Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
24. Aku Di Sini


__ADS_3

Arya dan Iyan sudah tiba di Bandara Ngurah Rai Bali. Tidak banyak percakapan antara mereka berdua. Apalagi Arya yang terlihat tengah menyimpan kepedihan yang mendalam. Lebih baik Iyan diam.


Di sana mereka sudah dijemput oleh Arina. Arya segera memeluk tubuh kakaknya itu dan tak kuasa menahan tangis. Dia akan merasa gagal menjadi seorang ayah ketika menginjakkan kaki di Bali.


"Eh, Iyan," sapa Arina dengan lengkungan senyum tulus.


Pemuda itu mencium tangan Arina dengan sopan. Membuat hati Arina menghangat.


"Mending kamu jadi anak Tante aja," kelakar Arina. Iyan hanya tertawa mendengarnya.


Arina membawa Iyan juga Arya ke sebuah rumah minimalis yang berada sedikit jauh dari pantai. Di sana hanya ada hamparan sawah yang indah. Definisi ketenangan yang sesungguhnya.


Mobil pun berhenti, terlihat Beby tengah berada di halaman depan. Menyiram tanaman juga membersihkan rerumputan liar yang mengganggu tanamannya. Sangat asri sekali tempat tinggal ini. Jauh dari kebisingan.


"Mah," panggil Arya.


Beby menoleh dan air matanya meluncur begitu saja ketika melihat suaminya datang.


"Masih sama, Pah."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Arya seraya memeluk tubuh istrinya.


"Luka tak kasat mata itu sulit untuk disembuhkan. Memerlukan waktu lama karena kita tidak tahu bagaimana hari Beeya yang sesungguhnya." Arina menjelaskan itu kepada adik serta adik iparnya.


"Ada hal yang masih belum bisa Beeya ungkapkan kepada kita."


Ucapan Arina membuat hati Iyan sakit pada saat itu juga. Dia ingin segera bertemu dengan Beeya.


Beby mengurai pelukannya dan dia baru tersadar bahwa ada Iyan di sana. "Iyan."


Iyan berhambur memeluk tubuh Beby. Pemuda itu seakan memberikan ketenangan kepada ibu dari Beeya.


"Makasih sudah mau ke sini."


Iyan merasa terharu akan sambutan hangat dari Beby.


"Semoga dengan kehadiran kamu bisa mengembalikan putri Mamah."


Iyan tidak bisa menjawab. Dia hanya memejamkan matanya sejenak. Dia tengah memikirkan separah apa kondisi psikis Beeya.


Beby menyuruh Iyan istirahat dulu karena Beeya tengah berbincang dengan psikiater di dalam kamarnya. Psikiater itupun perempuan karena mereka semua tidak ingin mengambil risiko. Iyan pun mengangguk mengerti.


Direbahkannya tubuh tinggi itu di atas kasur yang cukup nyaman. Matanya menerawang jauh ke atas. Tengah menerka-nerka apa yang sebenarnya telah Raffa lakukan kepada Beeya.


Namun, matanya malah terlelap karena semilir angin yang berhembus sangat sejuk melalui kaca jendela yang terbuka.


.


"Bagaimana?" tanya Arina kepada psikiater yang tak lain adalah sahabatnya.


"Masih sama, mulutnya masih terbungkam."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut mereka bertiga.


"Sepertinya Beeya membutuhkan seseorang yang selalu ada untuknya. Mungkin, sahabatnya."


Kebetulan sekali Arya mengajak Iyan ke sini. Semoga dengan kehadiran Iyan bisa sedikit lebih membuat Beeya tenang.

__ADS_1


Arya segera ke kamar Iyan. Dia akan menyuruh Iyan untuk menemui Beeya, tetapi pemuda itu malah terlelap dengan begitu damainya. Ada ketenangan di hati Arya ketika melihat putra dari sahabatnya baik-baik saja.


"Anak lu tumbuh sangat baik. Berbeda dengan anak gua," lirihnya. Dia seakan tengah mengadu pada sahabatnya yang telah tiada.


Arya menutup pintu kamar Iyan kembali. Dia memilih menuju kamar putrinya yang bersebelahan dengan kamar Iyan.


Hati Arya sakit ketika melihat Beeya duduk di ayunan yang berada di dalam kamar dengan tatapan nanar, nyaris kosong.


"Bee," panggil sang ayah.


Beeya pun menoleh dan dia tersenyum ke arah ayahnya. Namun, kemudian dia menitikan air mata.


"Sangat sakit, Pah." Itulah yang selalu Beeya katakan. "Bee juga takut. Bee takut dia ada di sini."


"Jika, dia ke sini, Papah yang akan membunuhnya dengan tangan Papah sendiri." Arya mendekap erat tubuh Beeya. Hingga tangis putrinya pun reda.


"Istirahat, ya." Beeya pun mengangguk.


Di saat seperti inilah m mengharuskan Arya pura-pura tegar. Padahal hatinya menangis kejar.


.


Iyan baru membuka mata tatkala menjelang sore. Tubuhnya terasa nyaman berada di tempat ini. Dia pun melihat jam di tangannya dan segera mencuci wajah dan membersihkan tubuhnya. Berganti pakaian dengan pakaian santai.


Iyan turun dari lantai dua dan tidak ada siapa-siapa di sana. Matanya terus berkeliling mencari kedua orang tua Beeya juga Tante Arina. Ternyata mereka tengah berada di halaman samping sambil menatap seseorang yang berada di gubuk pinggir sawah tengah duduk sendirian.


"Pah."


Suara Iyan membuat tiga orang dewasa itu menoleh. Mereka tersenyum ke arah Iyan.


"Enak tidurnya?" Iyan hanya tersenyum. Kemudian, dia meminta maaf.


"Ini tempat healing sesungguhnya," balas Iyan. "Kayaknya Iyan bakal betah deh tinggal di sini."


"Tinggallah sesuka hati kamu di sini, Iyan." Ucapan Beby seakan tengah menyiratkan permohonan.


"Di mana Kak Bee?" Pemuda itu sudah sangat ingin bertemu dengan Beeya.


Arya menunjuk ke arah gubuk yang berada tak jauh dari mereka. Terlihat tubuh Beeya yang lebih kurus dari sebelumnya.


"Boleh Iyan ke sana?"


Pemuda itu masih terus bertanya. Padahal, ketiga orang dewasa itu sudah memberikan lampu hijau kepadanya. Iyan pun mengahampiri Beeya dengan langkah lebarnya. Namun, seketika dia menghentikan langkahnya ketika mendengar lagu yang diputar oleh Beeya.


🎶


Perjalanan membawamu


Bertemu denganku, ku bertemu kamu


Sepertimu yang kucari


Konon aku juga s'perti yang kaucari


Kukira kita asam dan garam


Dan kita bertemu di belanga

__ADS_1


Kisah yang ternyata tak seindah itu


Iyan terhenyak, ternyata sedalam itu cinta Beeya untuk Raffa.


🎶


Kukira kita akan bersama


Begitu banyak yang sama


Latarmu dan latarku


Kukira takkan ada kendala


Kukira ini 'kan mudah


Kau-aku jadi kita


Hati Iyan pun sakit mendengar lagu itu. Apalagi punggung Beeya terlihat bergetar.


🎶


Kasih sayangmu membekas


Redam kini sudah pijar istimewa


Entah apa maksud dunia


Tentang ujung cerita,


Kita tak bersama


Semoga rindu ini menghilang


Konon katanya waktu sembuhkan


Akan adakah lagi yang sepertimu?


"Ada." Iyan seolah tengah menjawab lirik lagu tersebut. Tubuh Beeya seketika menegang. Dia mendengar suara seseorang yang sudah lama ini dia rindukan.


Perlahan tubuhnya Beeya balikkan dan pemuda berkulit putih, hidung mancung juga postur tubuh yang tinggi sudah ada di hadapannya.


"Aku ... aku yang akan menggantikan posisi dia di hati kamu." Iyan berkata dengan kesungguhan seraya berjalan mendekat ke arah Beeya. Terlihat mata Beeya sudah menitikan air mata.


Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Terdengar isak tangis yang cukup keras dan menyayat hati.


"Maaf, aku terlambat datang."


Beeya masih bergeming, tangannya masih melingkar di pinggang Iyan dengan begitu erat.


Pelukan itu cukup lama, hingga Iyan mengurai pelukannya. Dia menatap wajah wanita yang tengah hancur dengan sorot mata pilu. Tangannya menghapus jejak air mata di wajah pucat perempuan yang dulu selalu ceria.


"Sekarang aku ada di sini. Akan menemani kamu dan selalu berada di samping kamu. Membahagiakan kamu, semampunya aku."


Bibir yang seolah lupa akan caranya tersenyum, kini melengkung dengan sangat lebar. Ada sorot kebahagiaan yang pupil mata Beeya berikan.


Ketiga orang dewasa yang melihatnya menyeka ujung matanya. Betapa bahagianya mereka melihat Beeya bisa menyunggingkan senyum kembali.

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2