Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
59. Terkontaminasi


__ADS_3

"Kenapa emangnya, Kak?" tanya balik Beeya. "Mau nyuruh Iyan buat lamar aku, ya."


Mata Iyan melebar mendengar ucapan dari Beeya. Sungguh tidak ada jual mahalnya wanita yang ada di sampingnya. Malah, bisa dikataan dia tengah menantang sang kakak.


Echa berdecak kesal mendengar ucapan Beeya. Ingin sekali dia menjitak kepala Beeya. Sedari kecil sifat menyebalkannya tidak pernah hilang.


"Lumar lamar, emangnya nikah gak kudu pake modal," sungut Echa.


Beeya hanya tertawa. Dia hanya bercanda dan malah dianggap serius oleh dua orang ini.


"Hubungan kita belum lama kok, Kak. Semenjak si cewe yang bernama malaikat, tetapi bertingkah kaya iblis mendekati Iyan," terangnya. Kedua alis Echa menukik. Siapa yang dimaksud oleh Beeya.


"Anggie," ujar Iyan. Echa hanya ber-oh ria mendengar ucapan adiknya.


"Kakak harap kalian pacaran sehat. Jangan sampai macam-macam."


Beeya dan Iyan pun saling tatap. Ucapan kakaknya bagai tamparan keras untuk Iyan.


"Bee," panggil Echa.


Beeya yang tengah menatap Iyan pun menoleh. Kini, tatapan tajam yang Echa berikan.


"Jangan ajarkan Iyan macam-macam."

__ADS_1


Beeya hanya menganga mendengar ucapan dari Echa. Beeya bersugut-sungut di dalam hati.


"Bukannya aku yang ngajarin, tapi malah adiknya sendiri yang seperti sudah sangat ahli."


Sekarang, Beeya yang menatap Iyan dengan tatapan tajam. Namun, Iyan seperti manusia bodoh nan polos. Teramat menyebalkan bagi Beeya.


Setelah selesai diinterogasi, Iyan mengantar Beeya pulang. Namun, perempuan itu tidak mau. Dia ingin ikut ke kafe.


"Udah bilang mama papa?" Beeya pun mengangguk.


Tibanya di kafe, Iyan membawa Beeya ke lantai atas. Tak dia hiraukan ejekan dari arah dapur kafe.


"Kayaknya sebentar lagi sebar surat undangan nih."


"Kenapa?" tanya Beeya. Tangannya sudah mengusap lembut pipi Iyan.


Tak ada jawaban dari Iyan. Dia malah mendekatkan wajahnya ke bibir merah muda milik Beeya. Bukannya menyambut, Beeya malah menjauhkan kepalanya ke belakang dan sontak membuat Iyan mengerang kesal.


"Chagiya," panggilnya dengan wajah kesal. Beeya pun tertawa.


"Kamu ingat 'kan tadi Kak Echa bilang apa?" Iyan menggeleng dengan cepat. Beeya mencebikkan bibirnya, dia tahu Iyan hanya pura-pura lupa.


"Aku mau tanya satu hal sama kamu?" tanya Beeya. Dia menatap serius wajah Iyan.

__ADS_1


"Apa?"


"Dari mana kamu belajar kissing?" Beeya sangat penasaran akan hal itu.


"Kamu 'kan selalu dengan dunia kamu sendiri. Gaul sama yang lain juga enggak. Malah seringnya gaulnya sama setan," lanjutnya.


Iyan tertawa dan mengecup gemas pipi Beeya. Dia mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan aplikasi untuk menonton film. Beeya pun melebarkan mata.


"Gara-gara drama Korea ini yang kamu rekomendasikan kepada aku." Beeya hanya membisu karena drama Korea itu cukup full gar.


"Makanya otak polos aku jadi terkontaminasi." Iyan pun tersenyum. Tangannya sudah menyentuh dagu Beeya. "Apalagi mendapat lawan yang luar biasa, membuat aku tak mau berhenti melakukannya."


Beeya pun kini tersenyum. Dia menatap bibir Iyan yang begitu manis. Wajah Iyan pun mulai mendekat dan disambut oleh Beeya. Sama-sama saling menikmati dan meresapi. Ketika udara dirasa menipis, Beeya dan Iyan menjauhkan wajah mereka berdua.


"Aku akan merindukan hal ini," ucap Beeya dengan mata nanar.


Iyan menarik tangan Beeya ke dalam dekapannya. Air mata mulai menganak di pelupuk mata Beeya. Dia tidak ingin berpisah dengan kekasihnya ini. Dia teringat akan mimpinya semalam.


"Menikahlah dengan putra Ayah."


...****************...


Komen dong ..

__ADS_1


__ADS_2