Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
48. Drama


__ADS_3

Semua orang terkejut melihat aksi dua manusia di dalam kafe tersebut. Beda halnya dengan para karyawan yang bertugas di dapur. Mereka bertepuk tangan bahagia. Wajah Anggie kini bak kepiting rebus.


Pagutan mereka terlepas ketika oksigen sudah mulai menipis. Beeya maupun Iyan sama-sama tersenyum. Tak Beeya sangka Iyan mengecup keningnya dengan sangat dalam dan penuh cinta membuat Beeya memejamkan matanya sejenak.


"Ya Tuhan, aku kira pak manager kita alim. Ternyata dia begitu manis."


Salah satu karyawan yang ada di dapur gemas sendiri melihat pasangan yang luar biasa itu.


Iyan mengusap lembut pipi Beeya. Dia menurunkan Beeya dari pangkuannya. Menyuruhnya duduk di sampingnya.


"Temani aku di sini."


Iyan menggenggam tangan Beeya dengan sangat erat. Tak membiarkan Beeya pergi dari sana. Sejujurnya, dia masih merasa takut Beeya salah paham kepadanya.


Sekarang, Iyan menatap tajam kembali ke arah Anggie. Tatapannya semakin mengintimidasi.


"Jika, aku mau menjadikan kamu yang kedua, apa kamu sanggup mengembalikan kerugian yang abangku derita sebesar sepuluh milyar malam ini juga."


Iyan menatap nyalang ke arah Anggie yang kini sama sekali tidak berani menatap ke arah Iyan. Dia melanjutkan ucapannya yang tadi sebelum Beeya datang.


"Apa kamu bisa?" Suara Iyan sudah meninggi membuat semua orang terkejut. Termasuk Beeya.


Iyan sudah mengeluarkan sebuah bukti transfer dari sakunya. Dia melemparkan ke atas meja.


"Data itu kamu jual dan uangnya kamu pakai untuk menyogok pihak kepolisian juga pengadilan agar meringankan hukuman ayah dari anak yang kamu kandung. Sekarang, dengan lantangnya kamu bilang mencintaiku. Bukankah itu konyol," ujar Iyan dengan bahasa yang kembali tenang.


"Kamu kira aku pria bodoh, yang akan termakan drama palsu yang sudah kamu buat dari jauh-jauh hari." Iyan pun menggeleng. "Meminta belas kasihan kakak ku, lalu mencuri data kafe milik abangku dan menjualnya. Pada akhirnya kamu berdalih melakukan itu semua karena kamu mencintaiku. Sungguh omong kosong." Wajah Iyan terlihat sangat murka sekarang.


"Jika, tujuan kamu menghancurkan kafe Abang aku untuk memiliki aku, aku pastikan itu tidak mungkin terjadi," tegas Iyan.


Beeya menatap ke arah Iyan yang terlihat serius dengan ucapannya. Dia merasa tenang ketika telapak tangan Iyan bertaut dengan telapak tangan miliknya. Dia merasa terlindungi ketika pemuda tampan itu berada di sampingnya. Rasa yang tak pernah dia dapatkan dari mantan tunangannya.


Iyan menghela napas kasar dan mengambil sesuatu dari saku kemejanya. Dia menyerahkannya kepada Anggie.


Tangan Anggie bergetar ketika membacanya. Air wajahnya sudah mulai memucat.


"Tinggal tunggu tiga kali dua puluh empat jam, kamu dan anakmu akan bertemu dengan pria yang kelak akan menjadi imammu." Anggie menggeleng.


"Jangan lakukan ini, Iyan. Aku mohon." Anggie sudah benar-benar mengiba.

__ADS_1


"Bukankah makmum akan mengikuti ke mana saja langkah kaki imamnya pergi." Iyan mengulang ucapan yang tadi Anggie katakan padanya.


"Selamat bergabung dengan imammu."


Iyan beranjak dari duduknya dan membawa Beeya meninggalkan Anggie di sana. Tak mereka sangka, kini Anggie memeluk kaki Beeya dengan Isak tangis yang cukup keras.


"Maafkan aku, Bee."


Langkah Beeya pun terhenti. Dia tersenyum tipis ke arah Anggie. Dramanya sangat bagus sekali. Seperti di film-film, orang teraniaya meminta ampunan kepada orang angkuh.


"Bangunlah!" Beeya bersuara datar.


Iyan sedikit terkejut dan menatap ke arah Beeya dengan raut cemas. Seulas senyum Beeya berikan juga tangannya mengusap lembut punggung tangan Iyan.


Anggie pun akhirnya bangun dari posisi bersimpuhnya. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan Beeya. Mengapa wajah Beeya dengan air mata yang sudah menganak.


"Apa dengan sebuah kata maaf, bisa mengembalikkan hatiku yang sudah hancur berkeping-keping?" tanyanya dengan wajah yang sangat datar dan dingin.


"Apa mampu menyembuhkan rasa sakit hatiku karena sebuah pengkhianatan yang kalian lakukan?" lanjutnya lagi.


"Dan apa mampu membuat aku melupakan kejahatan apa saja yang kalian lakukan kepadaku?" tambahnya.


Iyan mencoba menenangkan Beeya dengan cara memeluk tubuh Beeya dari samping. Namun, sepertinya Beeya memang tengah berusaha meluapkan segala rasa yang dia simpan seorang diri selama ini.


"Kamu wanita, aku juga wanita. Bukankah wanita diciptakan dengan hati yang lembut. Bukan dengan hati yang keras seperti batu," cibir Beeya. Pandangannya masih sangat tajam kepada Anggie.


"Kamu tahu dia tidak sendiri, tapi kamu malah menjatuhkan harga diri. Mengangkaangkan kaki demi mendapat sebuah pengakuan. Rela dijadikan simpanan demi mendapatkan kasih sayang." Beeya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya.


"Bukankah sekarang ini kamu menjadi pemenangnya? Aku kalah," ucapnya pada Anggie.


"Seharusnya kamu bahagia, jangan selalu mengeluarkan air mata buaya." Tatapan Beeya semakin nyalang sekarang.


"Berbahagialah dengan pria yang sudah kamu ambil paksa dari aku. Sejatinya orang baik akan dijodohkan dengan orang baik, dan orang jahat akan dijodohkan dengan orang jahat juga. Sama seperti aku yang dipersatukan dengan Iyan, dan kami disatukan dengan pria yang ada di dalam jeruji besi." Senyum mengejek pun terukir di wajah mungil Beeya.


"Selamat berbahagia di dalam jeruji besi sana," cibirnya lagi. "Kalian akan menjadi pasangan yang paling romantis sejagad sel penjara."


Inilah Beeya yang sesungguhnya. Menghadapi apapun tanpa emosi, mulut pedasnya yang akan membuat para lawan tak berkutik. Menjatuhkan lawan hanya dengan sekali berbicara. Bayangkan, berapa banyak kalimat yang Beeya lontarkan kepada Anggie. Sudah pasti Anggie mendapat tekanan mental karena ucapan Beeya semuanya benar.


"Kamu ingin memiliki Iyan?" Tatapan remeh Beeya berikan. "Sayangnya, dia tidak akan bisa dimiliki siapapun, kecuali aku." Beeya melingkarkan tangannya di lengan Iyan.

__ADS_1


Iyan pun tersenyum dan membawa Beeya ke lantai atas di mana ruangannya berada. Tubuh Anggie seketika terkulai lemah tak berdaya. Dia salah mencari lawan. Dia salah dalam mengambil langkah karena terlalu gegabah. Kini, semua orang melihat Anggie bagai sampah yang menjijikan.


Sebenarnya Radit sudah mengubah rencana karena dia mendapat bukti baru, yakni transferan hasil pencurian data ke salah satu nomor rekening. Setelah diusut ternyata Anggie masih menjalin kerja sama dengan Raffa. Ketika bukti sudah ditangan, Radit segera melapor kepada pihak kepolisian. Tugas Iyan hanya menekankan saja ketika bertemu dengan Anggie. Sesuai dengan dugaan Radit, alasan Anggie melakukan itu semua.


Anggie sungguh dipermalukan oleh Iyan juga Beeya. Dia segera pergi dari kafe tersebut dengan wajah yang harus menahan malu.


.


Echa menggelengkan kepalanya ketika melihat ketiga anaknya bagai anak kecil. Duduk di atas airwheel koper yang tengah berjalan ke sana ke mari.


Aleesa menghentikan airwheel kopernya tepat di depan pintu. Terlihat wanita lesu bagai mayat hidup yang sudah menaiki anak tangga teras rumah megah tersebut.


"Masih punya nyali datang ke sini?" Suara Aleesa sudah menggema membuat langkah wanita itu terhenti seketika. Tatapan tajam Aleesa berikan.


"Aku gak punya urusan sama kamu."


Anggie mencoba untuk menerobos masuk, tetapi dengan sengaja Aleesa menabrak tubuh Anggie dengan airwheel yang tengah dia naiki. Hingga tubuh Anggie tersungkur.


"AW!" ringisnya.


"Anak dari hasil hubungan gelap itu biasanya akan kuat di dalam kandungan." Ucapan Aleesa seperti menyentil keras Anggie.


Brugh!


Sebuah koper Aleeya lempar tepat di depan Anggie yang tengah tersungkur.


"Mohon maaf, ini bukan panti sosial. Jadi, silahkan pergi dari rumah ini."


...Anggie benar-benar tersentak dengan ucapan Aleeya. Benar-benar menusuk hatinya. Sedangkan Aleena hanya anteng duduk di atas airwheel miliknya sambil menatap datar ke arahnya....


Tak lama, Echa datang dan Anggie sudah memasang wajah menyedihkan.


"Kak," panggilnya dengan sangat lirih.


Echa tersenyum dan mendekat ke arah Anggie. Anggie merasa dirinya akan dilindungi oleh Echa.


"Silahkan pergi, atau mau saya seret sampai depan gerbang depan."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2