Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
160. Turunan (Rion Juanda)


__ADS_3

Tak tahan melihat Iyan seperti itu, Beeya mencoba l walaupun air matanya tak kunjung reda. Tubuh calon suaminya masih bergetar hebat. Isak tangis pun masih terdengar cukup keras. Betapa perihnya hati Beeya. Kesedihan Iyan kali ini lebih dari kesedihan yang lalu.


Selangkah demi selangkah kaki itu membawa ke arah tubuh pemuda yang sebentar lagi menjadi suaminya. Lima langkah lagi, kakinya terhenti. Apalagi terdengar Iyan yang bersenandung lirih.


🎶


Aku hanya memanggilmu, Ayah


Di saat ku kehilangan arah


Aku hanya mengingatmu, Ayah


Jika aku tlah jauh darimu


"Kenapa air mata Iyan tak pernah surut, Ayah? Kenapa Iyan masih tidak ikhlas Ayah pergi. Kenapa, Ayah?"


Hati Beeya semakin sakit mendengarnya. Dia melanjutkan langkahnya dan memakaikan mantel yang dia bawa pada punggung Iyan. Kemudian, memeluknya dari belakang. Sontak pemuda itu


terdiam. Namun, dia familiar dengan aroma tubuh wanita itu.


"Menangislah untuk malam ini, tapi tidak untuk di pernikahan kita nanti."


Kepala Iyan semakin menunduk dalam. Tubunya pun semakin bergetar. Isakan teramat lirih keluar dari mulut Iyan untuk kesekian kalinya. Beeya pun ikut merasakan kesedihan yang tengah melanda calon suaminya ini.


Sedangkan Arya, tubuhnya semakin bergetar. Dia bagai anak kecil sekarang. Pelukan dari istrinya tak mampu membuat dadanya lega. Rerumputan hijau yang ada di tempat ini seakan membawa banyak duka. Kedua orang tuanya tinggal abadi di sana begitu juga dengan sahabatnya. Dia sangat membenci tempat itu, tapi tempat itu juga yang menjadi pengobat rindu untuknya.


"Kenapa lu harus jodohin anak gua sama anak lu kalau pada nyatanya lu pergi lebih dulu?"


Beby sangat merasakan betapa berartinya Rion di hati suaminya. Ditinggal kedua orang tuanya tak lantas membuat Arya seperti ini. Beda halnya dengan ditinggal sang sahabat. Dia bagai kehilangan separuh jiwanya.


Iyan terus menangis dan Beeya masih setia memeluk tubuh calon suaminya. Beeya sangat merasakan betapa tulusnya Iyan menyayangi ayahnya. Dia juga masih belum ikhlas atas kepergian ayahnya yang secara mendadak.


"Tumpahkanlah air mata kamu, Ayang. Habiskan air matamu untuk pagi ini agar esok dan seterusnya kamu hanya bisa menangis karena bahagia, bukan karena sebuah duka yang menyesakkan dada."


Sudah jam lima pagi, Iyan dan Beeya masih betah berada di samping pusara Rion Juanda. Beeya sudah melingkarkan tangannya di pinggang Iyan begitu juga dengan Iyan yang merangkulkan lengannya di pundak sang calon istri.


"Ayah, jodoh pilihan ayah memang tepat. Wanita mana yang akan mau menemani Iyan yang seperti orang gila di pemakaman." Beeya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Iyan. Dia mendongak menatap wajah Iyan yang sudah sembab.

__ADS_1


"Kamu aja bisa menerima kekurangan aku. Kenapa aku tidak bisa menerima kekurangan kamu?" Iyan membalas tatapan hangat Beeya. Ada lengkungan senyum yang terukir di wajahnya. Iyan mengecup kening Beeya dengan sangat mesra dan penuh cinta.


"I love you, Chagiya."


Arya masih tersambung dalam video call bersama kedua kakak Iyan. Air mata mereka berdua masih saja menetes dengan begitu deras.


"Kita belum bisa merelakan sepenuhnya kepergiannya. Terlalu sakit jika teringat kenangan manis bersama dia," lirih Arya. .


Echa maupun Riana tidak bisa menjawab. Mulut mereka terkatup rapat. Hanya derai air mata yang menjadi ungkapan hati mereka sesungguhnya.


"Om, apa kita harus ke sana?" tanya Radit. Dia tidak tega melihat istri dan adiknya terus menangis.


"Biarkan Iyan tenang dulu. Ketika dia puas mengungkapkan apa yang ada di hatinya, dia pasti pulang. Ada Beeya di sana, dan Om juga akan terus berada di sini sampai Iyan beranjak."


Radit hanya dapat patuh kepada pria yang seumuran dengan mertuanya itu. Dia mencoba menenangkan istrinya. Begitu juga dengan Aksa yang sudah memeluk tubuh Riana.


Ketika matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Beeya dan Iyan masih betah berada di samping pusara. Masih asyik duduk dengan kepala Beeya yang bersandar di pundak Iyan.


"Ayah, tolong usir anak Ayah ini. Bee ngantuk." Iyan malah tertawa dan mencium pipi Beeya dengan begitu gemas.


"Ya udah, kita pulang." Iyan mengusap lembut rambut Beeya.


"Ayah, makasih sudah mendengar cerita si anak cengeng ini." Iyan tersenyum kecut.


"Makasih sudah menemani Iyan malam ini. Makasih juga sudah datang ke dalam mimpi Iyan. Sering-seringlah datang ke dalam mimpi Iyan. Selamanya Iyan akan selalu merindukan Ayah."


Hati Beeya terasa amat perih mendengar ucapan Iyan. Tangannya semakin erat melingkar di pinggang Iyan.


"I'm okay." Begitulah yang Iyan katakan.


"Okay-nya kamu itu gak okay." Iyan malah terbahak. Dia mencubit gemas pipi Beeya.


Iyan terkejut ketika dia membalikkan tubuhnya. Ada kedua orang tua Beeya di belakangnya. Dia menatap ke arah Beeya dengan penuh tanya.


"Bukan hanya aku yang khawatir karena kamu menghilang di tengah malam. Papah dan Mamah aku juga cemas. Apalagi kedua kakak kamu."


"Kakak," lirih Iyan. Perasaan bersalah menjalar di hatinya sekarang.

__ADS_1


"Makanya kita pulang," rengek Beeya. Iyan pun mengangguk.


"Maafkan Iyan, Pah," ucap Iyan ketika sudah berada di hadapan Arya.


"Gak apa-apa. Papah ngerti kok."


Mereka semua pun menuju Jakarta. Beeya sebenarnya ingin memejamkan mata. Namun, dia takut Iyan mengantuk dan malah mencelakai dirinya. Banyak kejadian buruk sebelum menikah.


"Kalau ngantuk mah tidur aja," ujar Iyan yang masih fokus di jalanan.


"Aku gak mau, takut tidurnya kebablasan. Tau-tau udah ada di dalam kuburan." Sungutan Beeya mengundang gelak tawa tak terkira. Sungguh Iyan sangat terhibur.


Jam sembilan pagi mereka baru tiba di kediaman Echa. Iyan terkejut ketika melihat Echa dan Riana tertidur di sofa.


"Mbak Echa dan Mbak Riana semalaman gak tidur nunggu Mas pulang." Rasa bersalah menjalar di hati Iyan mendengar ucapan asisten rumah tangga kakaknya.


Iyan segera menghampiri kedua kakaknya. Memanggilnya dengan teramat pelan. Mata kedua kakaknya pun mengerjap. Seketika mereka memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Mereka menangis dan membuat Iyan tak bisa menahan laju air matanya.


"Kakak khawatir, Yan. Kakak takut terjadi apa-apa dengan kamu." Echa sudah memeluk erat tubuh Iyan.


"Jangan buat kita cemas, Yan. Kamu adalah amanat Ayah yang harus kami jaga." Riana menambahkan. Dia ikut memeluk tubuh adiknya.


"Atuhlah ... Bee ngantuk. Malah kaya telutubbies begitu." Keharuan pun menguar seketika. Apalagi Beeya sudah menarik tangan Iyan hingga dia terjengkang.


Ingin rasanya Echa mencekik anak dari sahabat ayahnya ini. Sungguh pengganggu.


"Bokongku," keluh Iyan yang merasakan bikongnya ngilu. "Aduh, gak bisa malam pertama ini mah."


Plak!


Kedua kakaknya kompak memukul bokong Iyan yang baru saja diangkat dari lantai.


"Dasar turunan Rion Juanda!".


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2