
Iyan sungguh lemah tak berdaya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Beeya. Sedari tadi wajahnya ditekuk dan membuat Beeya mengulum senyum.
"Ayang," panggil Beeya yang sedang merangkul lengan sang calon suami. Sedangkan Iyan malah memasang wajah sangat datar
"Kenapa sih?" Beeya masih berpura-pura.
"Tau ah!"
Beeya malah terbahak. Dia mencubit gemas pipi Iyan dengan cukup kencang.
"Kamu boleh ke mall. Boleh juga beli baju itu yang banyak."
"Buat apa? Cuma buat ngebangunin doang, tanpa bisa dimasukin." Iyan seperti wanita yang sedang PMS sekarang. Lagi-lagi Beeya malah tertawa.
"Bee, udah siap?" Echa sudah berada di bawah tangga. Beeya pun mengangguk dan menarik tangan Iyan agar lebih cepat turun ke lantai bawah.
"Kenapa muka kamu kucel banget?" Echa dapat melihat wajah Iyan yang sama sekali tidak bersinar.
"Biasa, Kak. Ingin ikut ke Singapura, tapi pekerjaan tidak dapat ditunda." Bisa sekali Abeeya Bhaskara ini membalikan fakta. Iyan pun mendengkus kesal.
"Nanti setelah menikah kalian bisa ke sana." Riana sudah membuka suara. "Ayo, Kak. Keburu siang."
Echa pun memanggil ketiga anaknya. Namun, yang keluar hanya Aleeya dan juga Aleesa.
"Aleena mana?" tanya Beeya.
"Dia gak ikut. Semalam tangannya kesiram air panas jadi sulit gerak," tutur Echa.
Iyan mengantar Beeya hingga ke samping mobil. Beeya tersenyum cantik dan tak melepaskan lingkaran di tangan Iyan.
"Aku pergi, ya." Beeya pamit dan tak segan mencium pipi Iyan.
Melihat tidak ada respon membuat Beeya kesal. Dia menatap tajam ke arah Iyan. "Oke." Ucapan penuh dengan penekanan.
Beeya sudah melepaskan lingkaran tangannya, dan mulai menjauhi Iyan. Namun, tangannya ditarik oleh Beeya hingga dia terjerembab di dada bidang Iyan.
"Jangan buat aku gusar. Jujur aku udah gak tahan." Beeya malah tersenyum. Terlihat jelas betapa frustasinya pria di depannya.
"Sabar ya, Ayang. Semua akan gol pada waktunya."
Iyan malah meletakkan wajahnya di bahu Beeya membuat Beeya tertawa.
__ADS_1
"I want you kiss mee."
"Ada Kakak, Chagiya." Beeya memukul pundak Iyan hingga dia mengaduh.
"Di kening," sahutnya. Iyan hanya ber-oh ria. Dia pun mengikuti apa yang Beeya inginkan.
"Makasih, Ayang." Lagi-lagi Beeya mencium pipi Iyan. "Boleh gak pake kartu kamu takutnya ada yang mau aku beli selain seserahan."
"Bebas." Beeya tersenyum sumringah dan segera mencium bibir Iyan dengan sangat singkat.
"Makasih, Ayang," teriaknya sambil berlari ke arah mobil. "Love you, muach muach muach."
Iyan hanya menggelengkan kepala. Bisa-bisanya dia mencintai wanita yang absurb seperti Beeya. Perihal hati tidak dapat dibohongi.
Dahi Iyan mengkerut ketika melihat Aleena yang tengah ada di dapur. Menuangkan susu cokelat ke dalam gelas.. Dia malah mengambil gelas tersebut dan sontak Aleena pun berdecak.
"Si kelapa kayaknya ikut ke Singapura," ujar Iyan setelah meneguk susu milik Aleena.
"Biarin."
Iyan menghela napas kasar. Dia menatap wajah Aleena dengan begitu dalam.
Iyan pun beranjak. Namun, langkahnya terhenti. Membalikkan tubuhnya dan terlihat Aleena yang tengah menunduk.
"Jangan lupa minta resep ke Baba kamu."
.
Kalfa Putra Satria sedang menunggu keluarga Aleena. Ketika mereka tiba di bandara Kalfa seakan mencari seseorang yang tidak ada di dalam rombongan.
"Cari siapa?" tanya Aleeya. Kalfa pun menggeleng dengan senyum yang dipaksa.
Dia segera mengetikkan pesan kepada Aleena. Namun, pesan itu tak kunjung Aleena balas. Bagi Aleena, kejujuran Aleeya semalam adalah sebuah peringatan agar dia tidak mengharapkan Kalfa..
.
Beeya terus saja menggoda Iyan. Dia malah mengirimkan berbagai foto obat kuat. Agar Iyan menjadi perkasa.
"Tanpa obat pun aku mah perkasa. Liat aja nanti, aku tidak akan membiarkan kamu tidur nyenyak. Juga, kamu tidak akan pernah bisa turun dari tempat tidur."
Beeya malah tertawa sendiri. Sungguh lucu sekali sang calon suaminya ini. Dia menikmati penerbangan pagi ini bersama kedua kakak Iyan dan juga dua keponakan sang calon tunangan. Juga, satu orang yang sepertinya akan menjadi jodoh salah satu dari si triplets.
__ADS_1
Tibanya di Singapura mereka segera menuju mall besar nan terkenal. Echa dan Riana sudah membawa catatan apa saja yang harus dibeli untuk Beeya. Tidak ada yang boleh terlewat. Begitulah kata Arya.
Baju dari merk ternama. Kosmetik DOIR belum lagi yang lain. Beeya memang benar-benar anak kandung Arya. Memilih barang yang harganya fantastis. Untung saja Rion Juanda sudah memiliki tabungan untuk pernikahan Iyan.
Bukan hanya Beeya yang sibuk memilih. Dua remaja cantik pun sibuk dengan barang yang mereka inginkan. Echa hanya tersenyum. Begitulah anak-anaknya. Jarang berbelanja sekalinya belanja habis hingga puluhan bahkan ratusan juta.
Lelah berbelanja dan banyak sekali goody bag yang mereka bawa. Akhirnya, mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang berada di dalam mall. Mata Aleesa memicing ketika melihat seseorang yang sangat dia kenali. Memegang rokok, lalu menghisapnya. Aleesa hanya menggelengkan kepala.
"Itu bukannya Restu," ujar Echa kepada Aleesa. Sang putri kedua pun hanya menganggukkan kepala.
Aleesa terkejut ketika sang ibu malah menghampiri Restu yang asyik menghisap rokok.
"Restu." Sang empunya nama pun menoleh. Dia tersenyum, tapi tangannya sibuk mematikan rokok yang baru saja dia hisap.
"Eh, Tante." Pria berusia dua puluh dua tahun itu mencium tangan Echa dengan begitu sopan. Dia juga melakukan hal yang sama kepada Riana dan Beeya.
"Sendiri?" Restu menggeleng. Ternyata dia sedang bersama Rio, putra dari Rindra Addhitama dan Nesha.
"Aunty," panggil Rio yang sudah melihat sang tente di mejanya. Pemuda itu mencium tangan Echa dan memeluk tubuh tantenya. "Ke sini kok gak bilang?"
"Hanya belanja, setelah selesai langsung pulang." Echa duduk di meja yang tak jauh dari tempat Rio dan Restu berada. Namun, Riana salah menghitung. Kursi di sana kurang satu alhasil Aleesa yang bergabung di meja Rio dan Restu.
Tak segan Aleesa mengambil rokok dari mulut Restu dan mematikannya tanpa ijin. Restu hanya melihatnya dengan tatapan malas. Sedangkan Rio hanya tersenyum. Jika, dua manusia ini bertemu akan terjadi.hal semacam ini.
"Lu 'kan tahu gua alergi asap rokok." Restu hanya mencebikkan bibirnya dan memasukkan bungkus rokok ke dalam sakunya.
"Ngapain sih masih berteman sama si brandal ini?" omel Aleesa kepada Rio. Brandal adalah sebutan dari Aleesa untuk Restu.
"Jangan lihat seseorang hanya dari sampulnya saja," ujar Rio. "Yang brandal gini yang dibutuhkan oleh keluarga kita." Restu pun tersenyum mendengar ucapan Rio. Sedangkan Aleesa berdecih kesal.
"Kamu tumben sendiri? Biasanya sama si Yansen?" tanya Rio. Aleesa sendiri sibuk mencari ponsel.
"Dia gak bisa ijin." Tisu basah yang dia bawa terjatuh. Alhasil dia harus menunduk untuk mengambilnya. Telapak tangan Restu segera menutup ujung meja supaya dahi Aleesa tidak menyentuhnya. Aleesa tercengang sedangkan Rio sudah tersenyum senang.
Melihat perlakuan Restu membuat Aleesa haus. Tangannya hendak mengambil air mineral yang ada di meja, tapi belum dia buka. Lagi dan lagi Restu dengan sigap membukakan tutup botol air tersebut.
"Tugas gua 'kan melayani dan melindungi keluarga Kakek Addhitama."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1