Itulah yang membuat mereka bisa sampai ke jenjang pernikahan." Radit sudah merangkul pundak istrnya yang sedari tadi tak henti mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Sama halnya dengan kita," ujar Radit. Echa pun menatap suaminya dengan mata sembab.


"Kita pacaran selama lima tahun dan berakhir di pelaminan karena kita sama-sama ingin menyempurnakan. Kita sama-smaa memiliki kenangan pahit yang ingin kita hilangkan. Kita saling mencintai karena kekurangan kita, bukan karena kelebihan yang kita miliki."


Apa yang dikatakan Radit memang benar. Lengkungan senyum pun mulai terukir di wajah Echa. Tangan Radit mengusap lembut air mata Echa dengan begitu lembut.


"Kita harus selalu bahagia dan juga kompak." Echa memeluk tubuh suaminya dan Radit pun mengecup ujung kepala Echa. Tak mereka sangka juru kamera malah mengambil foto mesra mereka.


"Om!"


Ghea dan Balqis menghampiri Iyan dengan tangan yang bertaut. Mereka berdua memberikan buket cokelat kepada Iyan.


"Ini dari Adek dan juga Aqis. Katanya cokelat bisa buat orang bahagia." Iyan mengusap lembut rambut Ghea dan mencium pipi keponakannya itu. Juga pipi Balqis yang begitu chubby.


"Makasih, ya."


"Sama-sama, Om." Mereka berdua menjawab dengan begitu kompak.


Di belakang Ghea ada Gavin atau Mas Agha yang sudah membawa sebuah kotak kecil. Dia memberikannya kepada sang paman.


"Apa ini?"


"Hadiah kecil untuk Om dan Tante lenjeh." Iyan tersenyum bahagia. "Kenapa repot?"


"Enggak repot kok, Om," sahut Agha. "Itu hanya hadiah kecil dari Mas." Aska mengusap lembut rambut Gavin.


Akad nikah di pagi ini diperuntukkan untuk para keluarga juga kolega dekat saja. Acara nanti malam barulah untuk semua tamu undangan dari berbagai kalangan.


"Ngga nyanyi dong. Suara kamu 'kan bagus." Arina sudah membuka suara.


"Iya, Ngga. Hibur pengantin biar makin bahagia." Riana menambahkan. Anak angkat dari Aksara itupun mengangguk. Ketika dia hendak mengambil microphone terlihat Aleena yang tengah tertawa kaku bersama Kalfa dan Aleeya. Di sana juga ada Aleesa juga Yansen.


🎶


Wong ko ngene, kok dibandhing-bandhingke


Saing-saingke? Ya, mesthi kalah


Suara Rangga membuat semua orang terdiam. Suara itu begitu merdu.


Tak oyak'a, aku ya ora mampu


Mung sak kuatku mencintaimu


Ku berharap engkau mengerti

__ADS_1


Di hati ini hanya ada kamu


Semua tamu dan keluarga pun bertepuk tangan. Beda halnya dengan Aleena yang terdiam membeku. Menatap ke arah Rangga dengan tatapan sendu. Dia tahu lagi viral itu, dia juga tahu artinya apa.


"Aku gak pernah bandingkan kamu, Ngga."


🎶


Jelas beda yen dibandhingke


Ora ana sing tak pamerke


Aku ra isa yen kon gawe-gawe


Jujur, sak anane


Sapa wonge sing ra lara ati?


Wis ngancani tekan semene


Nanging kabeh ora ana artine


Ra ana ajine


Pemuda itu sangat fasih bernyanyi bahasa Jawa karena sudah lama tinggal di Jogja. Semenjak kukus SMP. Beeya sudah menarik tangan Iyan, begitu juga dengan para keluarga inti yang sudah berkumpul di tengah-tengah. Mereka semua sudah asyik bergoyang.


🎶


Wong ko ngene, kok dibandhing-bandhingke


Saing-saingke? Ya, mesthi kalah


Tak oyak'a, aku ya ora mampu


Mung sak kuatku mencintaimu


Ku berharap engkau mengerti


Di hati ini hanya ada kamu


.


Di rumah sakit ada seseorang yang melengkungkan senyum ketika melihat seorang remaja putri bergoyang begitu absurb-nya.


"Daddy bilang, lu harus ke Swiss." Lengkungan senyum itu terhenti. Dia menatap ke arah sahabatnya yang berkata teramat serius. "Di sana lu akan lebih ditempa dalam segala hal."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2