
"Kalau Papah menuntut kamu untuk menikahi putri Papah hari ini juga gimana?" tanya Arya. "Apa kamu bersedia?"
Tubuh Iyan menegang mendengar ucapan dari papahnya Beeya. Dia sedikit bingung dari mana video itu diambil. Dia sama sekali tidak berani menatap ke arah Arya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Arya. Dia sudah melipat kedua tangannya di atas dada. "Apa kamu mau lari dari tanggung jawab?" hardiknya.
Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Arya membuat Iyan mampu menegakkan kepalanya. Dia mulai berani menatap wajah Arya.
"Aku bersedia, Om," sahutnya. "Aku bukan pria yang lari tanggung jawab."
Ucapan Iyan sangatlah tegas dan mampu membuat Arya tersenyum puas.
"Maafin Iyan, Om," sesalnya. "Iyan udah lancang."
Baru kali ini dia mendengar permintaan maaf dari seorang pria yang sudah mencium putrinya karena mau sama mau. Pemuda di depannya pun terlihat sangat serius dengan ucapannya.
"Om tunggu i'tikad baik kamu."
Arya menepuk pundak putra dari sahabatnya. Iyan tercengang dibuatnya. Sedangkan Arya sudah menjauhi Iyan dan menyeka ujung matanya.
"Makasih, udah mendidik anak lu jadi anak yang sangat baik dan bertanggung jawab."
Iyan termenung sejenak setelah Arya pergi. Ayahnya Beeya sudah menuntut pertanggungjawaban. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Iyan bergelut dengan pikirannya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Di kepalanya kini ada dua nama yang bisa diajak kompromi. Dua kakak iparnya.
Sambungan video pun tersambung. Radit dan Aksa terlihat baru saja bangun.
"Bang, apa yang harus aku lakukan?" Wajah Iyan nampak serius dan mampu membuat Aksa juga Radit menukikkan kedua alisnya.
"Emang kamu ngelakuin apaan?" tanya Aksara.
"Jangan bilang kalau kamu udah ngehamilin Beeya. Bisa digantung kamu sama Kakak kamu," omel Radit.
Iyan pun berdecak kesal. Dia menatap nyalang ke arah Radit. Aksara pun sudah menatap tajam ke arah Iyan.
"Jangan macam-macam kamu, Yan!" omel Aksara. "Jangan buat kedua kakak kamu murka!"
Kedua kakak iparnya ini benar-benar menyebalkan. Menyangka hal yang tidak-tidak. Dia saja belum tahu bagaimana caranya membuat bayi.
"Enggak gitu, Bang!" tekan Iyan.
"Terus?" tanya Radit dan Aksara secara bersamaan.
"Aku ke gap ciuman sama Papah."
Pengakuan Iyan membuat Radit dan Aksa tertawa terbahak-bahak. Mereka memegangi perut mereka karena capek tertawa. Ternyata adik iparnya ini sangatlah polos.
"Ya elah begituan doang," ucap Aksa. Dahi Iyan mengkerut. Bisa-bisanya sang kakak ipar kedua berbicara dengan sangat santai seperti itu.
"Ciuman mah biasa kali, Yan. Gak usah takut, ciuman gak bikin hamil kok," tambah Radit.
__ADS_1
Jika, sudah membahas perihal hal yang panas kedua kakak iparnya pasti akan segera tersambung dengan begitu cepat.
"Tapi, Papah menunggu i'tikad baik katanya," terang Iyan. Dia masih menunjukkan wajah takut.
"I'tikad baik bukan berarti melamar, Yan," jelas Radit.
"Sebentar, emang kamu mau serius sama Beeya?" tanya Aksara. Iyan menjawab dengan anggukan.
"Kayaknya Papah udah tahu niat serius kamu. Tinggal bagaimana kamu meyakinkan kedua kakak kamu untuk melamarkan kamu kepada keluarga Beeya," papar Radit.
"Benar tuh kata si Abang," timpal Aksa.
Berbicara dengan sesama pria itu mudah. Apalagi kedua pria tersebut mengetahui penghasilan Iyan sesungguhnya. Sudah layak Iyan meminang seorang wanita. Namun, pemikiran pria dan wanita itu berbeda. Iyan tidak bisa gegabah. Bagaimanapun dia sudah tidak memiliki seorang ayah. Hanya kedua kakaknya yang menjadi tempat restu untuknya.
.
Arya masuk ke dalam kamar khusus untuknya bekerja. Wallpaper laptopnya adalah fotonya bersama sang sahabat, Rion Juanda. Mereka saling merangkul dengan tertawa lepas. Gambar itu diambil tepat seminggu sebelum Rion meninggal.
"Ketika lu pergi, gua baru merasakan betapa sakitnya dipisahkan karena maut. Kesakitan yang gua rasakan melebihi rasa sakit ketika gua ditinggalkan oleh Papih gua."
Arya berbicara sendiri dengan mata yang tertuju pada layar segiempat di depannya.
"Lu adalah saksi kunci jatuh bangunnya gua. Lu selalu ada lebih dari setengah umur gua. Lu udah menjadi orang yang gua prioritaskan melebihi keluarga gua sendiri. Lu adalah kakak yang sesungguhnya bagi gua."
Arya pun menunduk dalam. Air matanya berjatuhan. Ketika Beeya trauma dia mencoba menguatkan hatinya. Dia mencoba untuk tegar. Namun, seringnya dia menangis di dalam ruangannya sendiri. Memeluk foto sang sahabat dan menumpahkan apa yang dia rasakan kepada sebuah figura.
"Lu udah pergi, tapi jiwa lu masih tersimpan di hati gua.
Iyan, nama putranya yang almarhum sebut. Rion seakan berat meninggalakan Iyan sendirian. Walaupun ada kedua kakaknya, tetap saja Iyan tidak akan seleluasa kepada dirinya.
"Bhas, jaga Iyan. Sayangi Iyan, anggap Iyan seperti anak lu sendiri." Kalimat itu yang Rion katakan di dalam mimpinya.
"Hati Iyan penuh luka, hanya putri lu yang bisa menyembuhkan lukanya. Hanya Beeya yang mampu membuat Iyan tertawa dengan lepasnya."
Arya Bhaskara hanya terdiam, mulutnya seakan Kelu. Tubuhnya seperti patung bernapas.
"Gua hanya percaya kepada lu untuk menjaga anak gua. Gua hanya percaya sama Beeya untuk bisa membahagiakan Iyan."
Hanya bulir bening yang dapat Arya teteskan. Dia ingin memeluk tubuh Rion, tetapi dia sama sekali tidak bisa bergerak.
"Titip Iyan ya, Bhas. Arahkan dia karena dia masih sangat muda. Gua percaya, lu akan menjadi ayah mertua yang baik untuknya."
Senyum Rion melengkung dan mimpi itupun harus berakhir. Ketika Arya terbangun, ujung matanya sudah basah menandakan memang dia menangis sungguhan.
Dari mimpi itulah Arya menguji keseriusan Iyan. Di kamar Beeya memang dipasang cctv tanpa sepengetahuan siapapun. Arya sering melihat anaknya juga Iyan melakukan ciuman. Itu sudah menjadi hal biasa untuknya. Dia juga bukan orang tua yang kolot.
Namun, dari mimpi itu tercetus ide. Arya sengaja bersikap sedikit sangar dan Arya benar-benar bangga akan jawaban yang Iyan berikan.
Itulah yang membuatnya sedih dan teringat akan mendiang sahabatnya. Dua tahun berlalu, tetapi Rion masih tetap hidup di hatinya. Juga dia tidak menyangka Rion akan mendidik Iyan dengan sangat luar biasa.
__ADS_1
.
Beeya yang baru saja selesai mengeringkan rambut segera ke kamarnya. Namun, kamarnya sudah rapih dan sang kekasih sudah tidak ada di sana. Dia segera menuju lantai bawah dan hanya ada sang Bu'de yang berada di dapur.
"Tumben kamu udah mandi," ucap sang Bu'de.
"Lihat Iyan gak?" Arina menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari keponakannya.
"Mendadak bucin banget sih," ejek Arina. Beeya hanya tersenyum.
"Bu'de gak pernah melihat kamu seceria ini sebelumnya. Bersama mantan berengsek kamu aja kamu gak seperti ini," terang Arina.
"Gak tahu Bu'de. Mungkin karena Bee sama Iyan udah saling kenal dari kecil jadi gak ada kecanggungan. Baik buruknya kita sudah sama-sama tahu. Lagi pula Iyan tidak menuntut Bee menjadi sempurna. Iyan lebih menyukai Bee apa adanya."
Itulah yang Arina senang dari Iyan. Banyak kekurangan Beeya yang mampu Iyan terima dengan lapang dada. Wajah Iyan pun seperti tak memiliki beban ketika menemani Beeya ke psikiater.
"Bee cari ke halaman samping dulu, ya." Arina pun mengangguk.
Lengkungan senyum terukir di wajah Beeya. Dia melihat sang pacar tengah berdiri menatap hamparan sawah. Dia berlari dan segera memeluk tubuh tinggi Iyan dari belakang.
"Aku cari kamu."
Iyan pun tersenyum. Dia membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan tangan Beeya yang melingkar di pinggangnya. Wajah cantik Beeya membuat hari Iyan semakin bahagia.
"Kamu kenapa?" Ternyata wajah Iyan tidak bisa membohongi Beeya.
"Enggak apa-apa," sahut Iyan seraya mengusap lembut ujung kepala Beeya.
"Pacar," panggil Beeya. Dia meraih tangan Iyan dan menggenggamnya. Menatap manik mata teduh milik sang kekasih.
"Kamu tidak bisa bohong sama aku," ujar Beeya. Terdengar hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Iyan.
"Katakanlah, Iyan. Hubungan itu akan langgeng karena keterbukaan, tidak ada yang saling disembunyikan."
Ucapan Beeya mampu membuat hati Iyan bergetar. Hanya Beeya yang mampu membuat Iyan dapat mengatakan apa yang dia pendam sendirian. Kedua kakaknya pun tidak mampu melakukan itu.
"Chagiya ...." Beeya pun mengangguk. Dia menatap serius wajah Iyan.
"Kalau aku ingin mengajak kamu serius. Apa kamu mau?"
Beeya terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Iyan. Namun, sorot mata Iyan menginginkan jawaban dari bibir berwarna pink tersebut.
"Chagiya," panggil Iyan lagi.
Tangan Beeya pun melingkar di pinggang Iyan. Wajahnya dia benamkan di dada bidang pemuda jangkung tampan itu.
"Apa ada alasan untukku menolak kamu? Sedangkan kamu adalah alasanku untuk bisa sembuh."
...****************...
__ADS_1
Ayolah Komen ....