Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
169. Akhirnya ....


__ADS_3

"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Rian Dwiputra Juanda bin Rion Juanda dengan putri kandung saya, Abeeya Bhaskara binti Arya Bhaskara dengan mas kawin emas murni seberat seribu gram, uang tunai sebesar tujuh ratus lima belas ribu USD, dan rumah seharga empat ratus ribu USD dibayar TUNAI!"


Jantung para keluarga Iyan sudah berdegup tak karuan. Om Uwo yang memakai batik Solo ikut tegang. Sama halnya dengan ibu yang menggunakan dress batik khas Solo merasakan tubuhnya gemetar. Jojo, sedari tadi tangannya sudah dingin, dan Dev terus merapalkan doa agar kakaknya itu lancar dalam menjawab kabul.


Dua hantu bungkus yang bajunya disablon seperti batik yang dikenakan Om Uwo, ibu, Dev dan Jojo ikut tegang. Pandangan mereka tertuju pada Iyan yang masih diam ketika dijabat oleh Arya.


Di ruang make up perempuan, Beeya sudah memegang dadanya sedari ayahnya mengucapkan ijab. Apalagi dia menyaksikan ayahnya dan calon suaminya menangis. Ketakutannya sudah menjalar ke mana-mana. Si triplets sudah memeluk tubuh calon Tante mereka.


"Ayang, kamu pasti bisa," gumam Beeya.


Iyan pun merasa masih melayang ketika Arya menghentakkan jabatan tangannya. Dia menatap wajah Arya dengan raut sedikit ragu.


"Yan, ucapkanlah dengan lantang dan dengan satu tarikan napas. Ayah ada di sini, Yan. Putra Ayah hebat. Putra Ayah kuat. Jawablah, Nak."


"Saya terima nikah dan kawinnya Abeeya Bhaskara binti Arya Bhaskara dengan mas kawin tersebut TUNAI!"


Begitu lantangnya Iyan menjawab ijab itu. Dia sendiri tidak menyangka. Ucapan sang ayah mampu membuat dirinya menjadi seperti ini. Dia menatap ke arah Giondra dan ayahnya lah yang tersenyum di sana. Iyan ikut tersenyum dengan hati yang lega.


"Sah?" tanya pak penghulu.


Giondra yang berlaku sebagai saksi mengatakan sah dan membuat beban di dada Iyan hancur seketika.

__ADS_1


"Alhamdulillah."


Echa dan Riana sudah menitikan air mata. Mereka berdua merasa terharu sekaligus bahagia. Akhirnya adik mereka bisa melalui semuanya walaupun tanpa ayah. Letih dan sedih yang hampir sebulan mereka rasakan tebayar sudah. Adiknya sudah menikah.


Iyan, dia menatap kembali ke arah Giondra dan wajah ayahnya lah yang dia lihat. Senyum mengembang menandakan mendiang ayahnya bahagia sekali. Air mata Iyan menetes dengan begitu derasnya. Rasa sesak juga bahagia bercampur jadi satu. Begitu juga dengan Arya yang sudah menitikan air mata.


"Gua berhasil, Bro. gua berhasil."


Iyan meninggalkan meja ijab dan berhambur memeluk tubuh kakaknya. Anak itu seakan ingin kedua kakaknya melihat apa yang dia lihat. Dia tahu Echa maupun Riana sangat merindukan sosok itu.


"Pegang tangan Iyan, Kak. Pegang." Echa dan Riana pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Iyan. Tubuh mereka berdua menegang ketika melihat Giondra.


"A-ayah!" Bulir bening meluncur dengan begitu deras. Mereka benar-benar menangis dengan cukup keras. Mereka berdua bisa melihat ayahnya.


Echa dan Riana masih menatap ke arah sosok pria yang sudah dua tahun ini mereka rindukan. Menyimpan rasa rindu yang menggebu yang disimpan sendirian.


"Ayah, tugas Echa dan Riana sudah selesai. Echa dan Riana sudah mengantar Iyan menuju pernikahan. Ayah yang tenang ya di sana.Echa dan Riana pasti akan selalu jaga Iyan."


Iyan tak kuat mendengar ucapan dari Echa. Dia benar-benar terharu sekaligus merasa beruntung memiliki kakak seperti Echa dan Riana.


Ketiga anak Rion Juanda tak kuasa menahan tangis yang menunjukkan kerrinduan yang mendalam. Semua orang memaklumi. Siapa yang akan kuat menyaksikan adik yang sudah menjadi anak yatim-piatu di pelaminan tanpa didampingi kedua orang tua.

__ADS_1


Pak penghulu memanggil Iyan untuk kembali duduk di depan meja akad. Iyan pun berjalan menuju meja itu dengan tangan yang mengusap air mata di wajah tampannya.


.


"Sah!"


Di ruang rias para perempuan berteriak gembira ketika kata sah diucapkan. Mereka yang menjadi Bridesmaids pun mengucapkan kalimat syukur.


Beeya langsung menaikkan kain yang di pakai. High heels yang sudah dia gunakan pun dicopot dan dia jinjing. Pengantin itupun malah kabur dan membuat para bridesmaids mengejarnya.


"Kak Bee!"


.


Baru saja Iyan duduk di depan meja akad suara seorang wanita membuat semua orang menoleh ke asal suara. Wanita itu terus berlari ke arah pengantin pria dengan tangan kiri menjinjing heels dan tangan kanan menaikkan kain yang dia gunakan.


"Akhirnya kita sudah sah dan bisa kawin juga, Ayang," teriaknya dengan cukup keras.


"Muach ... muach ... muach!"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2