
Tangan Beeya tak melepaskan rangkulannya pada lengan Iyan. Meletakkan kepalanya di pundak pemuda itu karena bahu Iyan selalu menjadi sandaran ternyaman. Iyan memejamkan mata sejenak merasakan hembusan angin sejuk di pinggiran sawah.
Terdengar suara perut yang kelaparan membuat Iyan membuka matanya dan tersenyum, seraya mengusap lembut kepala Beeya.
"Lapar?" Beeya hanya mendongak menatap wajah pria yang sudah lama tak dia jumpai. Tidak ada jawaban dari mulut Beeya. Sepertinya dia terpana pada wajah tampan laki-laki yang semakin hari semakin tampan dan tambah baik.
Iyan pun tersenyum dan mencubit gemas pipi wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya itu.
"Makan yuk, aku juga lapar." Beeya menggeleng pelan.
"Aku ingin makan mie instan."
Iyan pun tertawa dan semakin gemas kepada wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Namun, sikapnya sangat manja seperti anak remaja.
"Ya udah kita bikin bareng." Iyan beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan ke arah Beeya. Wanita itupun menyambutnya dengan penuh suka cita dan tersenyum bahagia.
"Beeya putriku," lirih Beby. "Putri kita telah kembali, Pah."
Arya hanya bisa tersenyum melihat perubahan Beeya sedikit demi sedikit. Ada kelegaan di hatinya saat ini. Beeya dan Iyan melewati tiga orang dewasa yang tengah memperhatikan mereka.
"Mungkin, Iyan adalah orang yang tepat untuk membuat Beeya terbuka." Arya dan Beby setuju dengan ucapan Arina.
Mereka berdua tengah mencari mie instan di dapur. "Mau rasa apa?"
Beeya yang tengah mencari olahan beku pun terkejut hingga kepalanya menyenggol tutup lemari pendingin bagian atas.
"Aw!"
Iyan segera menghampiri Beeya dan tangannya mengusap lembut kepala Beeya. Ada desiran aneh di hati Beeya ketika tangan itu terus mengusap lembut kepala Beeya.
"Masih sakit?"
Beeya tak menjawab, dia malah maju satu langkah dan melingkarkan tangannya di pinggang Iyan. Justru membuat tubuh Iyan menegang. Lama mereka terdiam dan keluarlah sebuah kalimat yang dilontarkan Beeya. "Hati aku yang terasa sangat sakit."
Pelan, lirih dan menyayat hati. Iyan membalas pelukan Beeya dengan tak kalah erat. "Aku akan menyembuhkan luka kamu."
Iyan tidak mengijinkan Beeya memasak mie. Dialah yang akan memasakkan mie untuk Beeya. Wanita itu cukup menunggu di meja makan.
"Mau minum?" Iyan memutar tubuhnya dan Beeya sudah membawa jus jeruk di tangannya. Beeya menyodorkan gelas yang berisi jus itu ke mulut Iyan. Sontak Iyan meminumnya.
"Udah?" tanya Beeya ketika Iyan memundurkan gelas itu dari bibirnya. Iyan pun mengangguk.
Beeya berjinjit dan tangannya mengusap lembut bibir Iyan karena di atas bibirnya ada sisa jus jeruk. Iyan hanya tersenyum mendapat perhatian dari Beeya.
__ADS_1
Setelah mienya masak, Iyan membawanya ke atas meja makan. Beeya sudah mengambil garpu dan sendok ingin segera menyantapnya.
"Jangan dulu dimakan, masih panas," cegah Iyan. Dia menarik mangkuk yang berisi mie kuah yang asapnya masih mengebul dan meniupinya agar bisa Beeya makan. Tak Beeya sangka ternyata Iyan menyuapinya.
"Aku bisa sendiri," ucap Beeya dengan wajah merona, sambil mengambil mangkuk berisi mie kuah tersebut. Iyan hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut Beeya untuk kesekian kalinya.
"Makan yang banyak, biar gak kaya orang kurang gizi," canda Iyan. Beeya menatap Iyan dengan tatapan kesal dan membuat Iyan tertawa.
Ponsel Iyan berdering dan pandangan Beeya kini tertuju pada benda pipih yang berada di atas meja. Terlihat jelas nama pemanggilnya di sana. Beeya yang tengah bernafsu pun kini mulai hilang selera. Namun, Iyan malah menolak panggilan tersebut membuat Beeya mengerutkan dahi. Suasana mendadak hening. Tangan Beeya pun hanya mengaduk-aduk mie tersebut tanpa memakannya.
Sedari tadi ujung mata Iyan memperhatikan sikap Beeya yang tiba-tiba berubah. Dia pun gemas sendiri dan mulai menarik mangkuk mie yang sedari tadi hanya dimainkan. Beeya pun tersentak.
"Makan! Aku suapin." Iyan mendadak menjadi manusia tegas dan Beeya pun menjadi anak kucing yang manis.
Beeya terus mengunyah makanan yang Iyan suapi. Hingga dia menggelengkan kepala ketika Iyan menyodorkan sendok ke mulutnya lagi.
"Kenyang."
Iyan pun tidak memaksa, dia segera menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Beeya.
"Jangan pikirkan siapa yang meneleponku tadi." Beeya yang tengah meneguk air putih pun terdiam mendengarnya. Iyan bagai cenayang yang bisa membaca kegundahan hatinya.
"Sekarang, prioritas aku itu kamu. Kamu, Abeeya Bhaskara."
Iyan meraih tangan Beeya dan menggenggamnya dengan sangat erat. Beeya pun membeku mendapat perlakuan seperti ini dari Iyan.
Beeya pun menggeleng apalagi Iyan yang sudah membuka mulutnya dengan lebar. Beeya dengan sengaja menyuapi Iyan dengan mie yang banyak hingga Iyan sulit berbicara.
"Jangan banyak-banyak."
"Biar cepat abis." Terlihat, bibir Beeya tersungging dengan cukup tinggi.
Banyak canda tawa yang mereka lakukan berdua di meja makan. Suara renyah mereka terdengar cukup nyaring membuat Arya dan Beby mengintip kedua anak manusia itu.
"Ternyata Iyan adalah obat yang mujarab untuk Beeya." Arya tidak menjawab. Dia hanya merangkul pundak istrinya.
"Bro, makasih banyak udah memiliki anak seperti Iyan. Anak lu mampu membuat anak gua sedikit demi sedikit kembali tersenyum. Kalau lu masih ada di sini, apapun yang lu minta pasti akan gua berikan."
.
Di meja makan yang biasanya hanya keheningan yang tercipta. Kini, sedikit riuh.
"Biar gemuk," ujar Iyan yang terus menambahkan lauk dan sayur ke dalam piring Beeya.
__ADS_1
"Iyan, udah ih!" Beeya terlihat kesal dan Iyan tertawa. "Nanti aku gendut," keluhnya.
"Apa masalahnya kalau kamu gendut?" tanya Iyan yang kini menatap Beeya dengan intens.
"Ntarnya gak laku."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Tangannya menyelipkan rambut Beeya ke belakang telinganya. Tak dia pedulikan ada enam pasang mata yang tengah memperhatikan mereka berdua.
"Jangan pilih lelaki yang mencintai kamu karena ada apanya, tetapi pilihlah lelaki yang mampu mencintai kamu dengan apa adanya. Tidak menuntut kesempurnaan dari kamu, tetapi berusaha menyempurnakan kekurangan kamu."
Buka hanya Beeya yang tersenyum mendengar ucapan dari Iyan. Ketiga orang dewasa itupun ikut merasakan kehangatan atas ucapan yang Iyan lontarkan.
Selesai makan malam, Beeya terus merengek meminta Iyan untuk menemaninya menonton film horor.
"Aku ijin ke Papah dan Mamah dulu, ya." Iyan membenarkan rambut Beeya yang sedikit berantakan. "Gak boleh dua orang berlainan jenis berduaan di dalam kamar, nantinya akan menimbulkan fitnah."
Iyan beranjak dari sofa depan kamar. Sebelumnya dia mengecup ujung kepala Beeya. "Tunggu di sini, ya." Beeya pun mengangguk.
Iyan mencari sosok kedua orang tua Beeya. Ketika sudah melihat mereka, Iyan pun segera menghampiri mereka dengan sopan.
"Mah, Pah."
Kedua orang tua Beeya pun menoleh. Mereka menatap bingung ke arah Iyan. Di sana juga Arina.
"Ada apa, Yan?" tanya Beby.
"Iyan mau temani Kak Bee nonton film horor di kamarnya, boleh?"
Arya dan Beby saling tatap. Mulut Arina yang tak kalah bar-bar dari Arya pun mengeluarkan suara, "Tinggal nonton aja sih, kenapa harus ijin-ijin segala."
"Bukannya begitu, Tante. Iyan gak mau terjadi salah paham kalau Iyan berduaan sama Kak Bee berduaan di kamar. Orang ketiganya 'kan setan."
Arina menggelengkan kepala tak percaya mendengar penuturan dari Iyan. Di zaman sekarang sudah langka laki-laki seperti Iyan ini.
"Iyan hanya nemenin Kak Bee nonton doang kok, Pah. Kalau Papah gak percaya, Papah bisa selalu memantau kami di kamar Kak Bee." Iyan meyakinkan Arya dengan sorot penuh keseriusan.
"Ya, kalau anak Papah diapa-apain sama kamu, tinggal Papah bawa kalian berdua ke penghulu." Arya berbicara dengan begitu santainya.
"Kalau itu Mamah juga setuju," sambar Beby.
"Tante juga pastinya yes," tambah Arina.
"Eh!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...