
Si triplets sudah menyiapkan alat untuk bakar-bakar. Semua yang dia inginkan sudah dibelikan oleh sang ayah. Ketika sibuk dengan semua alat tempur, suara seseorang mengganggu telinga mereka.
"Jiah! Bosan ketemu lu Mulu," omel Aleeya ke arah Yansen yang sudah tersenyum manis ke arah Aleesa.
"Serah lu lah, temannya Boboiboy," balas Yansen. Di film kartun buatan negeri Jiran ada film animasi yang berjudul Boboiboy. Di mana dia memiliki seorang teman yang bernama Yaya, yang senang membuat kue. Namun, kuenya rasanya tidak sedap. Sama seperti panggilan Agha kepada Aleeya, Yaya.
Seperti biasa Aleeya akan menarik rambut Yansen dengan sangat kuat. Hingga terdengar suara cukup keras yang keluar dari mulut Yansen. Aleesa meresponnya hanya dengan sebuah senyuman. Itu sudah biasa terjadi. Pertikaian antara adiknya juga laki-laki yang dekat dengannya.
Di lain tempat, kedua insan manusia tengah menuruni anak tangga. Beeya menggandeng tangan Iyan dengan begitu eratnya. Mereka baru saja diberitahu oleh Beby bahwa akan makan malam di rumah Iyan. Beeya terlihat sangat antusias.
"Beli minuman dulu di kafe kamu," ucap Beeya. Iyan hanya tersenyum seraya memasangkan jaket pada tubuh kekasihnya.
"Nanti kamu kedinginan," ujar Beeya.
"Ada kamu yang peluk aku dari belakang."
Beeya pun tertawa dan mencubit gemas perut Iyan. Mereka menuju Moeda kafe sebelum ke rumah Iyan.
Di dapur kafe, Beeya terus bergelayut manja di lengan sang pacar. Dia tidak memperbolehkan Iyan membuat minuman. Biarkan Wira yang bekerja.
"Pucat banget sih."
Iyan mengusap lembut pipi Beeya yang memang tanpa riasan apapun. Beeya menoleh ke arah sang pacar dan tersenyum kepada Iyan.
"Butuh kecupan manja," ucap pelan Beeya. Iyan pun tergelak dan mencubit gemas pipi kekasihnya.
Setelah selesai, mereka segera menuju rumah Iyan. Ternyata sudah banyak orang di sana. Termasuk dua keponakan Iyan yang tak terpisahkan, Agha juga Ghea.
"Mommy dan Daddy kalian mana?" tanya Iyan. Kedua keponakannya mencium tangan Iyan dengan begitu sopan.
__ADS_1
"Mommy dan Daddy nanti nyusul. Mas dan Adek tadi dijemput Bubu dan Baba," terang Agha.
Iyan menghampiri Beeya yang sudah bergabung dengan ketiga keponakannya. Memberikan minuman yang dibawa oleh dia juga Beeya. Iyan merengkuh pinggang Beeya membuat Beeya sedikit terkejut.
"Aku mandi dulu, ya." Beeya pun mengangguk seraya tersenyum.
Sudah biasa ketiga keponakannya melakukan acara seperti ini. Iyan juga sudah terbiasa dengan kehadiran Yansen di rumah ini. Sedangkan orang dewasa sedang berbincang juga menikmati kopi di ruang makan.
"Om," panggil Echa.
Arya yang tengah serius berbincang dengan Radit pun menoleh. Terlihat wajah Echa sudah sangat serius.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Sebelum Ayah pergi, apa Ayah sempat bilang sesuatu kepada Om?" tanya Echa penuh dengan keingintahuan.
Arya mencoba mengingat-ingat. Namun, tidak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut Rion. Kemudian, dia pun menggelengkan kepalanya di depan Echa. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Echa.
Arya malah tersenyum tipis ke arah anak kedua Radit dan Echa yang terlihat sangat dekat dengan pemuda yang sering disapa Sensen.
"Kayaknya sebentar lagi punya calon mantu," goda Arya. Radit dan Echa ikut melihat ke arah di mana Arya tengah memandang.
"Sulit untuk bersatunya," ujar Radit.
"Hanya berteman saja," tambah Echa.
Di antara Yansen dan Aleesa menjulang dinding yang sangat besar juga kokoh yang tidak akan pernah bisa menyatukan mereka berdua. Yansen dengan keteguhan imannya, juga Aleesa dengan keyakinan iman yang tak bisa diubah.
"Kenapa kalian masih membolehkan mereka dekat?" tanya Arya.
__ADS_1
"Echa dan Kak Radit tidak melarang mereka untuk berteman. Mereka juga sudah diberi tahu bahwa mereka memang tidak bisa bersatu. Sekuat apapun cinta mereka, itu tidak akan mengubah kayakinan yang ada."
Kini, mereka melihat Iyan yang sudah bergabung dengan rambut yang masih basah. Menggunakan kaos juga celana pendek.
"Pacar, ini enak loh buatan aku." Beeya membanggakan seafood bakar juga sate-satean yang dia bakar dan racik bumbu sendiri.
Beeya menyuapi Iyan dan mata Iyan segera memerah karena rasanya sangat pedas sekali. Kekasihnya terkejut dan segera mengambilkan air mineral untuk Iyan. Dia lupa bahwa Iyan tidak suka pedas.
"Maaf."
Iyan pun meneguk air mineral tersebut hingga tandas. Terlihat keringat bercucuran di dahinya. Beeya menyeka keringat sang pacar dengan wajah penuh sesal.
"Gak apa-apa." Iyan mengusap lembut rambut Beeya. "Buatin lagi, tapi jangan pedas."
Senyum pun melengkung indah di wajah Beeya. Kepalanya mengangguk, dan Iyan membalasnya dengan senyuman tak kalah manis.
"Aku di bangku sana, ya. Aku mau ngecek pekerjaan."
Iyan meninggalkan kekasihnya. Langkahnya membawanya menuju kursi kayu yang ada tak jauh dari tempat mereka bakar-bakar. Terdengar Aleesa dan Yansen tengah bernyanyi lagu yang sedang hits.
"Ku kira kita asam dan garam." Aleesa berdendang dengan raut penuh bahagia.
"Ternyata kita Kristen dan Islam," timpal Iyan seraya tertawa puas.
Balasan lirik yang Iyan nyanyikan mampu membuat Alesaa dan Yansen terdiam. Seperti sentilan keras untuk mereka berdua, dan di dalam hati Aleesa dia sudah berteriak sangat keras.
"Om kecil!"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...