Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
21. Suka Dalam Duka


__ADS_3

Setelah prosesi foto selesai, Iyan baru tersadar ketika tidak ada sahabat ayahnya di sana. Namun, dia enggan menanyakan.


Ponsel Echa berdering dan orang yang tengah Iyan pikirkanlah yang menghubungi Echa.


"Iya, Om."


....


"Kenapa?"


....


"Hati-hati, Om."


Wajah Echa nampak berubah. Dahi Iyan mengkerut seperti tengah ingin tahu apa yang sedang kakaknya pikirkan.


"Beeya ke-"


"Iyan ke anak-anak dulu, ya," potongnya.


Echa menatap pedih ke arah punggung Iyan yang sudah menjauh.


"Iyan belum tahu yang sebenarnya?" tanya Riana. Sang kakak pun menggeleng.


"Beeya melarang Kakak untuk memberitahunya. Dia hanya takut, Iyan akan membunuh Raffa. Marahnya Iyan seperti tengah dikuasai setan 'kan."


"Abang lihat sih kayaknya Iyan kehilangan sosok Beeya. Dia seakan terus menghindar jika kita membicarakan Beeya." Riana setuju dengan ucapan suaminya.


Echa tidak ingin menerka-nerka. Pasalnya Iyan adalah tipe anak yang tertutup. Hanya kepada Beeya dia mampu terbuka. Dikorek sedalam apapun, dia tidak akan membuka suara.


"Nanti Kakak bicara dengan Iyan."


.


Lulus kuliah, Iyan kembali ke rumah. Itu atas permintaan sang kakak. Kali ini, Iyan mengikuti kemauan Echa. Sudah terlalu lama juga dia hidup sendiri di kosan. Dia merindukan suasana rumah walaupun sudah berbeda.


Beberapa hari yang lalu dia baru saja mendapat petuah dari Jojo juga Om Uwo yang berkunjung ke kosan. Mereka bilang, Iyan harus berdamai dengan rasa kehilangannya. Ayahnya sudah tenang di alam sana dan dia tidak akan pernah melihat ayahnya lagi.


"Kembalilah, Yan. Rumah itu sangat sunyi tanpa kamu. Rumah itu sepeti tak berpenghuni. Hanya kamu yang bisa menghidupkan suasana rumah itu kembali."

__ADS_1


Ada makna yang tersirat dari ucapan Om Uwo kepadanya. Iyan yang biasanya menolak, kini malah menuruti dengan cepat. Sesungguhnya dia juga merindukan rumah itu. Banyak kenangan yang ada di sana.


Iyan berkeliling rumahnya. Tidak ada yang berubah di sana. Sepertinya sang kakak tidak ingin merubah apa yang ada sebagai kenangan. Tata letak barang di rumah besar itu ayahnyalah yang mengatur.


"Yan," panggil sang kakak ketika Iyan berdiri di pintu halaman belakang. Di mana dia sedang menatap ke arah pohon mangga yang menyimpan berjuta kenangan.


Sang kakak ikut berdiri di samping Iyan. Echa merangkul manja tangan adiknya.


"Pohon mangga itu terasa sepi akibat ditinggal kamu." Iyan hanya tersenyum mendengar ucapan Echa. "Mereka juga merasakan kehilangan kamu, sama seperti Kakak."


Iyan menatap lamat wajah sang kakak. "Iyan pasti kembali, Kak. Kakak jangan takut." Echa memeluk tubuh adiknya yang kini sangat tinggi.


"Ayah pergi, kamu pergi, hidup Kakak terasa sunyi."


Iyan merasakan kesedihan yang mendalam dari tutur kata kakaknya. "Maafkan Iyan, Kak. Iyan janji Iyan akan jaga Kakak juga Kak Ri."


Teman-teman Iyan yang berada di pohon mangga tersenyum bahagia melihat Iyan datang kembali. Namun, ada segelintir kesedihan yang mereka rasakan karena Iyan kini membentengi diri.


Echa menyiapkan makan malam spesial untuk sang adik. Apalagi keluarga Riana juga ikut berkumpul di sana. Tawa riuh terdengar karena celotehan Ghea juga pertengkaran si triplets dengan Iyan.


"Kak Ri bahagia banget akhirnya kamu kembali lagi ke sini." Riana memeluk erat tubuh adiknya yang lebih tinggi darinya.


"Ubah tuh sikap posesif. Malu sama umur." Iyan memarahi Aksara.


Keceriaan itu harus terhenti karena jarum jam yang semakin menunjukkan angka besar. Keluarga Riana harus kembali ke rumah mereka begitu juga dengan sang kakak yang sudah masuk ke dalam kamar.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Iyan ketika dia melihat ke arah almanak duduk yang ada di atas nakas. Dua Minggu lagi satu tahun kepergian ayahnya. Berarti seminggu setelahnya adalah hari lahirnya.


"Sudah setahun Ayah pergi," lirihnya.


.


Acara satu tahun kepergian sang ayah diperingati cukup besar. Mengundang anak yatim-piatu juga warga sekitar. Membagikan sembako juga santunan. Suasana duka masih terasa, tetapi tiga anak almarhum Rion tengah menyembunyikan itu semua dalam balutan senyum yang ramah kepada semua orang. Selesai acara mereka berpelukan. Apalagi ada Arya di sana.


"Tetap akur, ya. Ayah kalian pasti bangga di sana." Merek bertiga pun mengangguk.


Mata Iyan mencari sosok yang seolah hilang ditelan bumi. Dia tersenyum perih, Beeya benar-benar menghindar darinya. Begitulah yang dia pikirkan.


Seminggu kemudian, kue ulang tahun sudah ada di tangan Echa. Namun, air matanya tak kunjung berhenti menetes karena dia terbayang wajah Iyan tahun lalu. Kemarahan bercampur kesedihan jadi satu.

__ADS_1


Echa, Radit juga ketiga anaknya pelan-pelan membuka pintu kamar Iyan. Hanya lampu temaram yang bersinar. Mereka sangat jelas mendengar suara Iyan yang terdengar pilu.


"Iyan rindu Ayah, Ibu. Kenapa Ayah tidak pernah datang ke mimpi Iyan?"


Anak itu seperti tengah mengadu. Aroma melati menyeruak di hidung mereka semua. Aleesa menitikan air mata ketika dia melihat sosok perempuan yang om-nya panggil dengan sebutan ibu itu tengah membelai rambut Iyan. Bukan hanya Ibu, di sana ada Dev, Om Uwo, Jojo, hantu kerdil juga Om poci juga anteu pocita. Mereka seakan tengah mengucapkan selamat hari lahir kepada Iyan.


"Selamat ... ulang tahun ...."


Iyan segera menghidupkan lampu kamar ketika mendengar suara kakaknya bernyanyi dengan suara berat. Dilihatnya Echa sudah menitikan air mata dan itu menular pada Iyan. Iyan turun dari tempat tidur dan segera meraih kue tar yang Echa bawa dan dia berikan kepada sang Abang ipar. Dia segera memeluk tubuh Echa dengan sangat erat. Mereka berdua menangis dengan cukup keras.


"Selamat ulang tahun, Iyan."


Tahun kedua Iyan berulang tahun dengan penuh air mata karena kehilangan sosok sang ayah tercinta.


"Kamu mau hadiah apa dari kakak?" tanya Echa ketika mengurai pelukannya. Mengusap air mata Iyan yang sudah membanjiri wajahnya.


"Iyan gak mau apa-apa. Cukup Kakak berada di samping Iyan. Memeluk tubuh Iyan ketika Iyan sedih. Menjadi pendengar Iyan disaat Iyan gundah. Itu lebih dari cukup, Kak."


Mata Echa berkaca-kaca lagi. Iyan segera memeluk tubuh sang kakak untuk kedua kalinya. "Tetap jadi ibu untuk Iyan." Hanya sebuah anggukan dengan tangan yang membalas pelukan Iyan yang Echa berikan.


"Besok mobil kamu akan datang."


Iyan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Abang iparnya. Dia menatap Radit tak percaya.


"Mobil?" Radit mengangguk. "Iyan gak perlu itu, Bang," tolaknya.


"Terima aja, Yan. Hadiah itu sebenarnya hadiah untuk kamu tahun lalu. Berhubung tahun lalu kita berduka, makanya Abang kamu baru kasih sekarang," terang Radit.


"Makasih, Bang." Iyan memeluk tubuh Abang iparnya.


"Jadi pria tangguh dan bertanggung jawab. Pasti Ayah bahagia di sana." Nasihat yang Radit berikan.


Jam tiga malam keluarga Echa baru kembali ke kamar mereka masing-masing. Ada bahagia juga sedih dipenambahan usianya saat ini. Hingga Iyan teringat akan ucapan ayahnya setahun lalu, sebelum ayahnya meninggal.


"Ayah sudah menyiapkan hadiah untuk kamu. Ambil dan bukalah kotak yang ada di atas nakas kamar Ayah, tapi tepat di hari ulang tahun kamu."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2