
Beeya buru-buru menaruh apa yang dia pegang ke dalam laci setelah dia meminumnya. Tak lama berselang, sang suami sudah keluar dengan hanya menggunakan handuk. Dadanya yang putih terpampang jelas di mata.
"Aku pakai celana pendek aja keluarnya, Chagiya."
"Enggak!" Beeya sudah mengambilkan celana panjang untuk Iyan. "Kulit kamu terlalu putih untuk dilihat oleh wanita lain." Iyan pun tergelak.
"Kamu juga gak boleh pake celana pendek," tegas Iyan.
"Enggak, Ayang. Aku mau pake piyama panjang."
Mereka berjalan terus bergandengan tangan menyusuri aneka jajanan pinggir jalan. Beeya memilih ini dan itu dan yang tugasnya membayar adalah suami tercinta.
"Udah, yuk." Iyan ingin segera pulang karena dia sudah tidak tahan ingin menyerang istrinya. Beeya pun mengangguk.
Tibanya di kamar, Iyan segera membopong tubuh istrinya ala bridal dan Beeya hanya tertawa. Iyan memulai dengan silaturahmi bibir. Di mana Beeya pun menyambutnya dengan begitu hangat. Tangan Iyan pun sudah bergerilya ke dua gunung putri yang menjadi sumber energi untuknya. The sahan Beeya terdengar apalagi bibir Iyan sudah mulai menyusuri leher jenjangnya. Meninggalkan jejak samar di sana. Kini, bibir itu tiba di bagian atas gunung putri. Kecupan lembut yang Iyan berikan membuat Beeya berdesis bagai ular.
Iyan sudah membuka penutup bagian tubuh atas sang istri. Dia memberikan sentuhan lembut sehingga Beeya dapat menikmati sensasi nikmat luar biasa. Apalagi ketika dia mulai mencari sedotan untuk meminum sumber asi. Ada sensasi beda yang Beeya rasakan. Dia bagaikan dibawa terbang. Apalagi tangan Iyan yang sudah mengusap-usap sebuah goa yang mulai basah karena sebuah lahar yang keluar begitu saja.
"Ayang," panggil Beeya dengan suara parau.
"Kenapa, Chagiya?"
"Enak, Ayang." Iyan pun tersenyum senang. Dia semakin membuat istrinya melayang jauh ke awang-awang. Apalagi, ketika dia membuka sedikit lebar kaki sang istri. Lidah tak bertulang mulai beraksi dan membuat Beeya mengerang tak karuhan.
__ADS_1
"Ah!! Lanjut lagi, Yang. Enak!"
Iyan semakin bersemangat. Apalagi ketika Iyan menemukan almond dan melahapnya. Beeya berteriak tidak tahan.
"Pengen pipis!"
****** ***** pun keluar dan Iyan mulai mencicipinya. Beeya tergelepar lemas. Iyan merangkak menuju sang istri. Mencium mesra bibir Beeya. Ada rasa aneh yang dapat Beeya rasakan.
"Gimana?"
"Lemas." Beeya menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami. Iyan membelai rambut sang istri tercinta.
"Sekarang boleh 'kan anaconda ku masuk ke dalam?"
"Belum terlalu."
Beeya yang tadi berkata lelah kini sudah membuka celana sang suami. Dia menggelengkan kepala ketika anaconda berkepala jamur sudah berdiri tegak.
"Ini udah tegak banget, Ayang."
"Belum keras." Beeya pun tersenyum. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya.
Gerakan seperti oreo-lah yang diinginkan oleh Iyan. Diputar, dijilat dan dimasukin. Sudah terhanyut oleh gerakan Beeya, akhirnya Iyan menjatuhkan Beeya ke samping tempat tidur. Dia mulai menindih tubuh Beeya.
__ADS_1
"Udah siap?" Beeya pun mengangguk.
Iyan sudah mengarahkan kepala anaconda berbentuk kepala jamur ke arah pintu yang masih tersegel. Tak lupa Iyan memberikan rang-sangan di sumber asi yang istrinya.
"Sshh!"
Merasa tidak sabar dan sudah terbuai, Beeya mendorong bokong Iyan dan anaconda itupun mampu mendobrak pintu goa yang tersegel dengan lancar. Anaconda itupun sudah masuk sempurna ke dalam goa.
"Sa-kit!" teriak Beeya ketika sang anaconda berhasil membobol pintu yang tersegel.
.
Langkah Arya dan Beby terhenti ketika mereka mendengar teriakan sang putri. Mereka berdua panik dan segera membuka pintu kamar Beeya.
"Kamu ke--"
Mereka segera menutup pintu kamar Beeya kembali ketika melihat tubuh Iyan menindih tubuh putrinya.
"Kenapa bisa lupa?" ucap Arya kepada Beby.
"Beeya udah punya suami, Pah." Arya pun mengangguk. "Tubuh Iyan lebih putih dan mulus dari Papah. Bokong Papah mah kayak telur puyuh."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....