
Fareeq mengulurkan tangannya dan membuat Keysha menyambut tangan Fareeq. Senyuman hangat nan sopan Fareeq berikan.
"Sorot matanya seperti pernah aku lihat, tapi di mana, ya?" Keysha masih ingat dengan sorot mata itu.
"Mending kalian berbincang berdua dulu, deh. Daddy kasih waktu satu jam biar kalian saling mengenal dulu dan memutuskan, apakah perjodohan ini akan dilanjutkan atau dibatalkan. Semua keputusan ada di tangan kalian." Gio sudah berkata.
Pada akhirnya Fareeq dan Keysha duduk di halaman samping rumah Keysha. Di mana ada kolam ikan koi di sana. Mereka berdua nampak terlihat canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Kak."
Fareeq menoleh ketika Keysha memanggilnya. Kini mereka berdua saling tatap.
"Boleh Key jujur?"
Fareeq terkejut dengan apa yang dia dengar. Wanita di sampingnya belum apa-apa sudah ingin berkata jujur. Padahal baru berkenalan.
"Katakanlah!" Fareeq menjawab dengan begitu lembut.
"Key, menerima tunangan ini karena Key ingin berbakti kepada kedua orang tua Key. Key, tidak ingin jadi anak durhaka karena hampir menjadi perusak rumah tangga orang." Keysha pun menunduk. Biarlah dia terlihat buruk di awal karena dia tidak ingin mengecewakan.
Bukannya hilang rasa, Fareeq malah tertawa. Dia salut dengan kejujuran Keysha padanya.
"Kalau Kakak mau membatalkan pertunangan ini, silahkan. Key, tidak ingin membuat laki-laki yang akan menjadi imam Key merasa dibohongi oleh Key."
__ADS_1
"Apa ini cara kamu untuk memprovokasi supaya saya membatalkan pertunangan ini?" sergah Fareeq. Dengan cepat Keysha menggeleng.
"Demi Allah, enggak gitu, Kak," balas Keysha. "Key ikhlas dan ridho dijodohkan dengan siapapun. Key hanya--".
"Aku juga mengerti. Aku hanya bercanda." Senyum tulus Fareeq berikan. Keysha menatap penuh lega ke arah pria tampan itu. "Aku pun menerima tawaran Abi karena ingin membahagiakan beliau. Gak ada yang lain."
Keysha terdiam dan Fareeq pun terdiam. Mereka memiliki satu niatan yang sama, yakni membahagiakan orang tua.
"Jikalau, Kakak ingin menolak juga membatalkan pertunangan ini Key akan menerima." Fareeq pun menoleh. Dia menatap lekat wajah Keysha.
"Kenapa kamu pesimis begitu?" tanya Fareeq heran.
"Key, tidak mau menjadi orang ketiga untuk Kakak dan pasangan Kakak." Fareeq pun tergelak.
"Dengar, ya. Kalau aku memiliki pasangan tidak mungkin aku menerima tawaran dari Abi. Justru karena aku gak laku-laku makanya aku dijodohin." Keysha malah tertawa dan tawa cantik itu membuat Fareeq terpesona.
"Apa malah kamu yang--"
"Key, juga sendiri," potongnya.
"Wah, bagus dong," balas Fareeq. "Berarti tinggal melanjutkan aja," lanjutnya.
"Terserah Kakak saja." Keysha nampak pasrah. Fareeq pun menatap Keysha dengan begitu dalam.
__ADS_1
"Apa kamu ingin membatalkannya?" Keysha pun menggeleng.
"Kalau Kakak setuju aku ikut aja. Lagi pula kita sama-sama tidak memiliki pasangan juga ingin membahagiakan orang yang paling kita sayang 'kan." Keysha berkata dengan begitu tulus.
"Kita mulai dengan bismillah." Fareeq mengulurkan jari kelingkingnya dan membuat Keysha tersenyum.
"Bismillah." Keysha menautkan jari manisnya ke arah jari kelingking Fareeq.
Di dalam rumah para orang dewasa tengah merasa cemas. Sedari tadi mereka menunggu Keysha dan Fareeq.
"Jika, mereka membatalkan bagaimana?" Kekhawatiran Kano terungkap juga. Dokter Iqram hanya tertawa.
"Kita jangan memaksa. Ingatlah pada pepatah, kalau jodoh tidak akan ke mana." Santai dan terdengar sangat damai ketika dokter Iqram berbicara.
Kedua manusia yang tengah dibicarakan kini sudah memasuki ruangan di mana mereka semua berkumpul. Sheza menatap sendu dan cemas ke arah putrinya. Sedangkan Keysha berada di belakang Fareeq.
"Apa kalian sudah berbincang mengenai perjodohan ini?" Kini, dokter Iqram yang berbicara.
"Sudah, Abi," jawab Fareeq..l
Kano menatap ke arah Keysha dan putri pertamanya merangkul lengan sang ayah.
"Insha Allah keputusan kami berdua akan membuat Papih
__ADS_1