
Beeya menghela napas kasar dengan dada yang berdegup kencang. Bukan tanpa alasan, dia takut Iyan melemah ketika ijab kabul. Atau sebaliknya sang ayah yang tak kuat menahan sedih.
"Om kecil pasti kuat," ujar Aleena. Dia menggenggam tangan Beeya dengan begitu erat. Beeya mengangguk dengan senyum yang dia paksakan. Beda halnya dengan Aleesa yang masih mengkhawatirkan kondisi Restu.
.
Penghulu memberikan arahan kepada Arya dan juga Iyan. Baik Iyan maupun Arya dia sama-sama tidak fokus. Tiba-tiba mata Iyan perih, tubuhnya gemetar dan tangannya dingin.
"Ayah, tolong Iyan."
Ayah, nama itu yang selalu Iyan panggil di dalam hati. Nama itu yang hari ini terus terpatri di lubuk hatinya terdalam..l
"Ayah."
Lagi-lagi Iyan memanggil nama ayahnya. Air matanya seakan tidak sanggup untuk dia tahan. Echa dan Riana sudah saling pandang. Hati mereka sedari tadi ikut berdegup kencang. Mereka takut jikalau Iyan akan rapuh dan berujung menangis. Dua wanita itu saling pandang dan mata mereka memang sudah berkaca-kaca.
Echa ingin pergi mendekati Iyan, tapi dilarang oleh Radit. Suaminya tidak mengijinkan.
"Tapi--"
"Jangan rusak suasana." Echa pun menghela napas kasar. Dia pun akhirnya mengangguk pelan. Menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Bagaimana ... apa Anda sudah siap Pak Arya?" Pak penghulu sudah bertanya kepada ayah dari mempelai wanita.
Arya menatap ke arah Iyan yang tengah menunduk. Hatinya teramat sakit dan ingin dia pergi dari tempat itu sekarang juga.
"Pak Arya," panggil penghulu.
__ADS_1
Arya menghela napas kasar. Dia belum menjawab. Dia pun meminta waktu lima menit lagi untuk memulai acara akad ini.
"Bro, gua gak sanggup. Apa gua harus menyerah?"
Air mata menetes mengenai kain yang Iyan gunakan. Dadanya sesak dan hatinya teramat sakit. Dia merasakan ada tarikan dari ujung baju adatnya. Iyan pun menoleh dalam keadaan menunduk. Si kerdil ternyata pelakunya. Makhluk kecil bertelinga panjang itu memakai baju batik, tapi tetap tak mengenakan celana.
"Ayah ... Bunda ... mereka hadir."
Ucapan si kerdil membuat Iyan menegakkan kepala. Dia mencari kedua orang tuanya yang si kerdil sebut menghadiri pernikahannya. Tak dia hiraukan ada jejak air mata di pipinya.
"Lihatlah wajah Mommy dan Daddy. Lihatlah, Iyan!"
Mata Iyan kini tertuju pada Ayanda dan juga Giondra. Air mata dan senyum mengalir dan terukir secara bersamaan.
"Ayah, Bunda."
"Yan," panggil Arya.
"Pegang tangan Iyan, Pah. Pegang tangan Iyan." Arya pun mengikuti perintah Iyan. Sikap mereka berdua menjadi perhatian tamu yang hadir di akad tersebut.
Echa sudah menitikan air mata begitu juga dengan Riana. "Ada apa dengan Iyan?" tanya Echa. Suaranya sudah bergetar.
"Kak, Ri takut," ucapnya.
Laju air mata Arya mengalir dengan begitu deras ketika dia melihat siapa yang ada di sana. Senyum khas sang duda terlihat begitu nyata. Dia mengangguk pelan kepada Arya maupun Iyan.
"Yan, Ibu, Om, Jojo, Dev, Om Poci, Anteu Pocita juga ada. Kamu gak sendiri, Yan. Ada kami."
__ADS_1
Mulut Iyan Kelu, sama halnya dengan Arya. Dua manusia yang sangat merindukan sosok duda yang menyebalkan kini dipertemukan.
"Kalian berdua kenapa?" Suara penghulu membuat dua orang itu menoleh. Wajah mereka sudah basah.
"Kenapa kalian menangis?" Iyan dan Arya hanya tersenyum. Ada kerinduan yang terobati. Ada kebahagiaan yang tak bisa mereka ungkapkan.
Gavin dan Ghea sudah berlari membawakan tisu ke arah sang paman. Ghea mengusap lembut air mata yang membasahi wajah Iyan dengan telapak tangannya.
"Om gak boleh nangis. Ini hari bahagia, Om." Keponakannya seakan memberikan semangat kepadanya.
"Hapus air mata, Om. Om laki-laki gak boleh cengeng." Ucapan Gavin membuat semua tamu undangan tertawa.
Dia merasa sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat respect kepadanya. Termasuk dua keponakan kecilnya.
Arya menatap ke arah Iyan ketika air matanya sudah dia seka. Iyan pun mengangguk mantab.
"Pak penghulu, bisa kita mulai sekarang?" Arya berkata dengan begitu penuh wibawa.
"Silahkan."
Arya sudah mengulurkan tangan dan disambut oleh Iyan. Dia menghela napas kasar sebelum mengucapkan kalimat ijab.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Rian Dwiputra Juanda bin Rion Juanda dengan putri kandung saya, Abeeya Bhaskara binti Arya Bhaskara dengan mas kawin emas murni seberat seribu gram, uang tunai sebesar tujuh ratus lima belas ribu USD, dan rumah seharga empat ratus ribu USD dibayar TUNAI!"
...***To Be Continue***...
Penasaran gak?
__ADS_1
Komen dong...