
Melihat Ghea yang sangat menikmati makanan membuat Iyan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Beeya. Iyan meraih punggung tangan Beeya yang berada di atas meja. Dia menatap ke arah sang kekasih yang sudah berwajah serius.
"Maafin aku perihal yang tadi."
Beeya menghela napas berat. Dia juga mamandangi wajah Iyan. "Pulang dari sini, kita ke psikiater dulu. Jadwal aku ketemu psikolog."
Iyan hanya mengangguk pelan. Ternyata kekasihnya ini masih marah. Beeya seperti memiliki dua kepribadian saat ini. Jika, menyangkut mereka bertiga dia biasa saja. Namun, jika sudah membahas Anggie dia akan menjadi wanita dingin.
Suasana di meja itupun terasa hening. Beeya dan Iyan pun tak membuka suara sedikit pun. Ghea yang sangat peka malah menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Anak itu tak mau memperdulikan urusan orang dewasa. Biarkan saja mereka berdua bertengkar.
Setelah selesai makan, Iyan mengajak Beeya juga Ghea ke kedai kopi. Dia ingin memesan es kopi lagi. Mood Beeya sedang kacau membuat Iyan masih terdiam.
"Om, Adek pengen yang matcha." Iyan tersenyum dan mengusap lembut ujung rambut Ghea.
Dia masih menggenggam tangan Beeya yang sedari tadi masih terdiam.
"Kamu mau gak?" tanya Iyan kepada kekasihnya. Beeya tidak menjawab membuat Iyan menghela napas kasar.
__ADS_1
Namun, dia tetap memesan apa yang menjadi kesukaan sang kekasih. Mau diminum atau tidak itu tidak akan menjadi masalah untuknya.
"Mampir dulu ke tempat temannya Tante, ya." Anak itupun mengangguk tanpa menolak. Iyan sudah membukakan pintu untuk kekasihnya juga sang keponakan.
Untungnya dia sering mendengarkan curhatan para bapack-bapack yang sering mengeluh dengan sikap istri mereka yang kadang kala berubah-ubah. Sekarang Iyan merasakannya juga.
Tiba sudah Iyan ke tempat di mana Beeya bertemu dengan psikolognya. Dia juga Ghea ikut masuk ke dalam, tetapi hanya diperbolehkan menunggu di ruang tunggu tamu.
Ghea terus bergelayut manja kepada sang om dan Iyan mengusap lembut rambut sang keponakan. Beeya sudah masuk dan berbincang dengan Kirani. Psikolog yang menanganinya.
Beeya menceritakan semua yang dia rasakan hari ini. Terutama bertemu dengan Anggie yang membuatnya menjadi berubah. Lebih emosi juga marahnya tak terkendali.
"Ketika Iyan meminta maaf, aku malah semakin kesal. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita itu. Aku tidak mau."
Kirani hanya tersenyum, ternyata trauma Beeya belum sepenuhnya menghilang. Trauma itu kini menimbulkan dendam kepada semua orang yang sudah menyakitinya.
"Kamu marah kepada Iyan?" tanya Kirani. "Padahal dia juga tidak nyaman dengan perlakuan wanita tadi," paparnya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak marah kepada Iyan, tapi aku tidak suka kepada perempuan itu. Jika, menyangkut perempuan itu aku akan membenci siapa saja yang dekat dengannya."
Beeya sungguh menggebu-gebu mengatakan itu semua. Lagi-lagi Kirani tersenyum. Psikolog itu menyingkap gorden yang ada di ruangan tersebut yang mengarah pada ruang tunggu.
"Kekasihmu adalah pria yang benar-benar tulus menyayangi kamu, Bee. Terlihat dari raut wajahnya saja dia memiliki beban yang sangat besar. Ditambah dia harus menghadapi kamu. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Selalu mengalah agar bisa buat kamu bahagia."
Ucapan Kirani seperti menyentil hatinya saat ini. Dia menatap nanar ke arah Iyan yang tengah mengusap lembut rambut Ghea yang tertidur di pangkuannya. Sedangkan tubuhnya bersandar di sofa dengan mata yang ingin terpejam.
"Kamu boleh marah, tapi jangan sampai kamu mengecewakan dia. Orang seperti Iyan jika sudah kecewa sulit untuk percaya lagi."
Beeya pun memandang wajah Kirani dengan begitu dalam. Hanya seulas senyum yang Kirani berikan.
"Minta maaflah."
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1