
Dua anak manusia itu masih dalam posisi berpelukan. Seperti dua insan yang tidak bisa dipisahkan.
"Aku mandi dulu, ya. Baru aku makan." Beeya mengangguk dan tak segan Iyan mencium kening Beeya untuk kesekian kalinya.
Kehangatan juga kenyamanan yang kini Beeya rasakan. Didekat Iyan dia merasa lebih baik. Semua kenangan pahit yang terukir di kepalanya, seolah hilang seketika.
Beeya membuka gorden kamar. Terasa bias mentari menjelang siang masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Iyan. Dahinya mengkerut dan tubuhnya sedikit gemetar ketika melihat banyak orang yang berbadan tegap di bawah sana.
"Si-siapa?"
Wajah Beeya sudah pucat dan kepalanya terus menggeleng. Untung saja Iyan sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ketika tubuh Beeya bergetar dan tangannya sudah menutup kedua telinganya Iyan segera memeluknya.
"Jangan! Aku tidak mau!"
"Ini aku, Kak Bee."
Suara Iyan terdengar dan tangannya pun melingkar erat pada tubuh Beeya. "Aku di sini." Iyan membalikkan tubuh Beeya dan memeluk erat tubuh perempuan mungil itu.
"Aku ... takut."
"Gak perlu takut. Aku 'kan di sini." Iyan mengusap lembut punggung Beeya. Dia sedikit melihat ke arah bawah. Banyak pria berbadan kekar berdiri di bawah. Itu bukan penjahat, melainkan orang yang berjaga di kediaman Beeya atas perintah Arya juga Arina.
Setelah Beeya tenang, Iyan mengurai pelukannya. Rambut Iyan yang masih basah membuat mata Beeya tak bisa berkedip. Apalagi dia baru tersadar jikalau Iyan bertelanjang-dada. Kulitnya bersentuhan langsung dengan kuli Beeya. Beeya tak mampu menahan kekagumannya.
"Kenapa?" tanya Iyan. Kepala Beeya menggeleng.
"Aku lapar." Beeya pun tersenyum dan menatap wajah Iyan.
"Mau aku suapin?" Iyan mengangguk.
Mereka berdua bagai sepasang kekasih. Sangat mesra dan saling melengkapi satu sama lain. Sekarang, Beeya tengah menyuapi Iyan dengan sangat telaten.
"Enak?" tanya Beeya. Iyan pun mengangguk. "Lolos dong jadi calon istri," canda Beeya. Iyan pun hanya tertawa dan mengusap lembut rambut Beeya.
"Bisa masak atau tidaknya kamu, kamu akan tetap menjadi calon istriku."
Beeya seakan enggan lepas dari Iyan. Tangannya terus merangkul lengan Iyan yang tengah bermain game online.
"Gak bosen apa?" keluh Beeya yang merasa dicueki.
"Kenapa?" Iyan mem-puase permainannya. Kini dia menatap ke arah Beeya. Tidak ada jawaban dari Beeya. Dia malah merebahkan kepalanya di pundak Iyan.
Pemuda itu menurunkan tangan Beeya yang tengah melingkar di lengannya. Dia genggam dengan sangat erat.
__ADS_1
"Di bawah, adalah orang-orang yang jaga rumah ini. Kamu jangan takut, ya."
Beeya mendongak menatap ke arah Iyan. Iyan tersenyum, kemudian mengusap lembut pipi merah jambu Beeya. Wajahnya sudah mendekat, refleks Beeya memejamkan mata. Sebuah kecupan Iyan berikan di pipi Beeya
Setelah dirasa bibir Iyan menjauh Beeya tersenyum ke arah Iyan. Tangannya memeluk pinggang Iyan dari samping.
"Kamu adalah sandaran ternyaman untukku."
Suara yang sangat pelan juga kecil, tetapi mampu didengar oleh Iyan.
"Inikah yang dinamakan cinta datang setelah persahabatan?"
Lengkungan senyum pun terukir di wajah Iyan. Hanya canda tawa yang mereka berdua ciptakan. Iyan yang pendiam menjadi sosok penghibur bagi Beeya. Tawa Beeya begitu lepas dan terdengar hingga ke luar kamar.
Kedua orang tua Beeya serta Arina hanya dapat tersenyum bahagia melihat perubahan Beeya yang semakin hari semakin menunjukkan sisi aslinya. Anak periang, pembuat onar sangat mereka rindukan.
.
Sore hari Iyan turun dari lantai atas dan dicecar pertanyaan oleh Beby. "Mau ke mana?"
"Minimarket dulu, Mah. Ada yang mau Iyan beli." Beby mengangguk mengerti.
"Udah bilang sama Beeya?"
"Makasih sudah selalu ada untuk Beeya," ucap Beby lirih.
"Gak usah berterima kasih, Mah. Iyan bahagia kok. Ini juga 'kan udah menjadi tugas Iyan untuk menjaga Kak Bee."
Sedari kecil pemuda ini memang memiliki sikap tak banyak bicara, tetapi sangat baik kepada semua orang. Sampai saat ini, Iyan masih tetap sama.
"Jaga Kak Bee ya, Mah. Iyan berangkat dulu." Beby hanya mengangguk. "Kalau ada apa-apa dengan Kak Bee segera hubungi Iyan."
Pemuda tampan itu meminjam mobil Arya menuju sebuah kafe terdekat. Di sana dia lebih leluasa berbicara kepada abang ipar pertamanya.
"Kenapa?" tanya Radit dari balik sambungan telepon.
Namun, Iyan tidak menjawab karena dia melihat pria yang sudah hampir menodai Beeya baru saja datang ke tempat itu dengan seorang wanita.
"Bang Sat!"
Urat kemarahan sudah hadir di wajah Iyan. Tangannya sudah mengepal cukup keras. Dia benar-benar ingin menghajar Raffa dengan tangannya sendiri.
"Yan, lu kenapa?" tanya Radit lagi dari balik sambungan telepon. Samar terdengar adik iparnya itu melontarkan perkataan cukup kasar dan tidak pernah Iyan berkata seperti itu.
__ADS_1
Seperti mendapat energi lebih, Iyan bangkit dari duduknya menghampiri pria yang kini menjadi musuh terbesarnya.
Langkahnya semakin mendekat dan pria itu sepertinya tengah berbahagia dengan seorang wanita yang tidak pernah Iyan anggap dan lihat. Di matanya kemarahan itu tertuju pada sosok Raffa saja.
Wajah merah padam sangat terlihat. Tangannya dengan kasar menarik baju belakang Raffa hingga dia terjengkang. Wanita yang bersama Raffa pun spontan berteriak.
Namun, kemarahan sudah menguasai hati dan tubuhnya. Iyan terus memukuli Raffa secara membabi-buta. Dia bagai orang kesetanan. Banyak orang yang menarik tubuh Iyan. Akan tetapi, tubuh mereka yang terpental.
Wanita yang bersama Raffa sudah berteriak histeris apalagi melihat Raffa yang sudah berlumuran darah. Raffa benar-benar tidak bisa membalas pukulan Iyan. Tubuhnya seakan lemah bagai orang yang pasrah.
"Stop, Yan. Nanti dia mati."
Iyan terdiam sejenak mendengar suara tersebut. Suara yang tengah pemuda itu rindukan.
"Sudah, Yan. Kasihan Beeya."
Tubuh Iyan menegang. Mendengar nama Beeya membuat Iyan menghentikan pukulannya. Dia melihat ke arah kiri dan kanan mencari seseorang yang sangat dia rindukan.
"Ayah," gumamnya.
Hanya ayahnya yang mampu meredam amarah Iyan. Suara ayahnyalah yang menghentikan gerakan Iyan yang sepeti orang kesetanan. Semua orang yang berada di sana kini sudah mengamankan Iyan dan membawanya ke pos keamanan.
"Iyan, lu kenapa?" Radit masih berteriak di balik sambungan telepon.
Iyan tercengang ketika melihat tubuh Raffa yang sudah berlumuran darah karena ulahnya dibawa oleh beberapa orang ke dalam mobil.
"Harusnya aku buat kamu mati!"
Iyan yang sudah digiring ke kantor keamanan masih terdiam. Tidak ada siluet penyesalan di wajahnya. Hanya sebuah kepuasan yang ada pada hatinya.
Banyak orang yang tengah mencoba bertanya kepada Iyan tentang duduk permasalahannya, tetapi Iyan hanya diam saja.
"Boleh saya angkat telepon dulu?" tanya Iyan kepada pihak keamanan.
"Silahkan."
"Bang, bisa gak Abang dan Bang Aksa ke Bali sekarang?"
"Ada apa?"
"Aku di kantor polisi sekarang."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...