
Sepertinya ahli telematika itu tahu rahasia seorang Rudi Alamsyah. Iyan mencoba menoleh ke belakang ke arah Beeya. Raut wajahnya terlihat sangat cemas. Dia melihat jelas wajah Beeya yang ketakutan. Untung ada Aska yang mampu menenangkan.
"Itu alasan kenapa terdakwa marah kepada korban," terang Christian.
"Tapi, itu tidak akan pernah mengurangi hukuman kepada terdakwa karena memang jelas-jelas terdakwa salah," bela pengacara Raffa.
Iyan hanya bisa diam. Apapun keputusan hakim akan dia terima dengan lapang dada. Ini memang kesalahannya, dia harus menerima segala konsekuensinya.
"Bee, kenapa kamu menutupi ini semua kepada kami?" Kini, Beby menatap perih ke arah putrinya. Inilah yang membuat Beeya trauma dan terus ketakutan.
"Bee takut, Mah. Bee takut." Beeya memeluk erat tubuh ibunya dan jangan ditanya seperti apa wajah Arya sekarang. Urat-urat kemarhannya sudah sangat terlihat jelas. Tangannya mengepal dengan sangat keras.
"Sekarang, lawan ketakutan kamu. Kamu harus bangkit, kamu harus sembuh dan kalau kamu merasa sudah kuat dan sedikit membaik, sudah saatnya kamu bantu Iyan untuk terbebas dari hukuman ini."
Mendengar nama Iyan yang disebut oleh sang Bu'de membuat Beeya melonggarkan pelukannya. Dia menatap punggung pemuda yang selalu ada untuknya dengan nanar. Ternyata karena video itu Iyan marah besar. Dia rela memakai pakaian tahanan demi membela dirinya. Apakah sekarang dia harus berdiam diri saja?
"Lihatlah, Bee," ucap Aska seraya mengusap lembut pundak Beeya. "Di depan kamu ada dua orang pria yang sama-sama menyayangi kamu. Namun, memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan simpati dan hati kamu," ungkap Aska.
"Raffa, pria yang kamu cintai dan sayangi. Pria impian kamu karena memiliki keposesifan yang sangat luar biasa. Namun, keposesifan itu akhirnya membuat kamu tertekan dan malah seperti ini," lanjutnya. Beeya pun terdiam. Apa yang dikatakan oleh Aska membagi benar.
"Pria yang memakai baju tahanan, dia adalah sosok pria yang tak banyak bicara juga tidak banyak bersikap. Terbilang cuek, tetapi selalu mengerti bagaimana isi hati kamu. Padahal, dia adalah manusia yang sangat peka atas hati dan perasaan kamu. Demi menjaga hubungan kamu dan Raffa dia rela menjauh dari kamu." Aska menjeda ucapannya.
"Ketika dia tengah dirundung duka yang tak berkesudahan karena kehilangan sosok ayahandanya, dia tetap tidak ingin merepotkan kamu. Dia mencoba menghadapi kesedihannya sendiri. Padahal, dia membutuhkan sandaran dan sebuah pelukan. Walaupun hanya membuatnya nyaman untuk sesaat."
Bulir bening jatuh begitu saja dari pelupuk mata Beeya. Dia sangat tahu bahwa Iyan adalah laki-laki yang sangat baik. Laki-laki yang memang bertanggung jawab dan selalu mengerti dirinya walaupun dia tidak berkata.
"Sekarang, ikut berjuang untuk membebaskan Iyan. Balaskan rasa sakitmu kepada orang-orang yang sudah hampir membuatmu gila."
__ADS_1
Beeya memandang wajah Aska dengan sangat serius. Aska segera menggenggam tangan Beeya dan berkata, "berjuang bersama Iyan. Ketika Iyan sudah keluar dari tahanan, dia yang akan membantu kamu keluar dari trauma yang tengah kamu rasakan."
Beeya pun mengangguk. Dia menghapus kasar air matanya. Persidangan terus berlanjut dan Beeya terus mendengarkan tuduhan juga sanggahan dari kedua belah pihak terdakwa dan juga korban.
"Ini sudah saatnya."
Beeya berdiri dan bangkit dari tempatnya dan membuat semua orang terkejut. "Bee," panggil sang ibu. Namun, Aska mencegah Beeby untuk mengikuti Beeya.
"Biarkan, Mah. Kita cukup melihatnya dari jauh."
Beeya menghampiri hakim ketua dan mampu membuat semua orang melebarkan mata. Apalagi Raffa dan Rudi.
"Maaf, Yang Mulia," ucapnya dengan sangat sopan.
"Saya di sini hanya ingin memberikan bukti yang lebih lengkap lagi."
Deg.
"Kenapa dia bisa maju begitu sih?" gumam Raffa di dalam hati.
"Ini Yang Mulia."
Beeya menyerahkan ponselnya yang menunjukkan foto yang hampir mirip dengan saksi yang beberkan.
"Ini gambar yang asli."
Ahli telematika pun segera melihat ke arah foto. Dia mulai membandingkan foto yang dibawa oleh saksi juga yang diberikan oleh Beeya.
__ADS_1
"Saya tidak mungkin berdusta," ujar Beeya. "Saya juga tidak berniat untuk menjatuhkan mantan tunangan saya, tapi di sini saya hanya ingin menunjukkan kebenaran."
Iyan tersenyum bahagia mendengar ucapan Beeya yang sangat lugas. Beeya yang dia kenal sudah kembali lagi.
"Apa saudari bersedia menjadi saksi?" Beeya pun mengangguk. Sedangkan Iyan sangat khawatir dengan kondisi Beeya.
Iyan menggeleng pelan ke arah Beeya, tetapi Beeya membalasnya dengan sebuah senyuman yang teramat tulus. Sorot matanya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Pada akhirnya, Beeya menjadi saksi dari pihak Iyan. Dia membeberkan kronologi kejadian itu dengan sangat lancar. Tidak ada ketakutan ataupun keraguan ketika Beeya memaparkan semuanya.
Namun, ada tiga hati yang terluka ketika mendengar penjelasan dari Beeya. Hati mereka sangat sakit, cerita itu adalah cerita yang sudah hampir setengah tahun Beeya sembunyikan seorang diri. Kini, dia baru bercerita secara terang-terangan di depan hakim tanpa air mata sedikit pun.
"Malang sekali nasibmu, Bee." Arya sudah memeluk tubuh istrinya. Ingin rasanya dia menangis sangat keras. Dia yang mendengar saja sangat sedih, apalagi jika dia melihat perilaku Raffa kepada putri semata wayangnya.
"... itulah alasan kenapa saya diam dan tidak memberitahukan kepada siapapun. Saya merasa sangat tertekan juga terancam. Apalagi, pesan yang dikirimkan mantan tunangan saya selalu membuat saya semakin ketakutan. Saya tidak ingin kehilangan kehormatan saya. Saya juga tidak akan menyerahkan kehormatan saya pada sembarang orang."
Ingin rasanya Iyan memeluk tubuh Beeya saat ini. Dia tahu Beeya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Saya harap, Yang Mulia bisa memutuskan mana yang bersalah mana yang tidak. Saya adalah korban dari kejahatan mantan tunangan saya. Awalnya saya tidak ingin memberikan kesaksian, tetapi pihak yang merasa menjadi korban terus-terusan membuat fitnah yang sungguh sangat keji kepada terdakwa. Akhirnya saya putuskan untuk membuka suara," tambahnya.
"Maafkan aku, Raffa. Maafkan aku, Om Rudi." Kini, Beeya menatap ke arah dua pria itu.
"Sudah terlalu lama kalian menginjak-injak harga diriku. Tertawa puas di atas penderitaanku. Sudah saatnya juga aku membuka semuanya. Mengorek kesakitan yang pernah kalian lakukan kepadaku. Membongkar kelicikan yang kalian mainkan dengan memfitnah Iyan karena ada kalanya semut yang terus kalian injak pun akan berbalik menggigit kalian. Kemarin, kalian boleh tertawa puas melihat Iyan dan aku menderita. Namun, aku tidak akan melakukan itu ketika penderitaan menghampiri kalian. Aku bukan orang yang kejam. Aku bukan manusia licik. Aku hanya ingin kalian sadar sebelum datangnya ajal. "
Aksa, Radit juga Aska tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan dari Beeya. Ujung ucapannya itu seperti mengandung doa yang tersembunyi. Beeya pun menyudahi kesaksiannya. Ketika dia hendak menuju kursi seharusnya dia berada, seorang wanita berkata dengan penuh keyakinan.
"Saya juga membawa bukti kuat, Yang Mulia."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...